Disambut Baik, Program Asuransi Usaha Tani Padi Perlu Sosialisasi

Petani sedang membajak sawah
LAMPUNG — Program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang diluncurkan pemerintah untuk membantu petani yang gagal panen masih perlu sosialiasi di lapangan. Meski disambut baik, namun masih banyak yang tidak tahu mekanisme dari program yang akan digulirkan melalui dinas pertanian tersebut.
Salah satu petani di Desa Bangunrejo Kecamatan Ketapang Lampung Selatan, Gean (34) mengaku masih awam dengan asuransi atau model pembiayaan sejenis sehingga ia berharap instansi terkait bisa melakukan sosialisasi terkait program tersebut.
“Kalau programnya bisa membantu petani tentu bagus dan akan diikuti oleh petani tapi ini berkaitan dengan pembiayaan dan uang harus diberi penjelasan yang lengkap kepada petani,”ungkap Gena saat berbincang kepada Cendana News, Jumat (30/10/2015).
Ia berharap, premi asuransi untuk para petani tersebut tidak memberatkan dan saat klaim asuransi ketika gagal panen petani tidak mengalami kesulitan memperoleh dananya. Apalagi keterbatasan modal untuk pembiayaan proses pengolahan lahan pertanian menjadi kendala utama para petani padi. Bahkan selama ini petani padi juga sudah terbiasa melakukan peminjaman modal kepada para bos pupuk untuk melakukan pengolahan lahan sawah serta untuk biaya operasional pengolahan lahan pertanian mereka.
Gean mengaku memiliki lahan seluas setengah hektar dan ia masih belum mengetahui mekanismenya karena persyaratan untuk mengikuti asuransi diantaranya untuk kepemilikan lahan tananaman padi seluas satu hektar. Ia mengaku menyambut positif jika ada asuransi bagi petani tapi masih memerlukan penjelasan terkait tata cara untuk mengikuti program tersebut.
“Kita kan belum tahu kalau petani seperti kami yang lahannya kurang dari satu hektar apakah boleh ikut program tersebut atau tidak makanya perlu penjelasan lebih lanjut,”ungkapnya.
Sebelumnya Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Lampung Selatan melakukan sosialisai terkait rencana pemerintah menggulirkan program asuransi petani tersebut.
Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Lampung Selatan, Ir. Noviar Akmal dalam sosialisasi (29/10) mengungkapkan setelah dalam APBN 2015 ini para petani mendapatkan modal usaha dalam bentuk pinjaman melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Kementerian Pertanian. Dalam tahun anggaran APBN 2016 nanti,  para petani akan mendapatkan program baru yaitu Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).
  
“Tahun depan, Kementerian Pertanian akan memberikan program bagi para petani berupa asuransi apabila mengalami gagal panen,” ungkap Noviar Akmal.
Program tersebut berdasarkan kondisi yang dialami oleh para petani selama ini yang mengalami gaga panen. Mekanismenya seperti gagal panen yang diakibatkan oleh bencana alam, fuso, dan musim kemarau panjang akan diganti melalui leading sektor masing- masing.
Lebih lanjut kata Noviar Akmal, untuk mendapatan asuransi yang diperoleh petani bila terjadi gagal panen tersebut, para petani akan dibebankan biaya atau premi untuk membayar asuransi pada setiap musim tanam tiba.
“Besaran preminya nantinya sebesar Rp. 180.000,- setiap 1 hektar lahan sawah yang dimiliki petani dan itu akan ada datanya serta bukti bahwa petani tersebut ikut asuransi, kalau tidak ikut asuransi ya tidak bisa klaim saat gagal panen,”terangnya.
Dengan digulirkannya program tersebut ia berharap para petani diharapkan tidak akan khawatir lagi terhadap tanamannya jika terjadi gagal panen yang sudah terjadi sebelum- sebelumnya.
Meksipun demikian ia mengaku belum menuturkan mekanisme detail terkait asuransi khusus petani yang akan digulirkan tersebut. Petunjuk tekhnis dan petunjuk pelaksanaannya menurut Noviar akan segera diperoleh sambil menunggu program tersebut direalisasikan di tahun 2016 mendatang.
Pantauan media CDN di sebagian besar lahan pertanian di wilayah Lampung Selatan khususnya lahan pertanian sawah masih mengalami kekeringan. Hektaran sawah milik petani bahkan kering dan tidak bisa ditanami akibat kemarau berkepanjangan yang masih melanda.
SABTU, 31 Oktober 2015
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Jurnalis       : Henk Widi
Bergabung dengan Cendana News pada bulan November 2014. Dengan latar belakang sebagai Jurnalis lepas di beberapa media dan backpacker, diawal bergabung dengan Cendana News, Henk Widi fokus pada pemberitaan wisata dan kearifan lokal di wilayah  Lampung dan sekitarnya.
Akun Twitter” @henk_widi
Lihat juga...