Zulkifli Hasan : Hindari Pilkada ‘Nomor Piro Wani Piro’

PADANG — Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Zulkifli Hasan yang memberikan kuliah umum dalam Pekan Politik Kebangsaan Universitas Andalas (Unand) Kota Padang, mengatakan agar para pemilih muda apalagi mahasiswa untuk tidak memilih para calon pemimpin yang didukung oleh para pemilik modal.
Apalagi memilih pemimpin yang busuk, yang hanya mendahulukan kepentingan kelompok dan golongannya saja. Zulkifli mencontohkan bagaimana pemimpin yang memiliki visi besar dan mereka yang benar-benar berjuang untuk rakyat.
“Kalau Bung Karno dan Bung Hatta akan sangat marah jika ada satu saja rakyat atau golongan masyarakat yang tidak diperhatikan. Mereka adalah pemimpin ideal bagi bangsa ini, mereka memiliki karakter dan wawasan yang luas,” ujar Zulkifli Hasan pada seminar nasional di Unand, Selasa (01/09/2015) pagi.
Menurut Zulkifli, hari ini para calon pemimpin banyak yang tidak memiliki wawasan kebangsaan. Sehingga marak politik praktis dan politik yang tidak sehat mewarnai pemelihan umum kepala daerah (Pemilukada) serentak di Indonesia.
Praktek politik uang membuat bangsa ini makin terpuruk. Bahkan Zulkifli mengistilahkan Nomor Piro Wani Piro (NPWP), sehingga kontrak politik yang dibangun serupa dengan mafia kejahatan. Ada uang, ada barang.
“Masih kita temui para calon pemimpin yang berwawasan sempit, menghalalkan segala cara agar dipilih. Praktek NPWP makin marak, saya harap saudara-saudara tidak menjadi pemilih serupa itu. Tapi menjadi pemilih yang cerdas. Apalagi Pilkada yang sebentar lagi kita lakukan, jangan pakai NPWP lagi” lanjutnya.
Ia juga menyinggung, soal demokrasi yang salah kaprah. Bahkan melenceng dari Pancasila. Sila keempat, yang menyatakan permusyawaratan dan perwakilan telah dinodai dengan praktik one man one vote.
“Ini yang terus bikin bangsa ini ribut, tidak ada lagi keterwakilan. Saudara-saudara bisa lihat, banyak contohnya. Kita bisa lihat saat muktamar Muhammadiyah, itu kan tidak ribut karena mereka bermusyawarah dengan sistem perwakilan,” jelasnya.
Bukan itu saja, ia bahkan mengkritisi visi dan misi para pemimpin yang tidak jelas dalam membawa bangsa ini. Tidak adanya pemimpin yang memiliki visi yang berkesinambungan.
“Ganti presiden, ganti Menteri, ganti buku, ganti kebijakan pendidikan. Sehingga kita tidak punya visi puluhan tahun kedepan, ada baiknya mencontoh Soekarno atau Soeharto yang memiliki program terencana seperti Repelita-nya,” pungkas Zulkifli.
Pantauan Cendana News. Seminar ini juga dihadiri Siswa SMA, Guru, Pegawai dari berbagai instansi pemerintahan dan masyarakat umum.

SELASA, 1 SEPTEMBER 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Foto            : Muslim Abdul Rahmad
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...