Titiek Soeharto Imbau Peternak Sapi Fokus pada Satu Aspek Bisnis

YOGYAKARTA — Tak jemu memperhatikan nasib rakyatnya, Siti Hediati Soeharto meninjau Kelompok Ternak Sapi Mangambar di dusun Mulungan Kulon, Mlati, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (12/9/2015). Bagi Titiek, kunjungan ke berbagai kelompok tani dan ternak merupakan hal penting dan merupakan tanggung-jawabnya kepada rakyat yang telah memberinya kepercayaan duduk sebagai wakilnya di DPR.
Dalam kunjungan kerjanya di dusun Mulungan, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto diarak menuju lokasi pertemuan dengan naik gerobak sapi. Puluhan warga antusias menunggu kedatangannya dan berharap ada perhatian lain dari pemerintah sebagaimana Titiek memperhatikan para petani. Begitu turun dari gerobak sapi, Titiek langsung dibawa menuju komplek kandang sapi milik Kelompok Ternak Mangambar dusun setempat, dan melihat langsung kondisi sapi di kandang dan tempat pembuatan pakan sapi dengan sistem ferementasi serta tanaman herbal.
Seperti dalam kunjungan kerja perseorangan sebelumnya, Titiek datang untuk memastikan keberhasilan para kelompok tani dan ternak, yang setidaknya telah mengecap bantuan pemerintah yang sudah pasti harus pula dipertanggung-jawabkan dengan prestasi. Titiek pun merasa puas dan bangga, karena para petani dan peternak benar-benar memanfaatkan bantuan yang telah diberikan dan diperjuangkannya di parlemen.
Di dusun Mulungan Kulon, Titiek mendapat penjelasan mengenai pengelolaan sapi yang tepat guna, efisien dan efektif. Antara lain, karena hampir semua bagian dari sapi tak ada yang percuma. Di kala harga pakan ternak melambung akibat musim kemarau berkepanjangan, Kelompok Ternak Mangambar bisa mengelola dan menghasilkan pakan yang efektif dengan sistem fermentasi. Bahkan di kelompok tersebut dikembangkan pakan sapi berupa kulit pohon pisang atau gedebok pisang, yang sangat bagus untuk penggemukan. Kecuali itu juga daun kolonjono yang memang merupakan makanan favorit sapi.
Titiek dalam sambutannya pun menekankan, agar kelompok ternak lebih fokus pada satu aspek bisnis sapi yang lebih menguntungkan. Jika memang di dusun setempat lebih menguntungkan melakukan penggemukan sapi,  kata Titiek, sebaiknya para peternak pun fokus di sektor tersebut. 
“Ini supaya hasilnya lebih maksimal”, tegasnya.
Beternak sapi bagi Kelompok ternak Mangambar, memang menjadi sumber penghasilan yang utama. Karena itu, berbagai inovasi teknologi peternakan diterapkan. Seperti pengelolaan pakan dengan sistem fermentasi dan pengelolaan pupuk organik dari kotoran sapi. Berkait dengan pengelolaan pakan dan pupuk organik, Titiek pun kemudian menyampaikan jika pemerintah pun memberikan bantuan untuk bidang pengelolaan pupuk organik itu yang besarnya mencapai Rp 220 Juta.
“Bantuan itu bisa diakses siapa pun, tentunya dengan persyaratan-persyaratan tertentu”, pungkas Titiek. 
Kelompok Ternak Sapi Mangambar mengelola beragam jenis sapi, di antaranya dari jenis limosin dan PO. Dari dua jenis itu, sapi PO merupakan yang paling banyak diminati pembeli. Mulyono, Pembina Kelompok Ternak Sapi Mangambar dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sleman, mengatakan, jika permintaan sapi jenis PO sangat tinggi. Terlebih saat ini ketika menjelang Idul Adha. 
“Kalau di hari biasanya kita hanya mampu menjual 5 ekor sapi sebulan, kini menjelang kurban ini bisa jual sebanyak 15 ekor sapi. Dan, harganya pun naik 500-1 juta rupiah perekornya”, ujar Mulyono.
Sementara itu, Camat Mlati, Suyudi, yang hadir dalam sambungrasa bersama Muspika setempat, mengungkap jika lahan persawahan di kawasan Mlati kini hanya tinggal 35 persen. Menurutnya, desa Mlati yang berbatasan langsung dengan pusat Kota Yogyakarta, menerima imbas dari pembangunan kota sehingga banyak pemukiman dibangun di areal sawah. Karena itu, Suyudi berharap, sekiranya pemerintah bisa mencegah terus berkurangnya lahan persawahan.

SABTU, 12 September 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...