Sang Penyusup

CERPEN — Mentari siang memancarkan sinarnya dengan teriknya. Keringat mengucur deras bak air bah yang datang menghantam. Padahal ruangan pertemuan itu full aircondition merk terkenal. Wajah-wajah tak bahagia warnai pertemuan itu. Wajah-wajah gelisah tampak dari raut wajah para peserta rapat.
” Saya yakin bahwa ada yang membocorkan pertemuan kita sebelumnya sehingga lawan tahu kekuatan kita. Dan saya minta ada yang mengklaim dirinya sebagai pembocornya. Saya harap ada yang gentleman mengakui sebelum saya bocorkan siapa penyusup itu,” teriak Pak Kades dengan diksi garang. Semua yang hadir terdiam. Tak ada desis suara yang keluar ruangan. Nafas mareka pun seakan terhenti mendengar tudingan Pak Kades.
” Baiklah kalau demikian. Kalau tak ada yang mengaku maka saya akan sampaikan siapa diantara kalian yang membocorkan rahasia kita kepada lawan,” lanjut Pak Kades dengan nada garang. Dan sebelum Pak Kades melanjutkan diksinya, tiba-tiba sebuah suara dari arah belakang muncul. Semua peserta pertemuan kaget setengah mati. Mareka tak menyangka sama sekali.
” Saya Pak. Saya yang membocorkan rahasia pertemuan Bapak,” ujar Tasan dengan narasi pelan penuh penyesalan.
Adalah sebuah kewajaran yang sangat mengagetkan peserta pertemuan itu siang itu mengingat Tasan adalah orang paling dekat dengan Pak Kades. Walaupun hanya seorang petugas keamanan Desa, namun bagi masyarakat dan petinggi Desa, pria muda itu adalah orang yang dekat dengan Pak Kades. Kemana pun Pak Kades pergi Tasan selalu ada dan mendampingi Pak Kades. Bahkan bila ada tamu yang ingin ketemu Pak Kades, maka mareka selalu menghubungi Tasan. Semua warga Desa dan pegawai Desa paham bagaimana kedekatan emosional Pak Kades dengan Tasan.
Dan kegemparan melanda Desa saat Tasan mengaku sebagai pembocor informasi kepada pihak lawan disaat Pak Kades ingin mencalonkan diri kembali sebagai Kades. Ada yang percaya dan tak sedikit yang tak percaya.
” Masa sih Tasan yang membocorkan rahasia Pak Kades,” tanya Akew kepada beberapa orang saat mareka sedang asyik ngobrol di warung mang Jonriel.
” Iya. Tasan sudah mengakuinya,” jawab seorang warga sambil diikuti gelengan kepala para warga.
” Apa sih kurangnya Pak Kades kepada Tasan selama ini?,” ujar warga setengah bertanya.
” Itulah manusia. Tak pernah puas dengan apa yang didapatkannya. Kalau sudah begini,” kata seorang warga tanpa meneruskan diksinya. Awan berarak penuhi langit yang biru.
Kekecewaan Pak Kades dan warga terhadap Tasan bukan tak berapologi. Warga tahu bagaimana Pak Kades mengangkat derajat dan martabat Tasan yang hanya sebagai penjaga malam menjadi seorang yang bermartabat di Desa mareka. 
Kepercayaan yang diberikan Pak Kades sungguh luarbiasa. Tasan seakan menjadi sekretaris pribadi Pak Kades baik saat bertugas maupun di rumah. Tasan selalu menjadi tumpuan Pak Kades. Pak Kades sangat percaya dengan lelaki muda itu. Apalagi sebelum Pak Kades mengangkatnya sebagai petugas kemanan Desa banyak pihak yang membisiki Pak Kades. Namun Pak Kades tak percaya dengan sepenuh hati. Apalagi sikap kesantunan yang diperlihatkan Tasan mengundang simpati pak Kades dan para pendukungnya.
” Pak Kades harus hati-hati dengan Tasan. Jangan sampai dia menjadi duri dalam daging,” ujar Pak Liluk.
” Nasehatmu saya terima sahabat. Namun saya belum percaya seratus persen atas desas desus itu,” jawab Pak Kades.
Pak Kades memang pernah mendapati Tasan sedang berbincang dengan seseorang lewat handphone di kamar mandi saat Pak Kades hendak buang air kecil. Saat itu wajah Tasan memerah seolah-olah aksi kepergok. Dan banyak pendukung Pak Kades yang pernah melihat Tasan sering datang ke rumah Pak Kecil. namun data-data dan informasi yang diberikan pendukung pak Kades belum membuat Pak Kades percaya.
” Kalian ini ada-ada saja. Orang bertamu kok dicurigai,” apologi Pak Kades saat itu.
” Tapi mareka bertemu setiap malam Pak,” ujar pendukung Pak Kades.
” Iya Pak. Usai pulang dari sini, Tasan pasti langsung ke rumah Pak Kecil,” sambung yang lain.
Sore itu di sebuah rumah yang megah, narasi perdebatan pun tak terelakan. Kendati disaksikan banyak orang keduanya tak berhenti untuk berargumentasi untuk saling menyalahkan. Dan tak seorang pun yang bisa menghentikan adu mulut itu.
” Kamu itu memang manusia licik dan tak tahu diuntung. Dasar mafia dan penghianat rakyat. Saya menyesal telah mengikuti arahan dan janji kamu yang cuma bohong belaka. Dasar manusia bejat,” teriak Tasan dengan suara kalap dan emosional.
” Saya ingatkan kepada kamu, bahwa saya janji kalau saya menang. Kalau saya kalah, janji apa yang mesti saya penuhi. Kamu harus tahu itu,” ujar lawan Pak Kecil calon Kades.
“Cuma saya ingatkan kepada kamu wahai manusia bejat, kamu tak akan pernah menang melawan Pak Kades dalam Pilkades nanti karena data yang saya berikan tak akurat. Kamu harus pahami itu,” jawab Tasan sambil meninggalkan rumah mewah itu. Dan semua pendukung lawan Pak Kades terdiam. Termasuk Pak Kecil lawan Pak Kades dalam pesta demokrasi nanti. Wajahnya memerah mendengar narasi Tasan. Dan ketakutan mulai melanada nuraninya.
Senja itu, langit membiru. Awan berarak pelan kitari langit. Burung-burung camar terbang bebas di jagad raya yang indah. Sesekali terbangnya merendah. Tasan masih terduduk lesu di belakang rumahnya. Kopi yang dihidangkan istrinya sudah terasa dingin. Hambar. Tak ada niatnya untuk menyeruput kopi hitam kesukaannya. Matanya menerawang jauh. Otaknya terus menggelora. Raganya tersentak. Nuraninya mulai tumpul.
“Saya harus menghancurkannya, biar dia tahu bahwa saya bukan penyusup. Dan saya akan buktikan bahwa tuduhan sebagai penyusup yang menyakitkan itu bukan dari nurani saya. Tapi dari akal bulus Pak Kecil,” desisnya.
Pilkades telah usai. Pak Kades terpilih dan menang telak dari lawannya Pak Kecil. Perolehan suaranya amat jauh. Pak Kecil hanya mampu meraup angka 10 persen dari total suara yang sah.
Disebuah rumah yang megah di ujung Desa, malam itu bagaikan malam neraka. Tak ada aktivitas. Hening. Sepi. Sepi menghantui rumah megah itu. Tak ada lagi keramaian. Tak ada canda tawa.  Pak Kecil terkulai. Pendukungnya tak ada lagi yang datang. Semua semua hijrah hati kepada Pak Kades. Dan Pak Kecil makin terkulai jiwanya saat menerima sebuah pesan singkat dari sebuah nomor yang amat dikenal.
” Kamu memang tak layak memimpin daerah ini wahai manusia bejat. Dan sekarang sudah saya buktikan. Kamu kalah dengan memalukan,”  demikian bunyi pesan singkat itu. Pak Kecil melihat dari jendela rumahnya. Tampak Tasan. Orang yang pernah disuruhnya menjadi penyusup dengan janji manis. Orang kini menjadi penghancur ambisinya.
Malam makin malarut. Langkah Tasan pun terus susuri jalan Desa menuju Desa sebelah. Langkah pastinya ditemani malam sebagai penghantarnya menuju daerah tujuan baru dengan nama baru pula. Dan Tasan ingin merubah namanya menjadi Alberto. Ya, Alberto. 
SABTU, 12 September 2015
Penulis       : Rusmin Toboali

Editor         : ME. Bijo Dirajo

Lihat juga...