Tim Kepenak Kulonporogo Periksa Kelayakan Hewan Kurban

YOGYAKARTA — Semakin mendekatnya hari raya Idul Adha, Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (Kepenak) Kabupaten Kulonprogo Yogyakarta, mulai memantau sejumlah titik penyedia hewan kurban. Pemantauan dilakukan untuk mengetahui kelayakan hewan kurban dari aspek syar’i dan kesehatan. Dalam pemantauan itu didapati sejumlah sapi dalam kondisi sakit dan sapi tak memenuhi syarat.
Di tiga titik penyedia hewan kurban, yaitu di Kecamatan Sentolo, Wates dan Temon, Tim Pemantau Kepenak Kulonprogo mendapati beberapa hewan kurban dalam kondisi sakit pada bagian mata seperti mata berair dan luka. Kecuali itu, petugas juga mendapati sapi yang belum cukup umur atau belum dewasa, sehingga belum memenuhi syarat syar’i untuk dijadikan hewan kurban.
Sudarna, petugas lapangan dari Kepenak Kulonprogo mengatakan, hewan kurban yang belum cukup umur itu ditandai dengan sepasang giginya yang belum pernah tanggal. Sementara itu terhadap sapi yang didapati sakit mata berair dan luka di sekitar mata, Sudarna mengatakan, sakit tersebut terhitung masih wajar dan hanya menyerang sapi-sapi dari jenis tertentu. 
“Seperti yang kita dapati saat pemantauan ini, mata berair dialami oleh sapi import seperti dari Australia yang memang bukan hewan tropis, sehingga ketika dibawa ke sini dengan suhu yang panas menyebabkan mata berair. Akibat mata berair itu lalu dikerubungi lalat dan menimbulkan luka,” jelasnya, pada Sabtu (19/9/2015), siang.
Namun demikian, menurut Sudarna, selama sakitnya tak berlebihan sapi-sapi yang mengalami mata berair tetap layak sebagai hewan kurban. Ia menyarankan, agar sapi-sapi yang mengalami sakit mata berair segera diberi salep, dan sapi yang belum cukup dewasa harus diganti dengan yang sudah dewasa supaya memenuhi unsur syar’i. Selain itu, katanya, secara umum agar memenuhi unsur syar’i, hewan kurban juga harus dalam kondisi gemuk.
Sementara itu pengelola hewan kurban di desa Gedangan, Suradi, mengaku jika sapi-sapi yang sudah disiapkannya itu selalu diperiksa kesehatannya. Setiap pagi, siang dan sore diberi makan dan secara berkala diberi obat cacing. Suradi juga mengatakan, untuk sapi jenis lokal kondisinya sehat dan hanya sapi-sapi import saja yang mengalami sakit mata berair. Menurut Suradi, dari 83 ekor sapi yang dikelolanya hanya tinggal satu ekor saja yang belum laku, karena memang belum cukup umur.

SABTU, 19 September 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...