Titiek Soeharto Salurkan Bantuan Rp.300 Juta untuk 5 Pokdakan di Bantul

YOGYAKARTA — Dalam kunjungan kerja perorangan yang dilaksanakan hari ini Sabtu (12/9/2015), selain mengunjungi petani Ugadi dan peternakan sapi di Sleman, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi juga menyambangi dusun Pulutan, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. 
Di daerah tersebut Anggota DPR RI dari fraksi Golkar, Titiek Soeharto meninjau lima kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) yang telah lama mengajukan bantuan dari pemerintah melalui program Pengembangan Usaha Mina Pedesaan Perikanan Budidaya (PUMP PB). Secara simbolis, Titiek menyerahkan langsung bantuan tersebut, didampingi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, Edi Mahmud, Ketua Komisi B DPRD Bantul dari Fraksi Partai Golkar, Widodo, dan sejumlah perangkat desa setempat.
Bantuan pemerintah berupa uang senilai Rp.60 Juta, diserahkan kepada lima pokdakan di wilayah tersebut sehingga total nilai bantuan sebesar Rp 300 Juta. Titiek pun mewanti-wanti, agar masing-masing pokdakan benar-benar menggunakan dana bantuan pemerintah tersebut secara tepat guna dan efisien. Titiek menyarankan kepada pokdakan di Bantul, agar belajar dari pokdakan di Sleman, yang terbukti berhasil dalam pengelolaan budi daya ikan.
“Beberapa pokdakan di Sleman itu bahkan menjadi tempat studi banding FAO PBB, karena keberhasilannya di bidang perikanan dan pertanian melalui sistem mina padi. Jadi, ada baiknya Kabupaten Bantul yang bertetangga dengan Sleman ikut belajar pula dari sana”, cetusnya.
Dalam kesempatan yang sama, Edi Mahmud mengungkapkan, jika selama ini pun Pemkab setempat sangat memperhatikan perkembagan kelompok pembudidaya ikan. Hal ini tercermin dari banyaknya bantuan yang diberikan kepada kelompok budi daya ikan yang anggarannya diambilkan dari APBD Kabupaten Bantul dan APBD Provinsi DIY. 
“Bantuan itu selama ini diberikan dalam bentuk peralatan seperti alat membuat pakan ikan atau pelet, pendampingan dan pembinaan pengembangan usaha mina pedesaan atau PUMP”, jelasnya.
Sementara itu dalam sesi sambung rasa, Titiek menerima beragam keluhan dari warga anggota pokdakan. Watilah, wakil dari lima pokdakan penerima bantuan tersebut mengatakan, jika selama ini pokdakan masih mengalami berbagai kendala. Diantaranya harga pakan yang mahal dan dampak rupiah yang melemah, sumber air yang masih kurang dan adanya penyakit yang membuat budi daya ikan lele yang dikelola warga mengalami kerugian.
Watilah yang cukup gamblang mengungkap berbagai kendala tersebut, sempat pula mencurahkan isi hatinya, bahwa kedatangan Titiek cukup mengobati kerinduan warga terhadap sosok Pak Harto dan Ibu Tien.
“Suara Mbak Titiek pun sudah sangat mirip sekali dengan suara alm Bu Tien Soeharto”, ungkap Watilah, disambut tepuk tangan warga.
Sesi sambung rasa diakhiri setelah Edi Mahmud memberikan jawaban atas beragam keluhan warga yang disampaikan Watilah. Edi mengatakan, jika selama ini mahalnya harga pakan bisa disiasati dengan memaksimalkan penggunaan alat pembuat pakan ikan. Sedangkan, kurangnya sumber air, selama ini dinas terkait masih menunggu cara-cara yang lebih efektif dan efisien, karena pengadaan sumur bor yang selama ini digunakan terhitung mahal dan kurang optimal. 
“Berkait dengan penyakit, warga bisa langsung datang melaporkan ke PPL, supaya penyakit ikan bisa dipastikan penyebabnya”, pungkasnya. 
SABTU, 12 September 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...