Warga Eks Kampung Pulo Tempati Rusunawa Jatinegara Barat

JAKARTA — Unit nomor TA0305 yang dibaca Tower A lantai 3 ruangan nomor 5, Rusunawa Jatinegara Barat. Begitulah alamat baru Ibu Ida, warga relokasi dari Kampung Pulo. Ia bersama suami dan ketiga buah hatinya tinggal di Rusunawa setelah tempat tinggalnya di bongkar paksa beberapa waktu lalu.
Ibu ida sekeluarga masih dalam fase adaptasi dengan suasana di lingkungan baru. Acapkali ia masih merindukan hangatnya kali ciliwung untuk mencuci, mandi, dan bagaimana anak-anaknya bebas bermain sesuka hati. 
“Rusunawa jatinegara barat khusus ditempati oleh kami warga Kampung Pulo, sewanya murah hanya 300,000 rupiah per bulan dengan gratis sewa 3 bulan diawal penempatan. Akan tetapi terus terang masih rindu suasana Kampung Pulo yang lama,” kata Ibu Ida kepada Cendana News, Kamis (10/09/2015).
Meski sudah menempati ruangan di Rusunawa, namun warga korban penggusuran masih merindukan tempat tinggal lamanya. Karena adanya perubahan mereka harus mengulang beradaptasi lagi.
Seperti yang juga di sampaikan Zidane, seorang pemuda di unit TA0303 merasa kebebasannya terkekang di Rusunawa Jatinegara Barat.  
“Masih penyesuaian, karena disini kita tidak bebas nongkrong, main gitar menyanyi dan berteriak sesuka hati, bergadang, dan lainnya. Maklum anak muda,” ujar Zidane dengan santai.
Apa yang dikatakan warga Rusunawa diamini oleh Penanggungjawab lokasi (Penjalok) Rusunawa Jatinegara Barat, Kasim. Pria berpenampilan sederhana dan murah senyum ini berempati dengan apa yang dirasakan penghuni Rusunawa. 
“Jika saya di posisi mereka maka saya akan merasakan hal yang sama. Namun inilah kehidupan. Saya dan staff akan terusan membantu para penghuni beradaptasi dengan baik disini, ” jelas Kasim.
Lebih lanjut Kasim menjelaskan biaya sewa per unit adalah 300,000 rupiah perbulan dengan tiga bulan pertama mereka digratiskan uang sewa.
“Pembayaran dilakukan melalui bank niaga, tidak secara tunai. Dan 300,000 itu sudah termasuk keamanan, kebersihan, serta pelayanan lainnya, jadi tidak ada biaya apa-apa lagi,” tambah Kasim mantap.
Rusunawa Jatinegara Barat memiliki fasilitas sebagai berikut,  yaitu dua tower masing-masing 16 lantai, berisi 518 unit hunian,  taman bermain anak-anak di belakang setiap tower, dua area parkir besar, taman hijau untuk kenyamanan keluarga bermain di sore hari, instalasi gardu listrik yang di bagi per 10 unit hunian, 8 lift orang, 2 lift barang, pengairan menggunakan PAM, tangga darurat di setiap tower,  12 tenaga security, 10 tenaga kebersihan, 10 tenaga teknisi, ruang perpustakaan, ruang pemeriksaan kesehatan, ruang olahraga massal, musholla, area usaha kecil menengah, pos pantau keamanan, masjid (sedang dibangun), kamera cctv, dan ruangan khusus bagi warga lansia serta berkebutuhan khusus (difabel) dimana selalu siap security di pintu gerbang dengan kursi roda bagi warga yang membutuhkan.
Dengan fasilitas dan totalitas pelayanan masyatakat yang dimiliki Rusunawa Jatinegara Barat maka para warga eks Kampung Pulo diharapkan dapat beradaptasi dan menemukan kenyamanan sejak pintu masuk sampai pintu keluar. Bahkan staff administrasi Rusunawa bernama Gustaf memiliki kisah unik yang diceritakan. 
“Pernah ada suami-istri di atas berselisih faham, saling melempar barang sampai ke lorong hunian, dan yang membersihkan sekaligus membereskan sisa-sisa keributan tersebut adalah staff kami. Sampai disanalah wujud totalitas pelayanan tersebut. Kami ingin mereka tahu bahwa kami siap untuk mereka kapanpun dibutuhkan, kami ingin mereka nyaman,” kenang Gustaf.
Sampai sejauh ini dari 518 unit yang tersedia, baru ditempati sebanyak 477 unit. Sisanya masih menunggu dari kelurahan kampung melayu mengenai data warga Kampung Pulo sesuai peta bidang.
Penempatan unit dilakukan dengan cara diundi. Maksudnya adalah diundi untuk mendapatkan di tower mana huniannya,  lantai berapa,  serta nomor unit hunian.
Seorang warga di tower B bernama Rabi mengatakan, mau atau tidak maka mereka harus menempati Rusunawa. Sekarang saatnya melanjutkan kehidupan dengan beradaptasi di lingkungan yang baru. 
“Walau biaya sewa murah hanya 300,000 per bulan sudah termasuk keamanan,  kebersihan,  dan jasa servis,  perbedaannya tetap ada,  dulu kita punya rumah,  tapi sekarang kita sewa. Di Rusunawa ini walau ruangannya kecil,  tapi modelnya mirip apartemen, ini masih asing bagi saya, butuh penyesuaian, ” ujar Rabi.
Penjalok Rusunawa, Kasim sempat menjelaskan fasilitas tempat usaha yang dikeluhkan penghuni terlalu mahal di harga 400,000 per bulan. 
” Masih kami ajukan ke atasan mengenai hal itu. Akan tetapi pesan yang ingin disampaikan dari tempat usaha tersebut adalah saling membantu. Maksudnya ialah daripada jajan diluar pagar Rusunawa,  lebih baik jajan didalam,  karena sama saja membantu sesama warga, ” pungkas Kasim.
KAMIS, 10 September 2015
Jurnalis       : Miechell Koagouw
Foto            : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...