Berawal dari Hobi, Abidin Tekuni Budidaya Ayam Petelur

Abidin
LAMPUNG  — Keterbatasan lahan bukan menjadi halangan untuk menyalurkan hobi dalam bidang pertanian dan peternakan. Seperti yang dilakoni seorang warga Desa Klaten Kecamatan Penengahan Lampung, Abidin (35). Di lahan 20×30 meter miliknya, berbagai tanaman tumbuh subur, seperti salak, pepaya hingga Bunga.
Tidak hanya itu, laki laki lulusan Geodesi dari sebuah universitas negeri terkenal di Yogyakarta juga memiliki hobi di bidang peternakan, salah satunya unggas. Dengan lahan seadanya, dia mulai membuat kandang yang diperuntukan untuk ayam petelur hingga budidaya bebek.
Berawal tiga tahun lalu, dengan 100 ekor bibit unggas, dia memulai hobi beternaknya. Bibit ayam umur 13 minggu yang disebut grower tersebut didatangkan dari sebuah peternakan khusus di daerah Katibung Lampung Selatan.
“Saya memulai untuk membeli sebanyak 100 ekor yang saya pelihara dalam kandang baterai dengan pembuatan kandang sederhana menyesuaikan luas lahan yang saya miliki,”ungkapnya kepada Cendana News, Senin (19/10/2015).
Abidin mengaku, ia memelihara ayam petelur bukan dalam tingkat peternakan skala besar namun masih taraf rumah tangga dan hobi. Namun lama kelamaan, ia mulai menambah ayam miliknya menjadi sekitar 300 ekor dan hingga kini mencapai sekitar 400 ekor ayam petelur. Tahap demi tahap yang dilakukannya karena keterbatasan modal yang dimilikinya.
Bibit ayam petelur yang bisa dibelinya menurut Abidin mulai dari tingkat Starter yakni bibit ayam usia 0-12 minggu hingga layer berumur 18 minggu ke atas. Namun untuk memudahkan perawatan serta usia produktif yang lebih panjang Abidin memilih untuk membeli bibit ayam usia grower berusia 13 minggu. Bibit ayam tersebut dibelinya seharga Rp.50ribu per ekor dan ratusan ayam yang dipeliharanya sebagian besar sudah bertelur setiap hari.
“Rata rata setiap hari ayam petelur mampu menghasilkan telur satu butir dan ukurannya berbeda beda sesuai dengan asupan pakan yang diberikan, ukuran juga mempengaruhi berat telur saat ditimbang,”ungkap Abidin.
Pembuatan kandang untuk memelihara ratusan ayam petelur miliknya pun diakuinya “asal jadi” karena tidak memenuhi standar kandang yang baku. Keterbatasan lahan memaksanya membuat kandang ukuran 8×7 meter yang menurutnya tak sesuai dengan ukuran baku pembuatan kandang yang harus menyesuaikan dengan populasi ayam. Ukuran kandang seluas tersebut diisinya dengan populasi ayam 400 ekor yang sebagian besar telurnya sudah bisa dipasarkan bagi warga sekitar.
“Ternak milik saya ini ternak rumahan, skalanya kecil dan hasilnya pun masih terbatas dibeli oleh warga sekitar, warung kecil serta beberapa penjual makanan untuk pembuatan kue,”ungkap Abidin.
Masih minimnya produktifitas ayam petelur miliknya pun diakui menjadi kendala untuk mengembangkan usahanya, namun berkat kerja kerasnya ia pun mulai melakukan pengolahan pakan yang lebih bergizi dari konsentrat, dedak, yang diberikan bagi ayam peliharaannya. Dari sekitar 100 ekor ayam miliknya dalam sehari rata rata sebanyak 95 persen bertelur dan sisanya berdasarkan siklus maka akan istirahat untuk bertelur. 
Setiap harinya ayam petelur miliknya mulai bertelur mulai pukul 9 pagi hingga 12 siang. Pola tersebut membuatnya memberi pengertian kepada pembeli telur ayam jika saat pagi hari dipastikan ia belum memiliki stok telur, sebab sebagian besar telur rata rata habis dibeli hari itu juga akibat kecilnya jumlah populasi ayam yang dipeliharanya. Berdasarkan ukuran untuk 1 kilogram telur rata rata berisi sebanyak 17 hingga 18 butir sesuai dengan ukuran telur.
Pasokan pakan untuk ayam petelur miliknya rata rata menghabiskan pakan sebanyak 12 kilogram per hari dan untuk biaya operasional khusus pakan ia harus merogoh kocek sekitar Rp6juta. Biaya lain lain pun masih harus dikeluarkannya agar produktifitas ayamnya tetap bagus diantaranya pemberian multivitamin, pemberian vaksin dengan suntikan serta perawatan lain. Pengeluaran sebanyak itu pun diakui memberi hasil cukup baik dengan masih di atas Rp6juta per bulan. Untuk administrasi dan keuangan ia mengaku dibantu sang isteri setiap hari.
“Tapi namanya usaha rumahan, tetap dijalani dengan konsekuensi biaya yang harus saya keluarkan dan masih alhamdulilah saya memperoleh keuntungan,”ungkap laki laki berputeri satu ini.
Berbekal ilmu dari sang kakak yang juga memiliki usaha peternakan sejenis di Blitar Jawa Timur, Abidin tidak menyerah, meski pernah mengalami kerugian. Ia juga mengakui dengan keterbatasan modal, serta fasilitas tidak menghalanginya untuk membesarkan usaha yang diakui telah menjadi usaha pokok dan belum bisa ditinggalkan olehnya.
“Beternak ayam harus rajin dalam mengawasi, memberi pakan serta tentunya merawat agar ayam tidak stress dan karena usaha rumahan maka saya yang menangani langsung,”ungkapnya.
Kegigihan laki laki yang terkenal dengan Abidin Telur ini pun akhirnya terus mendorongnya untuk melakukan ekspansi dengan penambahan luasan kandang yang sedang direncanakannya. Ia mengakui usaha rumahan ayam petelur dalam skala kecil tersebut tentunya berdampak sosial dengan terganggunya tetangga namun selama ini karena lokasi yang terpagar tinggi dan kebersihan kandang yang terjaga membuat usahanya tetap berjalan.
Dalam waktu dekat ia mengakui akan segera melakukan pemindahan kandang tersebut ke lokasi yang lebih luas di tanah miliknya. Ia bahkan mengaku sudah menyiapkan lahan yang mampu menampung kandang ayam dengan populasi mencapai sekitar 1000 ekor ayam petelur. Rencana tersebut perlahan lahan akan dijalaninya dari usaha rumahan ke peternakan yang lebih intensif sambil mengurus perizinan serta hal hal tekhnis yang harus dipenuhinya jika akan membuat peternakan skala besar dari instansi terkait.
“Lokasi yang ada di Batangmangir secara kebetulan jauh dari pemukiman penduduk dan sedang saya siapkan agar lebih baik sehingga pengelolaannya lebih bisa intensif,kalau semua persiapan dilakukan nanti baru saya pindah di lokasi baru untuk beternak,”ungkap Abidin.
Ia mengaku masih terus belajar untuk mengembangkan usaha ternak ayam petelur yang ditekuninya. Bahkan untuk memberi semangat kepada pemuda pemuda atau pihak yang ingin belajar beternak ayam petelur serta direncanakan akan memelihara bebek skala besar ia mengaku dengan senang hati dan terbuka memberikan ilmu yang dimilikinya. Ia mengaku bisa dihubungi di nomor 081347574795 bagi yang ingin belajar budidaya ayam petelur atau datang langsung ke rumahnya di Desa Klaten Kecamatan Penengahan Lampung Selatan.

SENIN, 19 Oktober 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...