Titiek Soeharto : Mengembalikan Bulog Kepada Fungsinya Seperti Era Pak Harto

Titiek Soeharto panen cabe merah secara simbolis
YOGYAKARTA — Jumat (11/9/2015), Titiek Hediati Soeharto melakukan panen perdana, mengawali musim panen raya cabe merah di dusun Bulusawit, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Cabe merah hasil para petani Poktan Subur Makmur, merupakan program bantuan pengembangan tanaman cabe merah dari pemerintah.
Tiba sekitar pukul 09.45 wib, Titiek Soeharto, didampingi sejumlah staf menghadiri Temu Lapang dan Panen Raya Cabe Merah Kelompok Tani Subur Makmur di dusun Bulusawit, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Tak sekedar melakukan seremonial panen simbolis cabe, Titiek datang hendak menyerap beragam keluhan dan permasalahan yang dihadapi para petani. 
Tak menunggu waktu lama, didampingi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Widi Sutikno, Camat Kalasan, Syamsul Bahri, dan Muspika setempat, Titiek langsung didaulat melakukan panen cabe merah secara simbolis. Titiek yang dengan riang menuju lokasi pertanian cabe merah, sempat mengutarakan kekagumannya terhadap hasil panen cabe merah yang bisa berhasil saat musim kemarau seperti sekarang.
Usai panen simbolis, Titiek menempati panggung kehormatan bersama tamu undangan, mendengar sejumlah keluhan dan sambutan. Syamsul Bahri, Camat Kalasan dalam sambutan selamat datang mengingatkan kepada masyarakat, perlunya berterima kasih kepada keluarga Pak Harto, yang begitu memperhatikan bidang pertanian. Namun demikian, Syamsul pun kemudian langsung mengutarakan beragam persoalan yag dihadapi petani saat ini, di antaranya mengenai harga komoditas pertanian yang justru selalu anjlok setiap kali musim panen raya.
Keluhan seputar sulitnya mengakses dana bantuan pemerintah karena kelompok tani yang harus berbadan hukum. Kecuali itu, keluhan ketiadaan sumber air yang memadai seperti sumur bor dalam yang sangat dibutuhkan warga, sampai saat ini belum bisa dimiliki, padahal keberadaan sumur bor yang diperlukan, karena warga dusun Bulusawit harus mengadakan air PAM PDAM untuk keperluan menyirami kebun pertanian. Tentu saja, hal itu membuat biaya produksi menjadi semakin membengkak.
Terhadap semua keluhan itu, Titiek pun mengatakan, jika selama ini pihaknya bersama Komisi IV DPR RI telah mengusulkan agar undang-undang yang mengatur tentang dana bantuan bagi Poktan harus berbadan hukum bisa ditunda. 
“Setidaknya, untuk tahun-tahun ini pemberlakuan undang-undang itu bisa ditunda”, ujar Titiek, sembari menambahkan jika ia selama ini mengerti, bahwasannya kelompok tani sekiranya tidak mungkin berbadan hukum, sehingga tidak bisa mengakses dana bantuan dari pemerintah.
Sementara itu berkait harga jual komoditas pertanian yang selalu anjlok di musim panen raya, Titiek mengingatkan lagi tentang keberadaan Bulog saat ini. Titiek mengatakan, jika ia telah mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo, agar mengembalikan Bulog kepada fungsinya seperti di zaman Pak Harto. “Bulog itu fungsinya sebagai stabilisator harga, dan mendistribusikan berbagai kebutuhan pokok secara merata”, ujar Titiek.
Titiek yang dalam kesempatan tersebut mendapat pujian dari Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sleman karena terbukti sangat memperhatikan bidang pertanian, menekankan tujuannya datang ke berbagai sentra pertanian memang bertujuan untuk menyerap aspirasi, menerima keluhan dan usulan langsung dari warga petani, Untuk kemudian ia akan menindak lanjuti dengan menyampaikan kepada pemerintah dan sidang-sidang DPR. 
“Saya pun sangat berterimakasih kepada seluruh warga yang sudah memilih saya, sehingga bisa duduk di DPR, sehingga saya memiliki kesempatan memperjuangkan semua keinginan petani. Semoga saya bisa mengembangkan dan men-sejahtera-kan petani seperti yang dicita-citakan Pak Harto”, cetusnya.
Seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya, diakhir setiap acara Titiek memberikan sejumlah bantuan kepada kelompok tani. Titiek meminta kepada warga, agar lebih proaktif menanyakan perihal bantuan-bantuan dari pemerintah. “Sebab, selama ini APBN untuk bidang pertanian jumlahnya sangat besar dan belum terserap semuanya”, pungkasnya.
JUM’AT, 11 SEPTEMBER 2015
Jurnalis : Koko Triarko
Foto : Koko Triarko
Editor : Sari Puspita Ayu
Lihat juga...