UGM Imbau Perhatikan Aspek Syar’i Penyembelihan Hewan Kurban

YOGYAKARTA — Pusat Kajian Halal Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta, mengimbau agar para penyembelih hewan kurban lebih memperhatikan aspek-aspek syar’i dan kesejahteraan hewan. Pasalnya, dari pengalaman tahun sebelumnya mereka mensinyalir masih banyak proses penyembelihan hewan kurban yang cenderung mengarah pada penyiksaan. 
Prof. Ali Agus
Prof. Ali Agus, Dekan Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta, ditemui Kamis (27/9/2015) mengatakan, sinyalemen masih banyaknya penyembelihan hewan kurban tak syar’i dan cenderung menyiksa hewan antara lain karena cara penyembelihan hewan yang asal-asalan, pisau tidak tajam, dan hewan kurban dibiarkan melihat proses penyembelihan hewan kurban lainnya. 
Selain itu, masih pula ditengarai dari pengalaman tahun sebelumnya, pengelolaan daging pasca penyembelihan juga kurang memperhatikan faktor kebersihan. Misalnya, alas yang digunakan kurang bersih dan berdebu, sehingga bisa menyebabkan daging kurban terkontaminasi berbagai bakteri yang bisa membahayakan kesehatan manusia.
Dari aspek keilmuan peternakan, jelas Ali, cara-cara penyembelihan hewan yang asal-asalan dan menyiksa hewan akan berdampak pada psikologis hewan, sehingga mempengaruhi kualitas daging kurban. Jika hewan melihat hewan lainnya disembelih, tentu akan merasa takut dan stress. Berat daging akan menurun dan bisa alot. Karena itu, Ali menyarankan agar dibuatkan tabir penghalang, sehingga hewan yang satu tidak bisa melihat hewan lain yang sedang disembelih.
Berkait kurangnya perhatian terhadap faktor kebersihan, Ali menuding jika alas dari anyaman bambu atau alas lain yang berpori akan menyebabkan daging kurban bersentuhan dengan tanah dan mengakibatkan kotor. Darah hewan yang dibiarkan berceceran bisa pula menimbulkan penyakit, serta penanganan isi perut atau jeroan hewan kurban yang kurang hati-hati bisa menimbulkan daging tidak higienis. Ali menyarankan, agar alas daging kurban sebaiknya menggunakan bahan plastik berwarna putih bening, sehingga jika ada kotoran akan bisa langsung terlihat dan dibersihkan.
“Dengan memperhatikan faktor kesejahteraan hewan kurban dan kebersihan daging, selain bisa menjaga kualitas daging juga memenuhi aspek syar’i, sehingga pemotongan hewan kurban benar-benar bisa halal dan toyibah”, pungkas Ali. 
KAMIS, 17 September 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko/Turmuzi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...