Debu Pembangunan Jalan Tol Sebabkan Ratusan Warga Terserang ISPA

Salah seorang warga dusun kenyayan
LAMPUNG — Ratusan warga di Dusun Kenyayan Bawah Desa Bakauheni Lampung Selatan terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat debu yang berhamburan di wilayah mereka, akibat proses penggusuran di kilometer pertama proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang dikerjakan dengan puluhan alat berat.
Menurut salah satu warga di Kenyayan, Japar (40) debu yang bertebaran tersebut sudah terjadi berbulan bulan sejak proses awal pembangunan jalan tol Trans Sumatera. Bahkan menurutnya, penggusuran lahan warga yang sudah mendapat uang ganti rugi kini dilakukan siang malam oleh alat berat.
“Kami selain mendapat gangguan debu yang mengakibatkan sakit pernafasan juga suara berisik akibat alat berat yang bekerja tanpa henti, sementara warga membutuhkan waktu untuk istirahat,”ungkap Japar kepada Cendana News, Selasa (20/11/2015).
Akibat aktivitas tersebut, jemuran dan rumah warga diselimuti debu. Akibat kondisi tersebut warga berinisiatif untuk menyampaikan keluhan kepada kontraktor PP selaku pelaksana pembangunan tol, namun keluhan warga belum ditanggapi untuk memberikan kompensasi akibat debu serta membagikan masker kepada warga, serta dilakukan penyiraman di gundukan tanah yang telah digusur dan mengakibatkan debu.
“Seharusnya pelaksana tol bisa memberikan kepada kami kompensasi akibat gangguan debu yang mengakibatkan ISPA namun saat kami sampaikan keluhan ke desa belum juga ada tanggapan,”ungkap Japar.
Ia bahkan menyayangkan ada oknum yang tak bertanggungjawab yang menghembuskan isu adanya uang kompensasi akibat debu sebesar Rp200ribu per kepala keluarga. Padahal menurutnya selama beberapa bulan ini ia dan warga sekitar sama sekali belum mendapatkan uang kompensasi. Akibatnya direncanakan warga akan berunjuk rasa menuntut permasalahan debu yang mengganggu warga sekitar pembangunan jalan tol trans Sumatera.
Debu yang beterbangan akibat pembangunan tol sangat dirasakan oleh warga yang memiliki anak bayi, seperti dialami oleh Salwa (32), Susi (34), leli (25),  Maisaroh( 34) yang memiliki anak rata rata balita. Selain mereka beberapa warga lain yang sudah bersekolah di PAUD dan TK dengan rata rata umur 3-4 tahun terimbas secara langsung dengan adanya debu tersebut.
“Saya bahkan harus pergi ke Puskesmas untuk memeriksakan kesehatan anak saya dan positif terkena ISPA selama pembangunan tol berlangsung,”ungkap Maisaroh sambil menggendong anaknya yang masih balita.
Terkait dampak debu yang dirasakan langsung oleh warga di sekitar wilayah 1 kilometer terdampak Jalan Tol Trans Sumatera, salah satu pekerja dari PP, Somad, mengaku telah dilakukan penyiraman setiap hari dengan menggunakan mobil tangki. Penyiraman dilakukan disepanjang jalan di area rumah warga.
“Kami lakukan penyiraman sepanjang satu kilometer yang terimbas jalan tol dan karena musim kemarau meski rajin kami siram tapi cepat kering dan terus berdebu,”ungkap Somad.
Pantauan Cendananews.com sebuah mobil tanki warna biru dengan simbol PP berjalan di area pemukiman warga yang terdampak debu. Sementara warga lain harus rajin membersihkan baju yang dijemur akibat terkena debu. Selain itu akses jalan warga untuk ke Pelabuhan Bakauheni kini sudah tergusur dan warga harus memutar memilih jalan lain yang lebih jauh.
SELASA, 20 Oktober 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...