Punya Hak yang Sama dalam UU, Namun Nasib Anak Jalanan Terabaikan

Adista Pattisahusiwa
JAKARTA — Semua anak memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang, termasuk anak jalanan, Mereka harus kita pikirkan, kita fasilitasi, kita bantu agar kelak meneruskan kepemimpinan bangsa NKRI tercinta ini. 
Definisi yang paling sering digunakan mengidentifikasi anak jalanan yakni Seseorang yang berumur dibawah 18 tahun yang menghabiskan sebagian bahkan seluruh waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan dengan berbagai cara guna mendapatkan uang atau mempertahankan hidupnya. 
Jalanan yang dimaksud tidak hanya mengacu pada pengertian “jalan” secara harfiah, melainkan juga merujuk pada tempat-tempat lain yang merupakan ruang-ruang publik yang memungkinkan siapa saja untuk berlalu-lalang, seperti Pasar, Mall, emperan pertokoan, terminal, stasiun, dan lain lain Lain.
Melalui beberapa UU yang menyangkut tentang anak-anak terlantar. Pasal 34 UUD 45 menyebutkan “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”. Dalam konteks ini  ada dua hal penting yang perlu dicermati yaitu siapakah yang dimaksud dengan ‘anak terlantar’ dan apa maksud dan bagaimana mekanisme ‘pemeliharaan’ oleh Negara.
Istilah ‘Anak terlantar’ yang digunakan para Bapak Bangsa kita lebih dari setengah abad yang lalu itu telah didefinisikan pemerintah melalui pasal 1 ayat 7 UU No. 4 tahun 1979 tentang kesejahteraan anak.
Di sana disebutkan bahwa anak terlantar adalah anak yang karena suatu sebab orang tuanya melalaikan kewajibannya sehingga kebutuhan anak tidak dapat terpenuhi dengan wajar baik secara rohani, jasmani maupun sosial.
Selanjutnya pada pasal 4 ayat 1 disebutkan bahwa: Anak yang tidak mempunyai orang tua berhak memperoleh asuhan negara atau orang atau badan.
Begitu juga dengan pasal 5 ayat 1 disebutkan bahwa: Anak yang tidak mampu berhak memperoleh bantuan agar dalam lingkungan keluarganya dapat tumbuh dan berkembang secara wajar.
UU. No 4 /1997 tersebut secara eksplisit juga menyoroti tanggung jawab orang tua dalam hal pengasuhan anak. Pasal 9 menebutkan bahwa “Orang tua adalah yang pertama-tama bertanggungjawab atas terwujudnya kesejahteraan anak baik secara rohani, jasmani maupun sosial”. Pernyataan itu diperkuat dengan bunyi pasal 10 ayat 1: “orang tua yang terbukti melalaikan tanggungjawabnya sebagai mana termaktub dalam pasal 9 sehingga mengakibatkan timbulnya hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, dapat dicabut kuasa asuhnya sebagai orang tua terhadap anaknya”.
Dari beberapa konsep UU di tersebut, dapat disimpulkan bahwa anak jalan termasuk dalam katagori “anak terlantar” atau “anak tidak mampu” itu selayaknya mendapat pengasuhan dari negara. Sebagian besar anak jalanan memang merupakan korban dari penelantaran orang tua. 
Fakta menunjukkan bahwa anak jalanan di berbagai tempat telah banyak kehilangan hak mereka sebagai anak. “Hak sipil” atau “hak sebagai warga negara untuk memperoleh perlindungan negara atas keselamatan dan kepemilikan”, adalah yang pertama yang terenggut dari kehidupan anak jalanan. 
Banyak kasus yang menunjukkan bahwa anak-anak jalanan seringkali tidak di anggap sebagai warga negara. 
Mereka dilarang untuk bertempat tinggal di suatu tempat, atau bahkan diusir oleh aparat pemerintah hanya karena mereka tidak memiliki KTP, padahal hak asasi manusia tidak boleh diabaikan hanya karena status kependudukan seseorang. Lagian  peraturan tentang KTP hanya boleh dikenakan pada orang dewasa, bukan anak-anak. 
Dengan diabaikannya Hak-hak sipil, akibatnya anak-anak jalanan otomatis juga akan kehilangan hak-hak sosial yang semestinya menjamin mereka untuk menikmati standar kehidupan yang lebih layak.
Seorang anak jalanan yang tertidur di sebuah jembatan penyeberangan
Fadli (15 Th) Mengaku dirinya tidak menyukai hidup di jalanan seperti ini, Dia lebih suka bermain dengan teman temannya.
“Aku tak suka seperti ini mas, Aku lebih suka bermain-main bersama-sama teman sebayaku, atau pergi ke sekolah beramai-ramai seperti yang di lakukan anak-anak lain seumurku.” Ujar Fadli kepada Cendana News Saat ditemui di jembatan penyeberangan Halte Busway, Salemba UI, Jakarta Pusat, Sabtu (12/09/2015).
Tak terhitung berapa kali semburan asap knalpot panas dari motor yang sedang berhenti di lampu merah itu mengenai wajahnya. Hingga membuat dirinya makin hari semakin coreng moreng wajahnya yang sudah menghitam legam karena cahaya matahari yang selalu membakar tubuhnya.
“Aku tak mengerti kenapa orang tuaku menyuruhku turun ke jalan dan menapaki hidup setiap hari gini.” ucapnya .
Pantauan Cendana News di Lokasi, Banyak orang menatap bocah dengan iba, namun hanya sebatas itu, Mereka lantas pergi begitu saja dan mengabaikannya.Tapi ada juga beberapa orang yang berbaik hati menghampirinya, tersenyum tipis sembari memberi recehan bahkan lembaran ribuan kepadanya.
Dia tak mengerti bagaimana caranya supaya bisa seperti anak-anak lain yang tubuhnya bersih dan terawat, berjalan bergandengan tangan bersama ayah dan ibunya dengan penuh canda tawa dan kebahagiaan.
Disinggung mengenai orang tuanya, Fadli langsung menjawab dengan polos.
“Aku melihat wajah ibuku, hanya malam hari. Ibuku  pun sudah tertidur. Mungkin dia juga lelah.Aku tak pernah mengenal dan mengerti arti kasih sayang,” ungkapnya
Diketahui, Tercatat, jumlah kelahiran 4,8 juta bayi tahun 2015, diperkirakan jumlah penduduk Indonesia bertambah menjadi 237 juta jiwa. Menurut data Kementerian Sosial, 17 persen dari jumlah anak-anak Indonesia berpotensi menjadi anak jalanan. Data Dinas Sosial di provinsi DKI Jakarta saja saat ini terdapat 7.300 anak jalanan. 
Keadaan ekonomi keluarga kurang baik menyebabkan anak rentan berbagai masalah seperti pelecehan, kekerasan, penyalahgunaan obat-obatan dan berbagai masalah sosial lain.

SABTU, 12 September 2015
Penulis       : Adista Pattisahusiwa
Foto            : Adista Pattisahusiwa
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...