Prilaku Kekerasan Anak Tidak Terlepas dari Pengaruh Lingkungan

Dosen Sosiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya,
Bagong Suyanto

SURABAYA — Dosen Sosiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Bagong Suyanto menyebutkan, aksi kenakalan anak yang berujung pada  tindak kekerasan terhadap teman sebaya tidak terlepas dari pengaruh lingkungannya, terutama didalam keluarga. 
“Akar permasalahannya adalah lingkungan sosialnya, bagaimana kebiasaan di keluarganya apakah terbiasa dengan kekerasan atau tidak,” tandasnya di Surabaya, Selasa (22/09/2015).
Disebutkan, dalam kasus kenakalan yang berujung kekerasan seperti yang terjadi di Jakarta, tidak dapat serta menyalahkan anak itu sendiri, hal tersebut tidak terlepas dari peran orang tua yang memberikan contoh melalui tindak laku keseharian dan anak bersifat imitatif (pandai meniru atau menyontoh perilaku di lingkungan sosialnya).
“Perilaku orang dewasa harus dijaga agar tidak ditiru oleh anak-anak, apalagi yang bersifat buruk seperti kekerasan,” tegasnya.
Menurutnya, anak harus diberi pendidikan literasi yaitu kemampuan dalam hal memanfaatkan lingkungan sosialnya terutama keluarga dan teman-temannya dalam hal positif.
“Contohnya soal gadget, sekarang anak TK saja sudah bisa main gadget, tetapi harus selalu didampingi oleh orang tua. Media apa saja yang boleh dilihat dan media apa saja yang tidak boleh dilihat. Anak harus diberi penjelasan dan pengertian,” terangnya.
Anak-anak berada di ‘Grey Area’ artinya jika anak diajari tentang hal-hal baik maka bisa menjadi pribadi yang baik nantinya. Tetapi, sebaliknya jika diajari tentang keburukan, maka sikap dan sifat anak tidak bisa dikontrol.
“Anak harus diajari hal-hal baik tetapi tidak boleh ditekan atau dituntut sempurna. Karena semua tidak ada yang sempurna, biarkan mereka berkembang sesuai usianya,” ujarnya.
SELASA, 22 September 2015
Jurnalis       : Charolin Pebrianti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...