Dampak Kekeringan Semakin Dirasakan Petani di Ponorogo

Areal perkebunan warga
SURABAYA — Musim kemarau yang diprediksi hingga bulan November semakin terasa dampaknya bagi petani di Ponorogo. Sumber air yang biasanya melimpah airnya kini hanya tinggal seperempatnya saja.
Widodo (55 tahun) salah seorang petani di Ponorogo mengatakan, jika hari biasa ia bisa mengairi sawahnya dengan leluasa. Saat ini, baru 3-4 jam saja pengairan sudah habis airnya.
“Pompa diesel yang biasanya turun 1,5 meter kini harus diturunkan hingga 3-4 meter dari atas permukaan tanah,” terangnya kepada Cendana News, Senin (26/10/2015).
Kalau musim hujan, ia biasa mengairi sawahnya dengan menggunakan sumur, sungai dan air hujan, kini saat musim kemarau ia harus mengairi sawahnya dengan menggunakan pompa diesel yang ditanam di dalam sumur. Pasalnya air sungai kini juga sudah mulai mengering.
“Kemarau ini sudah terjadi dari bulan September, kedalaman sumur bor sudah sampai 50 meter,” ujarnya.
Pompa diesel yang biasanya terletak di atas permukaan tanah, kini harus diturunkan hingga 3-4 meter dari permukaan tanah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi beban pompa diesel dalam menyedot air.
“Butuh 2-3 orang untuk menurunkan pompa diesel, kalau sendirian bisa bahaya,” tandasnya.
Hingga bulan Oktober ini, kekeringan masih saja terjadi. Putaran mesin diesel sudah sangat keras untuk menyedot sumber air, gas yang dipakai besar, otomatis solar sebagai bahan bakar juga butuh banyak, lebih lama dan lebih boros.
Dan saat ia mengairi sawahnya, ia harus bergantian dengan pemilik sawah sebelahnya. Jika tidak bergantian maka sumber air yang keluar sangat kecil dan boros penggunaan solar.
“Semoga hujan cepat turun, supaya petani tidak kesulitan air lagi,” harapnya.
SENIN, 26 Oktober 2015
Jurnalis       : Charolin Pebrianti
Foto            : Charolin Pebrianti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...