Warga Pekon Sidomukti Lampung Barat Masih Gunakan Listrik Turbin

LAMPUNG — Sekitar 40 Kepala Keluarga di Kecamatan Bandarnegeri Suoh Kabupaten Lampung Barat terutama pekon Sidomukti masih menggunakan listrik tenaga turbin. Listrik tenaga turbin tersebut diperoleh dari aliran air deras yang banyak terdapat di jalur pegunungan Suoh.
Menurut salah satu warga Pekon Sidomukti Tono (40) penggunaan tenaga turbin sudah dimulai sejak tahun 2008 yang berada di aliran air di daerah tersebut. Ketersediaan listrik di daerah tersebut sudah cukup terpenuhi sehingga warga membayar listrik tersebut dengan harga cukup murah.
“Kalau dibandingkan dengan langganan listrik pada umumnya biaya yang kami gunakan untuk kebutuhan listrik terbilang cukup murah karena sistem pembayaran yang fleksibel,”ungkap Tono Arisya kepada Cendana News, Kamis (10/09/2015)
Ia mengungkapkan setiap kepala keluarga diwajibkan membayar sebesar Rp.50ribu perpanen atau Rp.5ribu perbulan dan jika turbin mengalami kerusakan maka warga hanya membayar iuran ketika ada kerusakan terutama bagi petugas pemeliharaan.
Sistem penyaluran listrik tenaga turbin yang ada di Pekon Sidomuktimasih terbilang sederhana karena menggunakan kabel setebal 2 centimeter sepanjang 4000 meter yang disalurkan ke puluhan rumah warga melewati perbukitan dan perkebunan warga diantaranya, perkebunan cokelat, perkebunan lada, perkebunan karet.
“Tapi karena menggunakan tenaga turbin jika musim kemarau daya listriknya menurun dan tidak bisa dipergunakan untuk menyalakan televisi dan alat elektronik yang membutuhkan daya tinggi,”ungkap Tono.
Saat ini tenaga listrik warga masyarakat masih digunakan untuk penerangan, alat alat elektronik yang tersedia selama 24 jam dan warga mengaku tak pernah mengalami “pemadaman listrik”.
Dari pantauan Cendana News di aliran Sungai Campursari terdapat sekitar 30 turbin milik perseorangan dan kelompok masyarakat. Bersama Eliap Sugianto, Cendana News melihat aliran sungai yang dipergunakan sebagai penggerak turbin yang disalurkan pada pipa pipa PVC mulai ukuran 12 inchi dan beberapa diantaranya 4 inchi dan disalurkan ke rumah rumah rumah turbin berukuran 2×3 meter.
“Ukuran turbin berbeda beda tergantung kemampuan kelompok untuk membuat turbin di aliran sungai ini” ungkap Sugianto.
Investasi yang ditanamkan dalam pembuatan instalasi turbin pada awal 2008 di kelompok milik Sugianto mencapai 40 juta. Kala itu masyarakat masih menggunakan tenaga kincir air dan mulai beralih ke tenaga turbin.
Turbin tersebut rata rata di atas 5000 Watt dan disepanjang aliran air sungai campursari yang mengalir deras dibendung kemudian dibuat intalasi menggunakan semen, pipa pvc, mesin turbin, kabel hingga ke kawasan desa di sekitar kecamatan Bandarnegerisuoh.
Meskipun sudah memiliki energi terbarukan dari aliran air untuk kebutuhan listrik namun masyarakat sebagian besar memiliki mesin diesel tenaga bahan bakar minyak solar. Sementara di Desa Bandarrejo sebagian besar menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLS).
Warga berharap PLN bisa menyalurkan listrik ke wilayah BNS karena saat ini beberapa ratus tiang listrik sudah berdiri dari arah Kecamatan Batubrak namun kapan akan dipasang kabel dan penyaluran listrik ke masyarakat Sugianto mengaku belum tahu, namun masyarakat sebagian sudah diberi perkiraan harga sekitar 3 juta untuk pemasangan listrik hingga menyala.
“Kami yang sebagian besar bekerja sebagai petani pekebun berharap agar segera ada listrik dari PLN karena daya listrik tenaga turbin masih terbilang sederhana,” ungkap Sugianto.
Harapan itu bukan tanpa alasan sebab selama ini masyarakat masih mengalami alat elektronik yang rusak akibat daya listrik yang kurang stabil dari pasokan listrik tenaga turbin tersebut.
Sebagian besar warga bahkan menggunakan stabilizer untuk membuat stabil aliran listrik ke rumah rumah warga yang menggunakan bohlam lampu LED. Sebagian besar warga yang berprofesi sebagai petani menggunakan listrik sejak sore hingga malam hari sebab sejak pagi hingga sore lebih banyak berada di kebun terutama saat musim tanam dan musim panen padi, lada dan kopi.

KAMIS, 10 September 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...