Dampak Peraturan Pilkada Serentak, Laba Advertising Menurun Drastis

Salah satu pemilik advertising yang ada di Kota Jayapura, Papua
JAYAPURA — Hal yang berbeda pengusaha Advertising atau lebih dikenal pengusaha percetakan dialami pada pemilihan kepala daerah (Pilkada). Sebelumnya usaha mereka melonjak naik, namun karena adanya peratuan baru dimana calon kepala daerah tidak dibenarkan mencentak sendiri alat peraga kampanye menybabkan penghasilan mereka menurun drastis.
“Tahun ini kami sepi calon pengorder, tahun-tahun sebelumnya, kami kebanjiran order dari para calon yang akan ikut Pilkada maupun Pileg,” kata salah satu pemilik Advertising, Kennedy Sagala di Kota Jayapura, Jumat (30/10/2015).
Menurutnya, kebijakan yang dilakukan KPU pusat terhadap daerah, sangat tidak adil bagi dirinya dan juga para pebisnis Advertising. Kebijakan itu, lanjutnya, sama saja dengan menutup laba usaha mereka yang selama ini merupakan omset terbesar.
“Minimal satu kandidat kami bisa mendapatkan pendapatan kotornya sebesar 3 Miliar. Sekarang, sama sekali tidak ada,” ujarnya.
Peraturan yang diterapkan, menurutnya dapat mengendorkan bisnis yang sudah berapa tahun terakhir digeluti. 
“Mungkin aturan itu, ditakutkan kalau ada kandidat yang curi star kampanye. Harusnya pemasangan alat peraga kampanye yang diperketat, bukan buat aturan tidak boleh mencetak di tempat lain, ini sama saja buat usaha kami mati,” kata Sagala mantan layout pada salah satu satu media lokal di Papua.
Ditempat terpisah, Anton, salah satu pengusaha Advertising juga mengaku sangat kecewa atas aturan yang sudah diterapkan penyelenggara Pemilu tersebut. 
“Ini saya berpikir pendek, berarti ada proyek besar di dalam penyelenggara itu, karena menunjuk satu percetakan untuk mengerjakan alat peraga para kandidat Pilkada,” kata Anton.
Menurutnya, seharusnya hal ini dipikir secara matang-matang, jangan membuat keputusan sepihak tanpa menganalisa dampak yang akan terjadi dalam bentuk usaha percetakan. 
“Saya bisa berikan uang lebih kepada istri saya, karena pemasukan mendadak setiap adanya Pilkada, sekarang sudah pasti tidak bisa,” ujarnya.
JUMAT, 30 Oktober 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Foto            : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...