Terimbas Tol Sumatra, Ratusan Warga Lampung Datangi Menara Siger

LAMPUNG — Ratusan warga di Desa Bakauheni Kecamatan Bakauheni Kabupaten Lampung Selatan sejak pagi mendatangi Menara Siger. Kedatangan sebanyak 112 Kepala Keluarga (KK) tersebut dilakukan untuk proses ganti rugi lahan yang terkena pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dari titik nol Bakauheni hingga sejauh 1 kilometer.
Kedatangan ratusan warga tersebut merupakan perkembangan lanjutan setelah tahap-tahap yang dilakukan oleh tim percepatan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera ruas Bakauheni-Terbanggi Besar Lampung. Tahapan tersebut mulai dari penentuan lokasi (penlok), pengukuran lahan, bangunan, tanaman tumbuh milik warga hingga verifikasi data kepemilikan tanah milik warga hingga  mendapat undangan pengambilan ganti rugi. Setelah proses tersebut uang ganti rugi dimasukkan dalam rekening masing masing pemilik tanah dan bangunan.
Salah seorang warga Dusun Kenyayan Bakauheni, Ngadipan mengaku datang sejak pagi datang diantar anaknya untuk proses ganti rugi lahan yang berdasarkan informasi bisa dicairkan hari ini. Sesuai data pejabat pembuat komitmen pengadaan lahan jalan tol Bakauheni, Ngadipan memiliki lahan seluas 205,65 meter persegi.
Ia mengaku mendapat undangan pemberian ganti rugi, undangan tersebut menindaklanjuti surat Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Lampung Selatan bernomor: 95/U-18.01/P2T/IX/2015 tanggal 16 September 2015 tentang perihal undangan pemberian ganti rugi bagi warga yang terkena pembebasan lahan pembangunan jalan tol. Menurut Nagadipan butuh waktu sekitar enam bulan terhitung sejak proses groundbreaking pada bulan April hingga proses pencairan ganti rugi tersebut.
“Saya dapat undangan kemarin siang dari kepala desa dan ini merupakan proses yang lama kami tunggu sebagai pemilik lahan karena sejak bulan April kami menunggu ganti rugi,”ungkap Ngadipan kepada Cendana News, Jumat(18/09/2015).
Ia mengaku sebelum proses pendataan ia belum mengetahui besaran uang yang akan diterimanya. Sebab sebagai warga di Kenyayan rata rata merupakan warga yang menumpang dan hanya sebagai penggarap di tanah milik keluarga Syahroedin ZP yang memiliki lahan dan warga hanya memiliki hak atas tanam tumbuh serta bangunan. Berapapun jumlah besaran uang yang akan diperolehnya diakui Ngadipan akan dipergunakan untuk proses perpindahan dirinya dan keluarga di tempat baru.
JUMAT, 18 September 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...