Sang Petualang

CERPEN — ” Kita harus bisa mengambil keuntungan dari momentum Pilkada ini. Kita tidak dimana-mana, tapi ada dimana-mana. Oleh karena itu kita harus bisa memainkan peran sehingga saat usai Pilkada kita tetap aman dan sentosa,” papar Ganyeng kepada rekan-rekannya.
” Artinya kita harus kita memainkan politik beberapa kaki. Begitu maksudmu,” tanya rekannya.
” Benar sekali. Dan kalian harus pahami ilmu ini. Jangan sampai kita salah bertindak karena akan merugikan kita semua,” lanjut Ganyeng dengan narasi mantap bak orator yang sedang kampanye di panggung. Malam tersenyum. Sinar rembulan cerah. Kerlap kerlip bintang hiasi malam.
Di sebuah posko pemenangan kandidat Abal-abal, Ganyeng dengan segenap hati mencurahkan dukungannya dengan narasi yang sungguh mulia. Bertekad memenangkan pasangan Abal-abal.
” Dari berbagai survey yang kami lakukan secara acak, rakyat ternyata mendukung Bapak. Mareka menginginkan Bapak kembali memimpin daerah ini. Apalagi gaya kepemimpinan Bapak selama ini merakyat dan religius. beda dengan kandidat sebelah yang …,” ungkap Ganyeng tanpa melanjutkan kata-katanya.
” Maksudnya pasangan sebelah tak dikehendaki rakyat,” ujar tim pemenangan pasangan Abal-abal setengah bertanya.
” Iya, begitulah. Tak perlu saya jelaskan lagi. Rakyat sudah paham,” jelas Ganyeng.
” Nah,benarkan Pak apa yang kami prediksikan selama ini. Bapak masih tetap menjadi idola dan harapan rakyat daerah ini,” sambung salah seorang tim Abal-abal kepada kandidat yang sedari tadi cuma bengong mendengar kelakar dari Ganyeng dan timsesnya.
Pada waktu yang sama, di sebuah posko pemenangan timses  pasangan Rada-Rada, kelompok Ganyeng kembali menebarkan asa setinggi langit tujuh kepada pasangan Rada-rada ini.
” Kerinduan rakyat negeri ini kepada Bapak sudah di ubun-ubun. Mareka sudah lama merindukan kehadiran sosok pemimpin seperti Bapak ini. Dan mareka ikhlas membela Bapak dengan semangat gotong royong,” ujar kelompok Ganyeng.
” Kami ingin rakyat cerdas dalam memilih pemimpin sehingga mareka merasa tak memilih pemimpin bak kucing dalam karung,” ujar salah seorang Timses pasangan Rada-rada.
” Nah ini yang tak didapat rakyat dari pasangan sebelah yang hanya mengandalkan gaya merakyat namun tak bisa bekerja. lihat apa yang diperbuatnya selama memimpin negeri ini? babak belur negeri kita. Tak ada kreativitas yang lahir dari rakyat. Mareka hanya mementingkan kepentingan kelompok mareka saja,” kata kelompok Ganyeng.
” Semuanya kami serahkan kepada rakyat sebagai pemilih dan penguasa daerah ini. Biarkan mareka memilih pemimpinnya dengan nurani dan hati yang bersih dengan jiwa yang cerdas,” jawab Timses rada-rada.
Malam makin menua. Sinarnya mulai memudar sebagaimana pudarnya narasi kelompok Ganyeng di Posko timses rada-rada.
Ganyeng mulai merasakan sesuatu yang tak lazim dalam perjalanan petualang mareka dalam memeriahkan pesta demokrasi kali ini. Respon dari Timses Rada-rada tak ada, bahkan kelompok ini terasa asing saat bergaul dengan Timses Rada-rada. Ada sesuatu yang ganjil saat kelompok mareka meluncurkan diksi-diksi provokasi. Bahkan agitasi yang mareka lemparkan pun tak direspon sama sekali oleh Timses rada-rada.
” Saya heran dengan Timses Rada-rada. Kok nggak ada responnya terhadap apa yang kita omongkan,” keluh Ganyeng saat mareka berkumpul di posko mareka di ujung Kota.
” Iya. Tampaknya mareka mulai memahami permainan kita,” sahut anggota Ganyeng.
” Kita harus membuat strategi lain dan baru sehingga kelompok timses Rada-rada percaya dengan kita. Soalnya sekarang pasangan Rada-rada sedang diatas angin. Dukungan rakyat meluas,” papar Ganyeng.
Ganyeng dan kelompoknya mulai kehilangan muka saat respon yang diberikan Timses Rada-rada tak memuaskan. Usaha mareka untuk melawan Timses Rada-rada tak mempan. Bahkan mareka mulai kehilangan akal. Mareka mulai putus asa. Berbagai stategi yang mareka mainkan tak mempan. Tembakan mareka seolah selalu meleset dan mampu terjawab dengan mudah oleh Timses Rada-rada.
” Tampaknya kita tak bisa lagi mendekati timses rada-rada. Mareka sudah memahami permainan kita. Mareka sudah mengetahui strategi kita,” keluh Ganyeng.
” Kalau begitu kita harus membela pasangan Abal-abal saja. Toh respon mareka sangat baik,” usul kelompok Ganyeng.
” Iya. Saya sepakat dengan usulan bung. Buat apa kita mendekati lagi Timses Rada-rada. Mareka tak menghargai kita sebagai tokoh di daerah ini,” sambung yang lainnya.
” Apa kamu mau mendukung kandidat yang kalah?Apa kamu mau menjadi Timses pasangan yang tak dikehendaki rakyat daerah ini?” tanya Ganyeng dengan nada diksi keras sehingga membangunkan malam yang sedang bermimpi. 
Membangunkan rembulan yang enggan bersinar, bahkan membangunkan kucing hutan yang masih tertidur pulas dibawah pohon lada yang mulai menua usai mencari mangsa di hutan kecil semalam.
Semua kelompok Ganyeng terdiam mendengar penjelasan Ganyeng. Dalam hati mareka kini mulai resah dengan permainan yang dikembangkan Ganyeng. Mareka mulai khawatir dengan petualangan mareka dalam jagad politik daerah ini. Namun mareka enggan beradu argumentasi mengingat selama ini Ganyeng selalu membantu mareka bila kesulitan hidup.
Ganyeng mulai resah ketika kelompoknya kini tak kompak dan  tak harmoni lagi. Beberapa kawan dalam kelompoknya telah menyeberang kepada kelompok timses Rada-rada dengan terang-terangan. Mareka secara terang-terangan telah membantu timses rada-rada secara iklas. Mareka kini makin paham resiko yang akan mareka terima kalau bermain banyak kaki. Kini Ganyeng seolah terasing dari pergaulan para sahabatnya. Tak ada lagi yang mau mengikuti gayanya yang selalu ingin berpetualang dan mengambil keuntungan dalam beragam masalah di daerah ini. Kartu truf Ganyeng seakan sudah terbaca.
” Mungkin ini hukum karma yang harus saya terima sebagai petualang,” desis Ganyeng. Sinar rembulan makin memuram. Kesenduan melanda rembulan. Bintang pun seolah-olah enggan hadir dilangit.  Di kejauhan malam dengan lantang terdengar syair dari Iwan Fals yang didengarkannya dari radio. Suara radio itu makin mendekat dan menusuk kalbu Ganyeng. Suara radio itu seakan mengguncang nuraninya sebagai manusia yang tak mampu dilawannya.
Petualang merasa sunyi.
Sendiri di hitam hari
Petualang jatuh terkapar
Namun semangatnya masih berkobar

Petualang merasa sepi  
Merasa sunyi
Sendiri dikelam hari
Petualang jatuh terkulai
Namun semangatnya bagai matahari

Ya sang petualang terjaga
Ya sang petualang bergerak
Ya sang petualang terkapar
Ya sang petualang sendiri
MINGGU, 13 September 2015
Penulis       : Rusmin Toboali
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...