hut

Samadi Produksi Batok Kelapa dan Kerajinan Lain Bernilai Ekspor

LAMPUNG — Sebuah bangunan sederhana dengan atap asbes berdiri di belakang rumah utama dengan tumpukan karung dan potongan potongan bambu serta batok kelapa. Beberapa alat listrik terlihat berada di bangunan tersebut lengkap dengan hasil dari pekerjaan yang menggunakan alat yang berada di bangunan memanjang tersebut.
Bangunan tersebut merupakan tempat workshop (ruang kerja) yang digunakan oleh laki laki bernama Samadi (44) bersama sang isteri Tri Handayani (32) dan sang adik Yanto (35) yang membantu usaha kerajinan berbagai jenis bahan, diantaranya dari bahan batok kelapa,kayu, serta kerajinan lain termasuk makanan tradisional yang dikerjakan oleh kaum perempuan.
Usaha yang dikerjakan oleh Samadi diawali sejak tahun tahun 2011 dengan bermodalkan sekitar Rp.10 juta yang digunakan untuk membeli bahan baku, alat kerja, upah pekerja serta biaya operasional. Pada tahap awal tersebut ungkap Samadi diawali dengan mengerjakan potongan batok kelapa yang merupakan pesanan pabrik di Surabaya untuk diekspor.
“Kami mengerjakan pesanan untuk membuat potongan batok kelapa yang dipergunakan untuk bahan baku pembuatan mozaik maupun plafon yang dipergunakan untuk rumah rumah mewah di negara Perancis dan Brazil,”ungkap Samadi saat ditemui di rumahnya Selasa (1/9/2015)
Lokasi rumah sekaligus menjadi galeri serta workhshop usaha kerajinan miliknya dinamakan Paguyuban Krajan yang berada di Dusun Krajan Kecamatan Sidomulyo Lampung Selatan.
Berbekal keterampilan awal yang diperolehnya dari usaha sejenis di Pulau Jawa ditambah banyaknya peluang bahan baku yang selama ini masih menjadi limbah, ia dan sang adik Yanto akhirnya mulai mengajari warga di lingkungan sekitar sehingga puluhan warga akhirnya bisa ikut membuat kerajinan berbahan baku limbah pengolahan kopra. Selain itu keduanya melatih warga lain cara membuat tusuk sate yang diperoleh dari pengolahan batang bambu yang masih banyak terdapat di Lampung Selatan.
Samadi mengaku untuk pekerja yang membantunya saat itu dimulai dari sekitar 6 orang yang bekerja di workhshop miliknya dan juga beberapa pekerja yang bekerja di rumah masing masing sekitar 300 orang. Total pekerja sekitar 300 orang tersebut tersebar di beberapa wilayah Kecamatan di Lampung Selatan bahkan hingga ke kabupaten lain di Way Kanan.
“Rata rata pekerja khususnya untuk pembuatan tusuk sate bisa dikerjakan di rumah dan bisa menjadi pekerjaan sambilan sehingga banyak yang kami latih untuk membuat tusuk sate ini,”terang Samadi.
Pekerjaan pembuatan tusuk sate tersebut bahkan terbilang mudah karena Samadi membagikan alat yang dipergunakan untuk membuat tusuk sate dari bambu. Bambu yang diolah warga menjadi tusuk sate pada tahun 2011 oleh Samadi dibeli dengan harga Rp.4ribu dan kini sudah mencapai Rp.7ribu dibeli dari pekerja untuk perkilogramnya. Selain memberdayakan kaum wanita ia mengaku pekerjaan pembuatan tusuk sate tersebut dilakukan untuk membantu ekonomi warga di sekitarnya.
“Jika sedang musim tanam dan musim panen warga bekerja di ladang dan sawah tapi pekerjaan pembuatan tusuk sate bisa dikerjakan pada malam hari bersama anggota keluarga dan hasilnya bisa untuk membantu ekonomi keluarga,”terang Samadi.
Warga binaan yang sekaligus pekerja di berbagai daerah yang membuat tusuk sate serta kerajinan batok kelapa akan menyetor barang tersebut dalam waktu sebulan sekali dengan sistem pembayaran transfer via bank. Selanjutnya jika sudah terkumpul cukup banyak maka bahan baku tersebut akan dikirim ke Surabaya untuk diekspor ke negara pemesan.
Menurut Samadi satu batang bambu mampu menghasilkan sekitar 1,5 kilogram untuk jenis bambu tali dan untuk jenis bambu apus bisa lebih banyak dengan asumsi 1 kilogram sebanyak 1000 tusuk sate.
Selain melakukan usaha pembuatan tusuk sate dari bahan baku bambu juga dilakukan pengolahan batok kelapa yang  diolah menjadi kepingan mozaik dengan ukuran 3cm x 3cm yang bisa dipergunakan untuk plafon dan dinding dengan harga Rp.69rupiah. Sementara untuk ukuran lebih besar dalam centimeter bisa dihargai Rp.80rupiah serta bagian belakang batok yang berstekstur bisa seharga Rp.250rupiah. Bahan baku batok kelapa tersebut diambil dari warga pemilik usaha kopra permobil dengan harga Rp.600 – 700ribu.
“Intinya kami mengambil limbah dari warga yang memiliki usaha kopra tapi limbah tersebut kami olah menjadi barang bernilai jual bahkan limbah dari kerajinan kami diolah lagi menjadi arang kelapa yang dibeli penjual sate sekaligus mereka beli tusuk sate di sini,”ungkap Samadi.
Sementara itu Yanto sang adik sekaligus yang membantu usaha tersebut mengaku pada saat Cendana News datang sedang musim tanam sehingga beberapa pekerja sibuk di sawah. Sementara yang tidak memiliki sawah membantu membuat kerajinan pembuatan kue keripik pisang dan kue kue kering bersama Tri Handayani isteri kakaknya.
Yanto juga mengungkapkan cara pengolahan batok kelapa dilakukan menggunakan alat khusus dari mulai pembersihan serabut hingga pemotongan batok berdasarkan ukuran yang sudah ditentukan. Bahan yang sudah dipotong potong tersebut dimasukkan dalam karung berdasarkan ukuran. Sesuai peruntukan batok kelapa yang sudah diolah akan dipergunakan untuk bahan pembuatan mozaik  untuk rumah rumah mewah, cafe serta diaplikasikan di furniture yang unik. Selain dikirim dalam bentuk bahan baku beberapa pekerja bahkan menggunakan batok kelapa menjadi kerajinan untuk aksesoris seperti ikat pinggang, gayung batok kelapa, hiasan lainnya.
Berkat ketekunannya menggeluti bisnis kerajinan dan pembuatan bahan baku tersebut Yanto dan sang kakak mengaku dalam sebulan omzetnya bahkan bisa mendapatkan sekitar Rp.10 juta perbulan.
Bahkan sebagai usaha kecil menengah Paguyupan Krajan yang dikelolanya pernah masuk sebagai nominator  dalam penghargaan Usaha Kecil Menengah (UKM) dari sekitar 420 UMKM seluruh Indonesia dan masuk menjadi 16 besar oleh Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Indonesia bekerjasama dengan bank swasta untuk bidang wirausaha mandiri.

Selain itu juga mendapat penghargaan dalam pemberdayaan yang kontinue dan diadakan oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia pada tahun 2013. Berkat dikenal secara nasional ia mengaku mendapat bantuan dukungan baik berupa alat kerja maupun bantuan modal.

“Selain dikancah nasional, paguyupan Krajan juga sering mendapat penghargaan tingkat kabupaten serta Provinsi untuk usaha kecil dan sering diminta mengisi pameran kerajinan,” ujarnya.
Samadi dan Yanto mengaku dalam satu bulan bisa mengirimkan sebanyak 5 ton bahan dari batok kelapa yang diekspor ke beberapa negara oleh pabrik yang menampung kerajinan batok milik Paguyuban Krajan di Surabaya.
Samadi mengaku saat ini diakui lesunya Rupiah terhadap dolar mempengaruhi usahanya. Sebagai solusi ia mengaku masih tetap menjalankan usaha pembuatan tusuk sate serta pembuatan makanan ringan bersama isterinya yang produknya bisa dipasarkan di tingkat lokal. Samadi yang memiliki tiga orang anak ini mengaku masih ingin terus memberdayakan warga di sekitar tempat tinggalnya. Selain itu ia masih tetap menjadi tutor dalam pembuatan kerajinan di sejumlah daerah lain salah satunya di Kabupaten Tanggamus.
“Saya ingin memanfaatkan peluang banyaknya limbah kelapa yang sebenarnya bisa diolah menjadi barang bernilai jual tinggi,”ungkap Samadi mengakhiri perbincangan dengan media ini.

SELASA, 1 SEPTEMBER 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...