Setengah Abad Berlalu, Pelajar dan Mahasiswa Mulai Lupa G.30.S/PKI

Bendera terpasang penuh di tiang sebuah SMP di Lampung Selatan
LAMPUNG — Tepat setangah abad yang lalu, sebuah pemberontakan yang diberi nama Gerakan 30 September (G.30.S/PKI) merongrong ideologi bangsa. Tujuh Pahlawan Revolusi gugur dalam sejarah kelam yang menimpa Indonesia.
Namun, seiring perjalanan waktu, sejarah tersebut sepertinya mulai dilupakan, banyak yang tidak tahu, bahwa tanggal 30 September yang jatuh pada hari ini, Indonesia berduka, dan sebagai bentuk rasa duka, setiap warga diharuskan memasang bendera setengah tiang. Namun tidak hanya lupa, bahkan masyarakatpun, terutama pelajar dan mahasiswa juga tidak mengetahui sejarahnya.
Hal tersebut terungkap dalam liputan khusus yang dilakukan Cendana News di wilayah Lampung dalam beberapa hari ini. Sebagian besar pelajar dan mahasiswa mengaku tidak mengetahui akan hari bersejarah yang jatuh pada hari ini.
Arman, mahasiswa di sebuah Sekolah Tinggi di kota Metro Lampung mengaku dirinya hanya ingat sejarah tersebut dari membaca buku buku sejarah. Arman, salah satu mahasiswa bahkan mengungkapkan G 30 S/PKI saat ini diingatnya dari trending topik di Twitter dengan tagar #G30SPKI.
“”Wah saya malah lupa tuh kalau hari ini dulu pernah ada peristiwa G30SPKI tadi pagi sudah lihat di Twitter terus baca baca di link link berita terkait sejarah tersebut,”ujar Arman saat diwawancarai Cendana News, Rabu(30/9/2015).
Ia mengakui pernah membaca sejarah terkait pemberontakan PKI di tahun 1948 serta di tahun 1965. Namun ia mengakui saat ini mahasiswa seperti dirinya bahkan tidak lagi mengetahui dengan persis tokoh tokoh penting terkait peristiwa tersebut. Namun nama Aidit, Untung, Jenderal Soeharto serta 7 pahlawan Revolusi masih diingatnya.
“Saya ingat lubang buaya serta diorama terkait pemberontakan PKI saat ada study tour zaman SMP dan itu mengingatkan saya terkait dampak dari adanya idologi komunis di negara ini,”ungkap Arman.
Tidak hanya pelajar, tempat milik pemerintah hingga pendidikanpun juga sepertinya lupa untuk mengibarkan bendera setengah tiang. Seperti yang terpantau di sekolah menengah pertama di Lampung Selatan. Bahkan mereka mengaku lupa kalau hari ini setengah abad lalu menjadi saat kelam bagi bangsa ini terkait peristiwa G30S/PKI.
Sumarni (34) mengaku saat ini sudah tak ada kebiasaan mengibarkan bendera setengah tiang karena memang tak ada instruksi maupun perintah dari dinas pendidikan. Sebagai guru ia tetap mengingat hal tersebut sebagai bagian sejarah bangsa ini.
“Sejarah tetaplah pendidikan yang mesti diingat sampai anak cucu. Cerita kekejaman G 30 S/PKI mungkin sudah terlupakan namun tetap menjadi sejarah kelam bangsa Indonesia,”ujarnya.
Sumarni justru mengingat di tahun lalu, siswa didiknya banyak yang tidak tahu nama nama pahlawan Revolusi dan peristiwa G30S/PKI. Namun ia mengakui kondisi tersebut tak lepas dari kondisi pergeseran zaman bahkan siswa sekarang lebih mudah menghapal dan mengenal tokoh tokoh pemain bola serta artis atau penyanyi.
“Kalau siswa ditanya nama nama pemain kesebelasan dari klub sepakbola favorit di luar negeri mereka bisa jawab tapi kalau nama nama pehlawan revolusi malah lupa,”ujar Sumarni sambil tersenyum.
Hal senada juga diungkapkan oleh salah seorang guru di Sekolah Menengah Atas, Joko, yang mengakui sejarah terkait pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) saat ini sejarah tersebut masih diajarkan di sekolah dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
Ia mengungkapkan sesuai Tap MPRS No.xxV tahun 1966 Bahaya laten komunis bahwa orang orang dan golongan di Indonesia yang menganut paham atau ajaran komunisme/marxisme-leninisme khususnya Partai Komunis Indonesia dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia telah nyata nyata terbukti beberapa kali berusaha merobohkan kekuasaan pemerintah Republik Indonesia yang sah dengan jalan kekerasan.
“Sejarah terkait komunisme di Indonesia memang kompleks ya, tapi tak bisa disangkal bahwa mengganti ideologi Pancasila bukanlah semangat atau cita cita negara ini sejak dibentuk, ini yang selalu saya ingat dari buku buku sejarah,”ungkapnya menyitir buku sejarah yang dibacanya.
Ia bahkan secara pribadi mengungkapkan Gerakan 30 September PKI merupakan kejahatan. Terutama terjadinya pembunuhan terhadap beberapa jenderal yang merupakan putera terbaik bangsa Indonesia diantaranya: Ahmad Yani, Jendral Soeprapto, MT. Harjono, S. Parman, D. Isac Panjaitan, Soetojo Siswomihardjo, Pierre Andreas Tendean.
Ia bahkan mengakui sering terjadi perdebatan terkait peristiwa tersebut. Perdebatan yang memiliki argumen masing masing namun secara tegas ia mengakui ideologi Pancasila di Indonesia tidak bisa diganti dengan ideologi Komunis.
Masih perlukah kita memperingati G-30-S/PKI? 
Salah seorang guru di Sekolah Menengah Atas, Joko mengaku sulit untuk menjawab pertanyaan itu. Peristiwa kematian tujuh orang jenderal pada 1965 adalah fakta sejarah. Kalau berdasar pada fakta tersebut, tentu peristiwa G30S/PKI masih perlu diperingati.
“Kalau memang sudah tak ada pengibaran bendera setengah tiang tapi tetap saja sejarah tersebut harus diingat agar bahaya laten komunis tidak tumbuh lagi di Indonesia,”ungkapnya.
Sementara itu salah satu tokoh masyarakat di Pringsewu, Lukman Hakim, mengakui peristiwa pemberontakan PKI harus diingat sebagai bagian sejarah bangsa Indonesia. Sebab berbagai peristiwa yang memecah belah bangsa ini diawali dengan perbedaan ideologi yang tak sejalan dengan Pancasila dan UUD 1945.
“Banyak orang berdebat saat ini terkait permohonan maaf pemerintah terhadap PKI dan bagi masyarakat yang tidak mengetahui persis kekejaman PKI tentunya akan lebih mudah, tapi bagi yang mengalami pasti tidak mudah,”ungkapnya.
Ia juga mengakui perdebatan terkait G30S/PKI sering menjadikan bangsa ini terkotak kotak dan ia berharap sejarah kelam itu tetap diingat agar bangsa Indonesia tidak terpecah. Ideologi Pancasila menurutnya sudah tidak bisa diubah dan sejarah mencatat beberapa kali pemberontakan oleh partai berideologi komunis bisa digagalkan.
Kemunculan Simbol PKI
Sebelumnya, Kepala Penerangan Korem 043/Garuda Hitam Mayor C.H. Prabowo menjawab munculnya simbol PKI dalam festival memperingati HUT Ke-70 RI.
Prabowo menambahkan, kemunculan bendera PKI di Pamekasan, Jawa Timur saat festival perayaan HUT ke-70 RI itu hanyalah serangkaian festival yang diselenggarakan oleh siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Adanya bendera PKI itu merupakan bagian dari serangkaian sejarah yang menceritakan tentang bagaimana sejarah Indonesia dari sejak zaman penjajahan oleh Belanda, Jepang, dan zaman Kemerdekaan, di mana di tengah-tengahnya ada pergerakan PKI.
“Orang salah tanggap. Itu semua hanya rangkaian sejarah untuk flash back ke masa lalu. Dan itu bukan hanya pergerakan PKI. Masih banyak rangkaian lainnya. Itu semua sudah dipastikan oleh Pangdam Brawijaya. Dalam karnaval itu tidak ada gerakan komunis. Yang pasti, jika ada gerakan itu, akan ditindaklanjut ataupun tindakan tegas,” ujarnya.
Meski demikian, Prabowo mengaku akan terus mewaspadai potensi yang ada. “Kasus itu bisa menjadi peringatan untuk lebih waspada terhadap gerakan radikal yang mungkin merongrong Negara,” tandasnya.
RABU, 30 September 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...