Besi Pembatas Jembatan Hilang Bahayakan Pengguna Jalan

Pengendara sepeda motor melewati jembatan yang pagar pembatasnya sudah ambrol
LAMPUNG — Besi pembatas di jembatan Jalan Lintas Pantai Timur Pulau Sumatera di perbatasan Desa Sumur dan Desa Ruguk Kecamatan Ketapang Lampung Selatan memprihatinkan. Beberapa bagian tengah hilang di beberapa ruas dan hal tersebut menjadi ancaman bagi pengendara.
Hilangnya besi itu diduga akibat kecelakaan lalulintas beberapa bulan silam dan hingga kini belum diperbaiki oleh instansi terkait. Bagian besi pembatas tersebut bahkan telah patah dan terjatuh di dasar sungai meski belum sepenuhnya terlepas dari bagian jembatan. Lokasi yang berada di tikungan dari arah Lampung Selatan ke arah Lampung Timur tersebut terlihat sangat membahayakan.
Salah satu pengguna jalan yang merupakan sopir ekspedisi dari Lampung, Egan (40) mengaku kondisi besi pembatas yang hilang sangat membahayakan terutama dari arah Lampung Timur sebab berada di belokan.
“Jika ada kendaraan dengan kecepatan tinggi dengan lokasi belokan dikuatirkan akan mengakibatkan kecelakaan apalagi kondisinya tak ada pembatas dan terbuka langsung ke sungai,“ungkap Egan kepada Cendana News, Rabu (28/10/2015).
Keluhan  dikarenakan besi pembatas di jembatan hilang tersebut juga diutarakan warga Desa Ruguk Kecamatan Ketapang yang setiap hari melintas di lokasi tersebut. Beberapa ruas di jembatan terbuka dan membahayakan pengguna jalan tersebut terbukti pernah terjadi saat kendaraan roda dua terperosok masuk ke sungai karena kecepatan tinggi.
“Pembatas besinya hilang dan belum diganti hingga sekarang sehingga pernah beberapa kali kecelakaan terjadi dan masuk ke sungai” terang Nyoman warga Desa Ruguk sembari menunjukkan lokasi kecelakaan kepada CDN.
Ia mengaku kecewa sebab paska kecelakaan lalulintas yang menyebabkan besi pembatas rusak belum ada perbaikan dan hingga kini dibiarkan besi jembatan melompong.
Ia  menyatakan, bukankah besi jembatan dimaksudkan sebagai pengaman pengguna jalan. Namun meski menjadi perlintasan utama namun terkesan diabaikan dan jembatan tersebut menjadi jembatan kedua di Kecamatan Ketapang yang tidak memiliki pembatas besi sehingga sangat membahayakan terutama saat malam hari saat penerangan minim.
 “Jika tidak segera diperhatikan bisa jadi pengguna jalan masuk ke sungai dan ini pernah terjadi bukan sekedar kekuatiran saja,“ungkapnya.
Nyoman  berharap dinas berwenang memiliki pola tanggap dini. Menurutnya, tanggap dini bukan hanya dimiliki oleh relawan bencana alam namun juga pegawai yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.
“Termasuk jembatan dan jalan. Misalkan jalan sudah berlubang ya segera ditangani. Jangan sampai ada korban. Korban atau keluarga korban bisa menuntut pemerintah jika kecelakaan yang dialami disebabkan lubang tersebut, termasuk tak adanya besi pembatas di jembatan. Jika hilang ya segera ditangani, jangan dibiarkan menunggu korban,”harapnya.
Dia berharap pengecekan rutin dilakukan oleh petugas yang mengurusi sarana dan prasarana kepentingan umum. Ditambahkan oleh Nyoman, apalagi status ruas jalan tersebut merupakan jalan utama di lintas Timur.
Sementara Kepala Unit Pelaksana Tekhnis (KUPT) Dinas Pekerjaan Umum Kecamatan Ketapang, Kecamatan Penengahan dan Kecamatan Bakauheni Kabupaten Lampung Selatan,Budi mengakui pengecekan telah dilakukan dan dilaporkan ke bagian bina marga khusus perbaikan jembatan dan jalan. Namun saat ini belum ada realisasi perbaikan.
“Bersamaan dengan kerusakan di ruas jalan lain di tiga kecamatan sudah dilaporkan tapi ditunggu saja waktunya perbaikan,“ungkap Budi.
Pantauan CDN di ruas Jalan Lintas Timur yang banyak dilalui kendaraan truk pengangkut tambang pasir dan tambang batu dari Kabupaten Lampung Timur melintas di ruas jalan tersebut. Akibatnya beberapa ruas jalan kerap rusak pada bagian aspal bahkan diganti dengan jalan rigid.
RABU, 28 Oktober 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...