BPS Catat Kemiskinan di Papua Alami Kenaikan

Garis Kemiskinan
JAYAPURA — Kemiskinan di Papua mengalami kenaikan 0,36 persen dari 27,80 persen pada september 2014 menjadi 28,17 persen pada maret tahun ini.
“Garis kemiskinan yang terbesar konsumsi makanan, sama halnya dengan garis kemiskinan non makanan juga alami kenaikan,” kata Kepala Balai Pusat Statistik (BPS) Papua, Didik Koesbianto, Kamis (01/10/2015).
Garis kemiskinan atau GK diperkotaan, lanjutanya, pada september 2014 sebesar Rp 440.697 lebih tinggi dari pedesaan yang mencapai Rp 388.095. “Ini berarti biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal yang layak untuk makanan dan bukan makanan leboh besar di perkotaan daripada pedesaan,” ujarnya.
Sementara untuk komuditi makanan , dikatakan mantan kepala bidang IPDS di provinsi Sumatera Utara, pengaruh terbesar timbulnya kemiskinan di perkotaan yakni komuditi beras, rokok, kua basah, telur ayam ras, ikan tongkol, ikan tuna, ikan cakalang dan ikan kembung.
“Kalau untuk komoditi yang berpengaruh besar terhadap garis kemiskinan di pedesaan adalah rambat, beras, rokok kretek, daging babi dan gula pasir,” ujarnya.
Selain itu, pada periode Maret hingga September 2014, indeks kedalaman kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan mengalami kenaikan. “Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin menjauhi garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin besar,” katanya.
KAMIS, 01 Oktober 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Foto            : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...