Surabaya Pantas Jadi Acuan Tata Kota yang Baik di Indonesia

SURABAYA — Kota Pahlawan sebagai kota metropolitan kedua setelah Jakarta, pantas dijadikan acuan tata kota metropolitan yang bagus. Tata kota Surabaya dari tahun ke tahun tidak mengalami perubahan berarti dan masih tetap sebagaimana fungsinya.
Tata Kota Surabaya konsisten artinya tidak ada perubahan sama sekali. Sebuah kota terdiri dari kerangka dan pengisi. Bagian pengisi ini, terdiri dari sungai, jalan raya, pelabuhan dan Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Pendiri dan pensiunan pengajar Jurusan Arsitektur ITS Surabaya, Prof. Dr. Ir. Johan Silas menjelaskan prasarana utama bagian pengisi kota Surabaya tidak ada perubahan, konsisten dari dulu.
“Dulu ruang terbuka hijau sempat hilang, tapi sekarang sudah kembali sedikit demi sedikit, contohnya hutan mangrove atau bakau sekarang kan ada di Surabaya,” Jelasnya kepada Cendana News, Rabu (09/09/2015).
Menurutnya yang berubah adalah struktur Kota Surabaya. Pengisi terbesar struktur Surabaya yakni perumahan. Pengembang apartemen dan hotel sangat banyak di Surabaya. Tetapi, pemerintah kota tetap menjaga kampung di Kota Lama.
“Kampung di Kota Lama itu dijaga sama pemerintah, tidak boleh dikutik-kutik sama sekali. Contoh lain, kampung Darmo juga dijaga,” tegasnya.
Contoh tata kota lain yang perlu ditiru yaitu pola papan catur. Kotak-kotak semi grad yang bagus, jadi perkembangan kota Surabaya tidak terpusat di satu tempat. Tapi, tersebar ada di bagian Surabaya Barat juga Surabaya Timur.
“Jadi masalah kemacetan dipastikan bisa teratasi di Surabaya, beda dengan Jakarta yang sesuai koridor makanya macet parah disana,” Tandasnya.
Hal ini pun ditegaskan oleh Faruq Ibnul Haqi, seorang magister lulusan Master of Urban and Regional Planning dari University of South Australia. Ia melakukan penelitian S2nya tentang tata kota Surabaya, ia mengaku Surabaya telah sukses menerapkan kota Urban Design.
“Walikota telah memainkan peran vital dengan baik dalam mempengaruhi kebijakan urban design di Surabaya,” Ungkapnya.
Melalui urban design perencanaan kota di Surabaya dilakukan berdasarkan pendekatan ekologi, seperti trotoar untuk pejalan kaki, ruang terbuka untuk mempromosikan aktifitas fisik. Dengan menyediakan lebih banyak ruang terbuka, semakin besar pula kesempatan masyarakat untuk melakukan olah raga, jogging maupun aktifitas fisik lainnya. 
Hal ini berdampak pada kualiatas kesehatan masyarakatnya yang semakin meningkat. Tidak hanya itu, fasilitas di ruang terbuka seperti taman juga telah berperan dalam meminimalisir tingkat stress warganya. Mereka dapat bersantai dan menikmati taman disana.
“Dari penelitian, saya juga menemukan bahwa Surabaya tidak memiliki sumber daya alam sebagai pemasukan kota, tapi bisa menerapkan urban design,” Tandasnya.
Untuk menerapkan urban design tidaklah murah, sehingga pemerintah daerah harus memiliki inovasi agar bisa mendapatkan dana dari sumber lain, seperti melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Sehingga tidak sedikit perusahaan di Surabaya turut berpartisipasi dalam mendukung implementasi urban design.

RABU, 9 September 2015
Jurnalis       : Charolin Pebrianti
Foto            : Charolin Pebrianti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...