Uang Ganti Rugi Pembangunan Tol Sumatra Capai Rp.62,5 Milyar

LAMPUNG — Sebanyak 112 warga Desa Bakauheni Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan Provinsi Lampung penerima ganti rugi Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) mendatangi Menara Siger yang dipergunakan sebagai lokasi penyerahan uang ganti rugi. Kedatangan warga sejak pagi hingga siang diawali dengan proses verifikasi berkas di sejumlah meja yang ditangani langsung oleh pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN), Kementerian Pekerjaan Umum, Bank pemerintah yang digunakan untuk penyaluran uang ganti rugi.
Menurut Syahrial Riza Pahlevi sebagai Koordinator Pengadaan Lahan Tol Kementerian Pekerjaan Umum, total sebanyak 62,5 Milyar diserahkan kepada sebanyak 112 keluarga yang memiliki bukti kepemilikan lahan, bangunan, tanam tumbuh di Bakauheni atau tahap pertama lokasi sepanjang 1 kilometer di Desa Bakauheni yang akan dibangun untuk JTTS ruas Bakauheni Lampung Selatan- Terbanggi Besar Lampung Tengah.
Syahrial juga menjelaskan proses ganti rugi tol sudah berdasarkan Undang Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Penyediaan lahan untuk sarana umum di mana dalam undang undang tersebut untuk proses pembangunan jalan tol akan dibentuk dua tim. Pertama tim persiapan, tim penentuan lokasi (penlok) yang dibentuk oleh pemerintah Provinsi Lampung, kedua tim pengadaan pembebasan lahan tol yang diketuai oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Lampung Selatan.
“Sementara sesuai undang undang penilaian harga dilakukan oleh tim apraisal independen baik untuk bangunan, tanah, tanam tumbuh dan jika pemilik berkeberatan maka akan diselesaikan melalui jalur pengadilan sehingga tidak ada proses tawar menawar,”ungkap Syahrial Riza Pahlevi saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat(18/09/2015).
Dalam UU tersebut menurut Syahrial hak alas, tanam tumbuh akan dihitung oleh tim appraisal (penilaian wajar) yang bertugas menetapkan harga yang pantas secara independen sehingga tim ganti rugi lahan tol yang saat ini bertugas menyerahkan uang ganti rugi tidak mengetahui besaran masing masing pemilik lahan, bangunan, tanam tumbuh. Ia mengaku secara garis besar tahapan demi tahapan sudah dilalui oleh tim terutama untuk tahap pertama sepanjang 1 kilometer sekitar 62,5 milyar diberikan di Menara Siger kepada sebanyak 112 pemilik lahan, penggarap.
Jumlah nominal uang yang diperoleh warga cukup beragam menurut Syahrial terjadi karena berdasarkan penilaian tim appraisal lahan warga berbeda beda. Tanah yang bervariasi tersebut berdasarkan letak dengan jalan, lokasi, luasan lahan, sehingga jumlah nominal yang diterima warga berdasarkan penilaian tim penilaian wajar.
Meskipun ratusan warga sudah positif menerima uang ganti rugi yang masuk dalam rekening masing masing namun diakui oleh Syahrial, masih ada sekitar 7 keluarga yang merupakan kerabat dari keluarga pemilik lahan dan rumah Khaerudin Raden Panji yang belum menerima uang ganti rugi. Menurut Syahrial pihaknya mengaku untuk keluarga tersebut masih akan diselesaikan dengan pihak Syahroedin ZP selaku pemilik lahan yang bersengketa dengan keluarga tersebut untuk ditemukan titik temu terkait uang ganti rugi lahan.
“Hari senin besok pihak keluarga akan bertemu dengan keluarga syahroedin untuk kepastian ganti rugi lahan dan kami tidak memiliki kewenangan untuk menentukan terkait hasl tersebut,”ungkap Syahrial.
Paska penerimaan uang ganti rugi dalam bentuk rekening, proses selanjutnya ungkap Syahrial, sesuai dengan kesepakatan berita acara pengosongan lahan, warga masih diberi kesempatan menempati rumah tinggalnya hingga tanggal 27 September 2015. Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh pejabat pembuat komitmen pengadaan lahan jalan tol Bakauheni-Terbanggi Besar.
“Namanya bukan penggusuran tapi berdasarkan kesepakatan maka sampai minggu terakhir bulan September warga harus mengosongkan lahan dan rumah milik mereka dan warga akan membuka sendiri bangunan, tanam tumbuh yang akan dilalui jalan tol,”ungkap Syahrial.
Selanjutnya setelah proses pembebasan lahan memalui ganti rugi tol di sepanjang 1 kilometer, dalam waktu tidak lama tim pembebasan lahan akan segera membebaskan lahan tol milik warga di wilayah Desa Kelawi, Hatta dan sekitarnya. Namun untuk selesainya waktu penggantian rugi Syahrial mengaku masih belum mengetahui pasti waktu pelaksanaannya.
Berdasarkan pantauan, setiap warga mendapatkan uang ganti rugi yang berbeda beda. Seperti yang diterima oleh Ahmad (34) warga Kenyayan yang menempati lahan milik PT ASDP Bakauheni. Ia mengaku hanya memperoleh sebesar Rp 15.100.000,- untuk penggantian bangunan serta tanam tumbuh karena untuk kepemilikan lahan dimiliki oleh PT ASDP Bakauheni. Sementara warga yang memperoleh nilai ganti rugi cukup besar diantaranya Ngadipan warga Bakauheni menerima ganti rugi sebesar Rp 531.100.000,- untuk ganti rugi lahan, bangunan, tanam tumbuh miliknya.
“Setelah melakukan pengecekan jumlah uang yang ada di rekening ya pastinya akan kami gunakan sebagian untuk membeli lahan atau menyewa bangunan tempat tinggal kami karena akhir September harus dikosongkan,”ungkap Ahmad.
Sebagian besar warga setelah mendapat buku rekening dan mesin ATM dari petugas bank langsung melakukan penggantian pin dan pengecekan uang yang ada di dalam rekening masing masing. Sementara itu di luar Menara Siger tampak berjaga puluhan anggota polisi dari polsek penengahan dan Koramil penengahan.
JUMAT, 18 September 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...