Serap Aspirasi, Titiek Soeharto Kunjungi Budidaya Anggrek di Yogyakarta

YOGYAKARTA — Keindahan bunga anggrek menjadi daya tarik bagi siapa pun yang melihatnya. Beragam bentuk, warna dan motifnya acapkali menimbulkan inspirasi tersendiri. Namun sangat jarang orang terinspirasi untuk membudidayakannya. Selain sulit dan membutuhkan waktu lama, budi daya anggrek membutuhkan penanganan khusus. Itulah mengapa, anggrek menjadi kian langka dan mahal harganya.
Tak ingin potensi bunga anggrek di tanah air punah hanya karena minimnya upaya pembudidayaan, Titiek Soeharto pun memberi perhatian khusus kepada kelompok pertanian pembudi daya bunga anggrek di Yogyakarta. Pada Minggu (06/09/2015) sore, bersama sejumlah staf, Titiek memanfaatkan waktu liburnya dengan mengunjungi sentra budi daya bunga anggrek yang dikelola oleh Gapoktan Widara Kandang di Kampung Miliran, Umbulharjo, Yogyakarta.
Tak hanya sekedar berkunjung, Titiek pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjaring aspirasi masyarakat terkait pengembangan potensi kebun bunga anggrek sebagai salah satu obyek wisata di Yogyakarta. Titiek  sangat mengapresiasi upaya pengembangan bunga anggrek yang dilakukan oleh Gapoktan Widara Kandang, terutama kepada Wisnutomo yang sejak tahun 1976 telah bersusah payah membudi-dayakan beragam bunga anggrek asal Indonesia.
Titiek mengatakan, budi daya bunga anggrek sangat potensial dikembangkan sebagai salah satu komoditas pertanian lokal yang saat ini cenderung langka. Selama ini, katanya, masih jarang orang mengetahui bahwa begitu banyak ragam bunga anggrek yang dimiliki Indonesia. Namun, upaya untuk mengangkat potensi bunga anggrek selama ini belum maksimal. 
“Karena itu kami dari Komisi IV DPR RI yang kebetulan sedang berdinas di Yogyakarta, sengaja datang untuk menjaring aspirasi dan merumuskan apa saja yang dibutuhkan oleh asosiasi tanaman anggrek dan Gapoktan bunga anggrek ini”, jelas Titiek.
Gapoktan Bunga Anggrek Widara Kandang menjadi perhatian khusus bagi Titiek karena gapoktan itulah yang selama ini dipandang berhasil dalam upaya pembudi-dayaan bunga anggrek. Sejak tahun 1976, Gapoktan Widara Kadang yang diketuai Wisnutomo telah membudidayakan ratusan jenis anggrek dari berbagai wilayah di tanah air. Sementara itu, bunga anggrek asli Yogyakarta sendiri kini menjadi bunga anggrek favorit. “Namanya, vanda three colour atau anggrek tiga warna. Juga ada anggrek bulan putih”, ujar Wisnutomo.
Bunga anggrek sebagai salah satu kekayaan flora di tanah air, memang belum begitu mendapat perhatian pemerintah. Padahal, kata Sumiyati, bunga anggrek begitu sangat diperhatikan oleh mendiang Ibu Negara Tien Soeharto. 
“Bahkan, Ibu Tien sampai membuat kebun anggrek sebagai upaya pengembangan bunga anggrek di Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta”, katanya.
Berkait perhatian besar Ibu Tien Soeharto terhadap bunga anggrek, Sumiyati pun lalu menunjukkan foto kenangannya ketika Ibu Tien Soeharto berkunjung ke kebun anggreknya. Demi melihat foto itu, Titiek pun mengatakan betapa semua hal waktu itu mendapat perhatian pemerintah. Titiek berharap, agar generasi muda mau meneladani upaya Wisnutomo yang dengan tekun dan penuh dedikasi mengembangkan beragam bunga anggrek.
Dalam kesempatan berkunjung ke kebun anggrek Wisnutomo itu, Titiek sempat mencoba melakukan penyerbukan bunga anggrek. “Saya tadi menyilangkan serbuk sari bunga anggrek asal Papua dan anggrek asal Yogyakarta. Ternyata mudah, namun butuh ketelatenan dan kesabaran. Semoga saja bunga anggrek yang saya serbukkan tadi bisa tumbuh dan berbunga ayu”, cetus Titiek, yang di akhir kunjungannya menyempatkan memberi bantuan sejumlah bantuan kepada Gapoktan Bunga Anggrek Widara Kandang. 

MINGGU, 6 September 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...