Saluran Irigasi Rusak, Air untuk Pengairan Terbuang Percuma

Kerusakan saluran irigasi
LAMPUNG — Kondisi musim kemarau yang membawa dampak kesulitan air bagi ribuan petani di Lampung Selatan Provinsi Lampung masih berlangsung hingga sekarang. Namun di beberapa wilayah termasuk wilayah Desa Klaten Kecamatan Penengahan Lampung Selatan ini masih bisa menikmati pasokan air dari Way Asahan. Sungai yang berasal dari lereng Gunung Rajabasa tersebut bahkan masih mampu mengairi hektaran sawah yang dimiliki warga setempat. Beberapa petani memanfaatkannya untuk mengairi lahan persawahan dan kebun jagung.
Kondisi air yang cukup baik mengalir tersebut tak didukung dengan baiknya sistem irigasi yang terkesan dibangun asal asalan oleh instansi terkait. Selain akibat dimakan usia konstruksi pembuatan saluran irigasi tersebut kuat dugaan menjadi penyebab cepat rusaknya saluran irigasi tersebut. Bahkan kondisi saluran irigasi yang dibangun sudah retak di beberapa bagian mengakibatkan air terbuang mubazir tidak mengalir ke lahan pertanian. Kondisi tersebut diakui oleh Mispan (35) salah satu petani yang menggarap lahan jagung di dekat saluran irigasi.
“Faktor usia bangunan irigasi salah satu penyebabnya tapi jika dilihat memang banyak yang sudah rusak, berlubang dan bahkan hancur dan ambrol di beberapa bagian saluran irigasi ini,”ungkap Mispan kepada Cendana News, Jumat (25/9/2015).
Menurut Mispan, adanya saluran irigasi justru menyulitkan petani yang memiliki sawah atau ladang di dekat saluran tersebut berbeda dengan sebelum dibuat saluran irigasi dari semen dan batu. Sebelum ada saluran irigasi dibuat secara permanen, petani leluasa membuat saluran air di bagian yang bisa dijebol namun sejak dibuat saluran irigasi, air justru terbuang bukan ke lahan pertanian yang membutuhkan air.
“Kalau dulu dari saluran air ini bisa dibendung, dibedah di bagian yang bisa disalurkan ke kebun atau sawah tapi karena sudah dibangun dengan semen justru susah untuk menjebolnya,”ujar Mispan.
Kondisi saat ini bahkan air meluber melalui celah celah saluran irigasi yang retak, ambrol dan masuk ke jalanan. Akibatnya jalanan beraspal yang dibangun belum lama ini pun ikut tergerus air dan rusak di beberapa bagian karena menjadi jalan air.
Sementara itu salah satu petani lain yang tergabung dalam Kelompok Tani Mandiri, Yaspan (45) mengaku kerusakan saluran irigasi tersebut sudah berlangsung hampir dua tahun ini. Upaya perbaikan pun dilakukan secara manual oleh petani yang memerlukan air sementara untuk perbaikan secara menyeluruh masih sedang dilaporkan ke instansi terkait dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum bagian pengairan.
Ia berharap pada musim tanam selanjutnya kondisi saluran irigasi yang rusak di beberapa bagian bisa diperbaiki. Meskipun tidak bisa diperbaiki secara keseluruhan namun perbaikan diutamakan pada bagian yang rusak dan mengakibatkan air terbuang percuma di jalan.
“Kami hanya mengkuatirkan jika tak segera diperbaiki air yang seharusnya untuk pengairan bagi petani terbuang mubazir dan parahnya bisa membuat rusak jalan penghubung antar kecamatan dan desa ini dan ini perlu segera direnovasi,”ungkap Yaspan.
Pantauan Cendana News, jalanan beraspal sebagian mengelupas oleh gerusan air. Sementara bagian lain badan jalan justru menjadi jalur air yang keluar dari saluran irigasi yang rusak meskipun di kanan dan kiri bahu jalan terdapat beberapa area perkebunan dan persawahan warga. Saluran irigasi sepanjang kurang lebih 300 meter lebih tersebut sebagian batu penyangga pondasi bahkan ada yang sudah ambrol dan roboh.
Beberapa retakan pada saluran irigasi

Seorang pengendara sedang melewati jalan yang rusak akibat tergerus air
JUMAT, 25 September 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...