Tingkatkan Populasi Sapi, DPKP Balikpapan Laksanakan Program GPIB

BALIKPAPAN — Untuk meningkatkan populasi hewan Sapi dan memenuhi kebutuhan daging sapi di Balikpapan, Dinas Pertanian Kelautam dan Perikanan kota Balikpapan melaksanakan program nasional Gerakan Birahi Inseminasi Buatan (GPIB) untuk 300 sapi betina di daerah tersebut.
Kepala DPKP Balikpapan, Yosmianto menuturkan, kegiatan GPIB ini merupakan program nasional secara bertahap yang tujuannya daerah tersebut tidak hanya menjadi lokasi penggemukan sapi, namun menghasilkan bibit atau anak sapi unggulan. 
“Program ini agar Balikpapan dapat menghasil bibit unggulan. Karena selama peternak sapi mengandalkan bibit dari luar,” terangnya, Senin (14/9/2015).
Lebih lanjut Yosmianto mengjelaskan, program ini menjadi hal yang pertama dilakukan di Kalimantan Timur (Kaltim), dan bila kegiatan ini berhasil maka Balikpapan bisa menjadi percontohan untuk kota lain. Untuk program sendiri dilaksanakan di Kariangau, Karangjoang dang Teritip.
Program GPIB ini ada beberapa tahap diantaranya pemeriksaan kondisi organ reproduksi sapi betina yang akan di inseminasi. Kemudian setelah hasilnya baik selanjutnya petugas menyuntikkan hormon agar sapi tersebut memacu birahi dengan memberi waktu 11 hari. 
Selanjutnya setelah dinyatakan berhasil lalu diinjeksi sperma beku yang telah disiapkan sebagai bibit unggul. Jika semua proses berhasil dilakukan maka sesuai dengan siklus kandungan sapi selama 9 bulan 10 hari akan melahirkan anakan sapi baru, yang nantinya bisa dijadikan bibit.
Yos memperkirakan bulan Juli 2016 semua proses inseminasi buatan mulai dapat dipanen massal sebanyak 300 anak sapi hasil IB. “Jadi panen rayanya tahun 2016. Kita panen hasil dari inseminasi buatan,” serunya disela kegiatan.
Ia mengharapkan dengan program inseminasi populasi sapii Balikpapan dapat terus ditingkatkan. Saat ini berdasarkan data populasi sapi di Balikpapan terus meningkat 400 ekor sapi setiap tahunnya dan tahun ini sudah mencapai 4.000 ekor.
Yos mengakui dengan jumlah populasi yang dimiliki saat ini belum bisa mensuplai harian kebutuhan daging sapi sehingga sebagian besar kebutuhan sapi masih didatangkan dari luar seperti Gorontalo dan Nusa Tenggara Timur (NTT). 
“Untuk kebutuhan harian daging sapi lokal baru dapat menyumbang satu persen, sisanya dari daerah lain,” tandasnya. 

SENIN, 14 September 2015
Jurnalis       : Ferry Cahyanti
Foto            : Ferry Cahyanti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...