Sebagian Besar Warga Mulai Pindah dari Lahan Terdampak Tol

Pindah rumah
LAMPUNG — Pasca pembayaran ganti rugi dengan total nilai Rp62 Milyar lebih, puluhan dari sekitar 112 warga Desa Bakauheni Lampung Selatan Provinsi Lampung yang terkena dampak pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) mulai pindah dari rumah tinggal yang selama bertahun-tahun mereka tempati.
Salah seorang warga Dusun Kenyayan, Robiun (45) mengaku sudah sejak seminggu lalu memindahkan barang barang miliknya untuk pindah ke kontrakan baru yang ada di Desa Sumur Kecamatan Ketapang. Ia mengaku belum bisa membeli tanah untuk tempat tinggal baru karena masih dalam proses pencarian.
“Sementara saya mengontrak di Desa Sumur sambil mencari tempat tinggal tetap apalagi saya belum seluruhnya memindahkan barang barang saya dan sesuai kesepakatan, hari ini terakhir untuk pindah,”ungkap Robiun kepada Cendana News, Senin (28/09/2015).
Ia mengaku kepindahannya tersebut dilakukan karena rumah, lahan serta tanam tumbuh di lahan yang dimilikinya sudah diganti rugi. Ia bersama isteri dan dua orang anaknya rela pindah untuk proses pembangunan jalan tol yang masih dibebaskan tahap pertama sepanjang 1 kilometer di Bakauheni.
Sementara itu, keluarga Supan (34) bahkan mengaku telah memperoleh tanah di daerah Kelawi yang agak jauh dari lokasi lahan tol. Ia bahkan sudah membangun rumah semi permanen sejak seminggu lalu pasca memperoleh uang ganti rugi. Ia mengaku membangun rumah ukuran 4×6 meter sementara untuk tempat tinggal.
“Sementara yang penting tanah beli dari kavlingan dan punya sendiri, nanti kalau ada rezeki lagi bangun yang lebih bagus,”ungkap Supan.
Sebelumnya Syahrial Riza Pahlevi sebagai Koordinator Pengadaan Lahan Tol Kementerian Pekerjaan Umum, total sebanyak 62,5 Milyar diserahkan kepada sebanyak 112 keluarga yang memiliki bukti kepemilikan lahan, bangunan, tanam tumbuh di Bakauheni atau tahap pertama lokasi sepanjang 1 kilometer di Desa Bakauheni yang akan dibangun untuk JTTS ruas Bakauheni Lampung Selatan- Terbanggi Besar Lampung Tengah.
Syahrial juga menjelaskan proses ganti rugi tol sudah berdasarkan Undang Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Penyediaan lahan untuk sarana umum di mana dalam undang undang tersebut untuk proses pembangunan jalan tol akan dibentuk dua tim. Pertama tim persiapan, tim penentuan lokasi (penlok) yang dibentuk oleh pemerintah Provinsi Lampung, kedua tim pengadaan pembebasan lahan tol yang diketuai oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Lampung Selatan.
“Sementara sesuai undang undang penilaian harga dilakukan oleh tim apraisal independen baik untuk bangunan, tanah, tanam tumbuh dan jika pemilik berkeberatan maka akan diselesaikan melalui jalur pengadilan sehingga tidak ada proses tawar menawar,”ungkap Syahrial Riza Pahlevi.
Dalam UU tersebut menurut Syahrial hak alas, tanam tumbuh akan dihitung oleh tim appraisal (penilaian wajar) yang bertugas menetapkan harga yang pantas secara independen sehingga tim ganti rugi lahan tol yang saat ini bertugas menyerahkan uang ganti rugi tidak mengetahui besaran masing masing pemilik lahan, bangunan, tanam tumbuh. Ia mengaku secara garis besar tahapan demi tahapan sudah dilalui oleh tim terutama untuk tahap pertama sepanjang 1 kilometer sekitar 62,5 milyar diberikan di Menara Siger kepada sebanyak 112 pemilik lahan, penggarap.
Jumlah nominal uang yang diperoleh warga cukup beragam menurut Syahrial terjadi karena berdasarkan penilaian tim appraisal lahan warga berbeda beda. Tanah yang bervariasi tersebut berdasarkan letak dengan jalan, lokasi, luasan lahan, sehingga jumlah nominal yang diterima warga berdasarkan penilaian tim penilaian wajar.
Meskipun ratusan warga sudah positif menerima uang ganti rugi yang masuk dalam rekening masing masing namun diakui oleh Syahrial, masih ada sekitar 7 keluarga yang merupakan kerabat dari keluarga pemilik lahan dan rumah Khaerudin Raden Panji yang belum menerima uang ganti rugi. Menurut Syahrial pihaknya mengaku untuk keluarga tersebut masih akan diselesaikan dengan pihak Sjachroedin ZP selaku pemilik lahan yang bersengketa dengan keluarga tersebut untuk ditemukan titik temu terkait uang ganti rugi lahan.
Meski sebagian besar warga sudah meninggalkan rumah mereka, namun masih ada beberapa warga yang belum meninggalkan lokasi lahan terdampak tol. Keluarga besar Yunus Raden Panji bahkan masih bertahan di tempat tinggal mereka dan menyelesaikan persoalan kepemilikan tanah dengan keluarga Sjachroedin.
“Sebagian besar memang sudah pindah namun khusus untuk keluarga Yunus Raden panji sedang dalam tahap penyelesaian internal dengan keluarga Sjachroedin,”ungkap Syahroni kepala Desa Bakauheni saat dikonfirmasi.
Sebagian besar pindah dengan sukarela ke lokasi baru yang sebagian tinggal di kontraka, menyewa atau membangun rumah semi permanen di tanah yang dibelinya. Warga bahkan rela membeli tanah kavlingan yang harganya sudah naik dua kali lipat pasca ruas jalan tol ditetapkan. Bahkan kini harga 1 kavling ukuran 10×15 meter biasanya seharga Rp15 juta ada yang mencapai Rp30juta.
Pembangunan rumah baru

pengerjaan jalan tol sumatera

SENIN, 28 September 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...