SPBN Belum Rampung Nelayan Beli BBM di Sejumlah SPBU

LAMPUNG — Masayarakat yang berprofesi sebagai nelayan di wilayah perairan pesisir Kalianda Lampung Selatan Provinsi Lampung hingga saat ini belum bisa membeli bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Nelayan (SPBN) karena belum rampung. Ratusan nelayan di dermaga Boom Kalianda bahkan masih membeli kebutuhan bahan bakar untuk melaut melalui koperasi nelayan setempat serta ke sejumlah SPBU yang memperbolehkan pembelian BBM untuk nelayan.
Salah satu nelayan Kalianda, Somad(35) mengaku belum rampungya pengerjaan SPBN memaksa warga masih harus membeli bahan bakar dengan jarak sekitar 4 kilometer lebih dari dermaga untuk keperluan melaut.
“Sementara kami masih membeli solar serta premium untuk keperluan kami selama melaut dengan menggunakan derigen yang kami beli dari SPBU di Kalianda yakni SPBU Jati dan SPBU Kalianda,”ujar Somad kepada Cendana News, Kamis(17/09/2015).
Ia dan beberapa nelayan lain berharap SPBN yang sudah dibangun dan dalam tahap penyelesaian segera bisa dioperasikan. Karena menurut nelayan setempat akan memberi dampak positif terutama memenuhi kebutuhan bahan bakar mereka. Selain itu efesiensi jarak tempuh yang sebelumnya beberapa kilometer untuk mendapat BBM kini bisa lebih menghemat biaya transportasi.
Udin (36) nelayan asal Desa Canti yang bersandar di Dermaga Boom berharap mekanisme penjualan BBM di SPBN agar bisa diatur agar ratusan nelayan yang ada di sekitar tempat tersebut dapat terpenuhi. Mekanisme pembelian yang dibatasi berdasarkan jenis kapal diharapkan bisa diberlakukan agar semua nelayan memiliki “jatah” dan kuota masing masing untuk menghindari adanya kelangkaan serta kekurangan Bahan Bakar Minyak.
“Kami tidak ingin terjadi seperti di wilayah lain dimana SPBN memang ada namun selalu tidak ada stok BBM karena selalu habis dan bahkan tidak ada stok akibat sekali datang pasokan selalu habis,”ujar Udin.
Pengelolaan tersebut menurut Udin harus melibatkan koperasi nelayan setempat sehingga kebutuhan rata rata nelayan akan bahan bakar bisa tercukupi.
Sebelumnya Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lampung Selatan Meizar Malanesia mengatakan pembangunan SPBN di Dermaga Bom akan segera direalisasikan. Berdasarkan pantauan pelaksanaan pembuatan SPBN baru bisa dilaksanakan saat Meizar Malanesia menjabat sebagai Kadis DKP.
Penyediaan lahan serta program pembuatan SPBN sudah lama diusulkan oleh Pemkab Lampung Selatan untuk penyediaan lahan, sementara untuk pembuatan SPBN serta suplai akan dilakukan oleh Pertamina.
Sejumlah nelayan mengeluhkan lambatnya pembangunan SPBN yang sudah diusulkan selama bertahun tahun. Para nelayan mengaku masih kesulitan membeli bahan bakar untuk kebutuhan melaut di perairan Kalianda dan sekitarnya. Bahkan persoalan mendesaknya kebutuhan SPBN sudah dikeluhkan nelayan sejak beberapa tahun lalu dan belum ada realisasi.
“Dari ganti kepala dinas hingga ganti anggota DPR persoalan ini belum juga beres, tapi harapan akan adanya SPBN sudah ada di depan mata meski belum beroperasi dan sudah ada bangunan fisiknya,” ujar Maman, salah seorang nelayan di TPI Boom Kalianda.
Dari pantauan Cendananews.com, nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Dermaga Boom Kalianda sebagian masih membeli bahan bakar di SPBU Kalianda serta SPBU Jati. Kekurangan bahan bakar masih menjadi persoalan yang dikeluhkan oleh para nelayan setempat.
Sementara itu di Kecamatan Ketapang dan Bakauheni, nelayan yang akan melaut seringkali kekurangan bahan bakar sehingga harus membeli di SPBU setempat. TPI Muara Piluk di Kecamatan Bakauheni saat ini sudah memiliki SPBN milik PT Aneka Kimia Raya (AKR) namun kapasitas yang kurang membuat nelayan masih harus membeli di luar.
Saat ini terdapat ratusan nelayan yang bersandar di TPI Boom Kalianda dan terdiri dari nelayan nelayan yang juga berasal dari wilayah Lempasing, Banten, Pandeglang, Labuhan Maringgai. Kapal kapal tradisional yang digunakan rata rata memiliki bobot di bawah 20 Gross ton dan melaut di Perairan teluk Lampung.

KAMIS, 17 September 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...