Bulan Suro, Warga di Yogyakarta Gelar Jamasan Keris

Ki Pramono Pinunggul menjamasi keris
YOGYAKARTA — Setelah beragam ritual atau laku budaya dilakukan untuk menyongsong datangnya tahun baru Jawa, Suro, sebagian masyarakat di Yogyakarta melakukan jamasan benda-benda pusaka seperti keris. Jamasan yang berarti membersihkan, dilakukan setahun sekali pada bulan Suro yang dianggap bulan istimewa.
Jumat (16/10/2015), siang, Ki Pramono Pinunggul, warga desa Seyegan, Sleman, Yogyakarta, melakukan jamasan keris miliknya. Membersihkan keris, kata Pramono, juga merupakan tradisi leluhur yang sarat makna. Terlebih lagi keris yang bagi sebagian masyarakat dianggap pusaka itu juga bernilai tinggi sehingga untuk membersihkannya pun ada tata caranya.
Dijelaskan Pramono, keris itu sangat bernilai historis, estetis dan sarat makna. Dari sebilah keris sebuah riwayat silam bisa dituturkan. Dari segi estetika, bentuk keris, pamor atau motif ukiran di bilah keris menunjukkan derajat sang empu pembuatnya, sekaligus juga pemilik kerisnya.
Namun sayangnya, kata Pramono, seringkali sebagian masyarakat menganggap semua hal yang berhubungan dengan keris sebagai musyrik atau klenik. Padahal, keris sudah diakui oleh dunia (UNESCO) sebagai warisan budaya asli Indonesia. “Karena itu, keris menjadi sangat bernilai tinggi, utamanya keris-keris lama dari zaman kerajaan lampau”, jelas Pramono.
Sebagai benda yang sangat berharga, lanjut Pramono, maka sangat wajar jika perlakuan terhadap keris juga istimewa. Antara lain dalam hal membersihkannya dari kotoran atau karat besinya. Sebab, jika salah dalam memperlakukan keris, bisa-bisa keris yang acapkali sudah berusia ratusan tahun bisa rusak.
Karena itu, kata Pramono, dibutuhkan pengetahuan tentang tata cara merawat keris. Terutama dalam hal membersihkan keris. Dijelaskan Pramono, dalam tradisi nenek moyang, membersihkan keris itu juga disertai doa yang dilambangkan dengan berbagai sesaji seperti kembang, kemenyan atau dupa, daun sirih, tembakau dan banyak lagi.
Pramono menjelaskan, berbagai sesaji itu sering disalah artikan sebagai persembahan untuk makluk halus penunggu keris. Padahal, semua sesaji itu adalah perlambang doa. “Kembang dan kemenyan itu berfungsi untuk pengharum, dan ini bermakna doa kebaikan yang berbau harum”, jelasnya.
Sementara itu hal teknis yang diperlukan untuk menjamas keris, menurut Pramono, adalah jeruk nipis dan sabun lerak. Jeruk nipis digunakan untuk membersihkan karat dan kotoran pada keris, dan sabun lerak untuk mencuci keris yang telah dibersihkan dengan jeruk nipis. Proses pembersihan ini, kata Pramono, disebut tahap mutih, karena setelah dibersihkan itu bilah keris menjadi putih.
Setelah dicuci bersih, keris dikeringkan. Sudah itu, dicelupkan ke dalam warangan. Proses ini dilakukan untuk memberi lapisan pelindung besi keris, sekaligus memunculkan pamor atau motif keris. Sesudah proses warangan itu, proses jamasan keris sudah selesai.
Pramono mengatakan, proses jamasan yang dilakukannya tergolong sederhana. Pasalnya, jika menggunakan pakem dari tradisi leluhur, perlengkapan yang digunakan atau sesaji bisa lebih banyak lagi. Dan, tata cara jamasan keris di setiap tempat itu berbeda.
Pramono mengatakan, memperlakukan keris sesuai tradisi bukan sekedar melestarikan budaya. Namun juga wujud penghargaan terhadap sang empu pembuatnya. “Jadi kalau ada orang menyembah keris itu bukan memuja keris, tapi menghormati dan menghargai keris sebagai karya adiluhung sang empu pembuatnya”, pungkas Pramono.
Proses memberi warangan pada keris

Sejumlah keris yang akan dijamasi
JUMAT, 16 Oktober 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...