Demo Korban Penggusuran di Kantor DPRD Sulut Ricuh

Pendemo dan Aparat saling dorong
MANADO — Demo warga korban penggusuran dari kampung Bobo Kecamatan Molas Manado, Sulawesi Utara (Sulut) yang dilakukan di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut Selasa (13/10/2015) siang diwarnai kericuhan. 
Puluhan warga korban penggusuran dari kampung Bobo bersama sejumlah aktifitis dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Manado dan Tunas Hijau, terlibat aksi saling dorong dengan petugas Kepolisian dari Polda Sulut yang berjaga di halaman utama kantor DPRD Sulut.
Pantauan Cendana News di lokasi, massa dari kampung Bobo bersama sejumlah aktifis dari LBH Manado dan Tunas Hijau awalnya hanya melakuka aksi damai, namun setelah tiga jam berorasi dan menyampaikan aspirasi, tidak ada satupun anggota DPRD Sulut dari 45 anggota yang akan mau menerima para pendemo ini, sehingga massa yang dikawal sejumlah aktifitis ingin memaksa masuk ke ruang paripurna tempat para legislator DPRD Sulut sedang melakukan rapat untuk penentuan Pimpinan Dewan Sementara. 
Karena massa dari kampung Bobo bersama sejumlah aktifitis ingin memaksa masuk namun dihalangi oleh petugas polisi yang sudah memasang pagar betis sehingga kericuhan tidak bisa dihindari.
Puluhan polisi dan warga kampung Bobo bersama sejumlah aktifis LBH akhirnya terlibat aksi saling dorong dihalaman utama kantor DPDR Sulut. Karena kekuatan polisi yang melakukan pengamanan sangat kuat, massa tidak bisa menembus brikade polisi, sehingga aksi saling dorong terus berlangsung. 
Warga kampung Bobo bersama sejumlah aktifis LBH akhirnya memilih mundur dan menghindari bentrok dengan polisi. Sejumlah aktifis kemudian melanjutkan aksi dengan berorasi sambil tetap menunggu legislator DPRD Sulut keluar menemui mereka.  Karena tidak ada satupun anggota DPR Sulut yang menemui mereka, warga kampung bobo yang berdemo sejak pukul 10 pagi, akhirnya bergeser ke depan halaman ruang Paripurna. 
Namun karena masih mendapat pengawalan polisi massa kemudian tertahan dan memilih duduk sambil tetap menunggu ada pihak dari DPRD Sulut bertemu para warga. Setelah lima (5) jam menunggu, pendemo akhirnya ditemui oleh Sekretaris Dewan Provinsi Bartolomius Mononutu. Warga kampung bobo yang diwakili Aktifis Maria Taramen akhirnya menyerahkan dokumen penolakan penggusuran dan minta Sekretaris DPRD Sulut untuk menyampaikan aspirasi masyarakat kepada Pimpinan DPRD. 
“Kami meminta Sekretaris Dewan bapak Mononutu, harus meneruskan aspirasi dari warga karena persolan ini sudah berlarut-larut dan pihak Dewan terkesan tutup mata, dan kurang peduli terhadap nasib warga yang menjadi korban penggusuran,” kata Maria didepan Sekretaris DPRD Sulut.
Setelah Sekretaris Dewan menerima aspirasi warga, dan berjanji akan menindak lanjuti laporan dan tuntutan mereka, warga kemudian membubarkan diri, namun mereka berjanji akan kembali ke Gedung Cengkeh jika Aspirasi mereka diabaikan oleh pihak DPRD Sulut. 

SELASA, 13 Oktober 2015
Jurnalis       : Ishak Kusrant
Foto            : Ishak Kusrant
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...