Bunda PAUD Dukung Hukuman Berat Bagi Pelaku Pedofilia

SURABAYA — Bunda (guru) Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) dan mahasiswa Universitas Muhamadiyah (UM) Surabaya menggelar aksi dukungan terhadap hukuman berat yang dijatuhkan kepada pelaku kekerasan seksual pada anak-anak (pedofilia) dengan cara unik yaitu bakar sosis dan potong terong.
Yuli Astuti, Koordinator aksi bunda PAUD kota Surabaya mengatakan ada 35 persen kasus pedofilia yang terjadi di Surabaya.
“Kasus ini akan semakin bertambah kalau pemerintah tidak memberikan hukuman mati bagi pelaku pedofilia,”terangnya kepada Cendana News, Jumat (23/10/2015).
Ia berharap pelaku pedofilia harus diberi hukuman mati, jangan hanya diberi hukuman injeksi atau suntikan. Dikhawatirkan, jika pengaruh obat suntikan habis, nantinya pelaku akan kembali melakukan aksi bejatnya.
“Selain itu kami juga menguatkan kembali peran aktif para orangtua agar selalu aktif berinteraksi dengan anak,”ucapnya.
Jangan hanya anak dipandang sebelah mata, karena ibu dan ayah yang sibuk bekerja perhatian kepada anak menjadi berkurang. Justru ketika jarang bertemu, anak selalu diajak berdiskusi dimintai pendapatnya mengenai kehidupan di rumah, misalnya dimintai pendapat mengenai masakan, liburan atau yang lainnya.
“Agar anak merasa pendapatnya juga diperlukan di lingkungan rumah,” tandasnya. Untuk menyadarkan hal tersebut, bunda paud kota Surabaya menggelar acara pendampingan dan konsultasi hubungan antara anak dan orang tua setiap satu bulan sekali yaitu melalui program Bina Keluarga Balita (BKB).
Pendampingan khusus untuk orang tua yakni pemahaman kepada orang tua melalui pola asuh yang baik, memahami karakter anak, serta perlunya perhatian lebih kepada anak. Misalnya mengenai tugas sekolah, kegiatan seharian yang ia jalani dan lain sebagainya.
Sedangkan pendampingan dan pemahaman kepada anak-anak yakni melalui anak harus diberitahu bagian mana saja yang boleh dipegang dan tidak boleh dipegang orang lain, seperti dada, kemaluan dan pantat. Jika ada orang lain yang memegang selain orang tua, anak harus berani berteriak dan lari.
“Ciri-ciri anak yang mengalami tindakan kejahatan pedofilia yakni tidak akan berani dengan masyarakat umum, cenderung tertutup, terlihat murung dan pendiam,”terangnya.
Yang paling dikhawatirkan kepada anak-anak sebagai korban yaitu munculnya rasa dendam, kemudian ketika ia sudah dewasa ia akan melakukan hal serupa kepada anak kecil lainnya.
“Itu yang perlu diwaspadai. Selain itu, pemulihan anak korban pedofilia ini tergantung situasi dan kondisi, jika lingkungannya mendukung, maka ia bisa cepat pulih, tetapi jika lingkungan kurang mendukung maka ia akan lama proses penyembuhannya,”ujarnya.
Salah satu mahasiswa yang mengikuti aksi ini, Vitis Indra Qomariyanti mahasiswi semester 3 jurusan Pendidikan Guru (PG) Paud mengaku mendukung dengan adanya kegiatan positif.
“Kami selalu mendukung hal-hal positif, apalagi menyangkut anak usia dini 0-6 tahun. Anak-anak merupakan aset bangsa, jadi harus dilindungi oleh pemerintah dan negara,”tegasnya.

JUMAT, 23 Oktober 2015
Jurnalis       : Charolin Pebrianti
Foto            : Charolin Pebrianti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...