Dinilai Tidak Professional, Penyelenggara TdS 2015 Dikecam Masyarakat

Foto Spanduk kekecewaan masyarakat di sekitar tempat penginapan peserta TdS 

PADANG — Perhelatan ajang balap sepeda internasional, Tour de Singkarak (TdS) pada tahun 2015 ini mendapat kecaman dan kemarahan masyarakat Kota Padang. Pasalnya pihak penyelenggara tahun ini dinilai tidak profesional dan membuat masyarakat terlunta-lunta, dan dirugikan karena steriliasi jalan umum yang dipakai untuk rute balapan.
Sterilisasi yang dilakukan dirasakan masyarakat sangat kelewatan. Masyarakt sudah tidak boleh melintasi jalur yang dipakai untuk rute TdS semenjak pukul 11.00 WIB padahal jadwal pembukaan acara TdS baru berlangsung pada pukul 11.00 pula di Pantai Carocok Kabupaten Pesisir Selatan. namun terpisah jarak puluhan kilometer dan itupun belum mulai start.
Kecepetan rata-rata pebalap yang hanya 42 kilometer per jam, seharusnya sudah memasuki Kota Padang pada pukul 12.30 WIB. Sementara, jarak dari Pantai Carocok menuju Teluk Bayur, yaitu sepanjang 75 kilometer. Namun, hingga pukul 13.45 WIB, para peserta balap tak terlihat melewati jalur di Kota Padang.
Salah seorang warga Kota Padang, Danil Mahmud Chaniago di Jalan Jenderal Sudirman merasa sangat dirugikan, pasalnya dosen salah satu perguruan tinggi ini harus mengajar. Sedangkan para pebalap tidak jua kunjung melintas meski sudah 2 jam menunggu. Dan pihak keamaan melarang ia menggunakan jalan.
“Lah labiah 2 jam kami takuruang..ndak bisa kalua, kecek paja paja tu rombongan tour de singkarak ka lalu, tapaso jalan kami dihambek..lah manumpuak warga di tapi tapi jalan, (Sudah lebih dua jam kami terkurung, tidak bisa keluar, kata pihak keamanan rombongan Tour de Singkarang mau lewat, terpaksa jalan kami dihambat, warga sudah banyak yang menumpuk di tepi jalan,)” tulisnya dalam akun media sosialnya sembari mencantumkan video yang menggambarkan situasi jalanan yang lengang.
Padahal dalam jadwalnya, seharusnya para pebalap telah melewati jalur ini dua jam yang lewat. Ia juga kesal dengan pihak penyelenggara yang seenaknya mengklaim bahwa para warga yang menumpuk adalah penonton yang antusias menonton. Dalam kenyataannya para warga kesal dan menggerutu karena hak-hak mereka dirampas.
“sado e manggaretek, bisuak berita di kota. dikecean masyarakat antusias jo alek ko. (Semua warga sudah kesal dan menggigil menahan geram, besoknya di berita-berita ditulis bahwa masyarakat antusias dengan perhelatan ini,),” tukasnya.
Lain halnya dengan masyarakat lainnya yang terpaksa meliburkan sekolah anaknya , Aryanti yang ditemui di Simpang DPRD Provinsi Sumbar, merasa kesal dengan penutupan jalan yang dilakukan pihak keamanan. Pasalnya, ia berniat mengantarkan anaknya berangkat sekolah ke salah satu SD yang ada di daerah Ulak Karang.
“Anak masuk sekolah jam 13.00 WIB. Tapi, mobil nggak bisa lewat, gimana ini. Bisa-bisa anak nggak sekolah,” ujarnya.
Menurutnya, pelaksanaan jadwal lomba balap TdS ini tidak berjalan sesuai informasi yang didapat dari media. Sementara itu, puluhan warga juga terpaksa adu mulut dengan petugas polisi yang mengamankan jalan di Simpang DPRD Sumbar karena penutupan yang tak kunjung dibuka, sementara mereka sudah menunggu berjam-jam.
Sebagian besar warga yang berdiri di pinggir jalan mengaku bukan berniat menonton para pebalap TdS, mereka terpaksa berhenti karena disterilisasi. Sementara itu, salah satu warga lainnya Andri Mardiansyah mengatakan, informasi yang ia baca dari media massa lokal, untuk jalan satu arah masyarakat masih boleh lewat sebelum sterilisasi masa atau mobil pengamanan lewat. Setelah itu, pengguna jalan akan diarahkan ke jalan alternatif.
“Tapi petugas tidak memberitahukan informasi itu,” jelasnya.
Menurutnya, masyarakat setempat juga tidak mendapatkan informasi dari media lokal ihwal pengaturan sterilisasi dan penyelenggaraan lomba.
“Info yang kita dapat dari teman di area start bahwa para pebalap tertahan di Pesisir Selatan, tapi kita tidak mendapatkan info itu dari petugas,” ujar Andri.
Selain itu, ia merasa kecewa dengan pengamanan yang dilakukan petugas kepolisian. Sebab, warga ditahan untuk tidak melintas, sementara saat aparat TNI lewat, polisi terang-terangan membiarkan saja.
“Polisi atau aparat boleh lewat itu tumpang tindih, pilih kasih. Harapannya, harus lebih banyak memberitakan TdS terutama masalah sterilisasi jalan,” pungkasnya.
Dimedia sosial, masyarakat Kota Padang masih banyak yang memposting kekesalan mereka bahkan, komik strip “Si Bujang” karya Iggoy El Fitra menyindir dengan cukup tajam melewati kartunnya tersebut.  
Komik strip si bujang, karya Iggoy El Fitra Kritik Penyelengaraan TdS 2015
MINGGU, 04 Oktober 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Foto            : Istimewa
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...