Terkait Revitalisasi Hutan Kota, Walikota Malang akan Lakukan Mediasi

MALANG — Permasalahan revitalisasi Hutan Kota Malabar masih terus berlanjut. Setelah beberapa hari sebelumnya PT Amerta Indah Otsuka sebagai pemberi dana untuk revitalisasi Hutan Kota Malabar memutuskan untuk menarik dana CSR dan menghentikan pengerjaan karena ditentang oleh sejumlah aktivis pemerhati lingkungan di kota Malang.
Dan kemarin Aliansi Masyarakat Pecinta Lingkungan dan Anti Maksiat (Ampel Anti Maksiat) juga menggelar aksi demo untuk mendukung diteruskannya pengerjaan revitalisasi hutan Kota Malabar.
Menanggapi tuntutan masyarakat yang ingin agar revitalisasi Hutan Malabar tetap dilakukan, Walikota Malang Muchammad Anton (Abah Anton) mengatakan akan berupaya kembali agar PT Amerta Indah Otsuka mau melanjutkan revitalisasi hutan Malabar. 
“Tapi kami tidak berjanji bahwa PT Amerta Indah Otsuka mau melanjutkan pengerjaan revitalisasi karena dari pihak Otsuka sendiri sudah mengeluarkan statment untuk menghentikan revitalisasi hutan Malabar,” jelasnya didepan awak media. 
Tetapi jika PT Amerta Indah Otsuka tetap tidak bisa melanjutkan revitalisasi, terpaksa kita harus mencari sumber pendanaan yang lain termasuk penggunaan dana APBD jika tidak ada dana CSR dari perusahaan lain.
Untuk saat ini, pemerintah harus berada di tengah-tengah karena bagaimanapun ada yang pro dan kontra dengan revitalisasi hutan Kota Malabar. 
“Kami akan menerima semua aspirasi dari kedua belah pihak, baik dari aktivis pemerhati lingkungan yang kontra dengan revitalisasi maupun aspirasi dari masyarakat yang pro dengan revitalisasi hutan Malabar,”ucapnya.
Dalam waktu dekat pihaknya juga akan segera memanggil dan akan kita dudukkan bersama kedua belah pihak yang pro dan kontra tersebut untuk mencari solusi yang tepat agar revitalisasi ini bisa tetap berjalan sekaligus dapat mengakomodir keinginan kedua belah pihak.
Disebutkan, menurut aktivis pemerhati lingkungan mengatakan, revitalisasi hutan ini nantinya akan mengganggu ekologi hutan Malabar. Oleh karena itu kami juga ingin tahu yang mereka maksud dengan ekologi itu, yang mana dan sejauh mana revitalisasi ini mengganggu ekologi.
Oleh sebab itu, selain mengundang dari pihak pemerhati lingkungan yang kontra dengan revitalisasi dan juga masyarakat yang pro dengan revitalisasi, dirinya juga berencana untuk mengundang tokoh-tokoh akademisi sebagai mediator yang mengerti dan paham tentang tata lingkungan.
SELASA, 15 September 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Foto            : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...