Dua Anggota AJI Indonesia Berbagi Pengalaman di STMIK Balikpapan

Berbagi pengalaman dengan memutar film dokumenter
BALIKPAPAN — Dua anggota AJI Indonesia yang melakukan perjalanan keliling Indonesia menggunakan roda dua berbagi pengalaman kepada mahasiswa Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Balikpapan jurusan program multimedia, Kamis pagi (15/10/2015).
Dandi Trilaksono dan Ucok yang melakukan perjalanan sejak Januari 2015 ini, tiba di Balikpapan sejak Selasa lalu dan memberikan pengalaman jurnalistik dan juga pengalaman mengenai film dokumentar hasil perjalanan dari Jawa-Bali-NTB-NTT, Papua, Ambon, Sulawesi dan Kaltim.
Dandy mengatakan ada banyak cerita yang tidak muncul di pemberitaan media massa atau jika diberitakan dalam bentuk kemasan lain.
“ Sekarang adik-adik bisa melihat lebih jauh soal Indonesia bukan hanya soal Indonesia dengan alamnya tapi ekploitasi SDA yang kini diperebutkan. Seperti aksi Masyarakat Jawa menolak pabrik Semen di Rembang. Kita sudah buat enam film dokumentar dari perjalanan ini yang bisa dilihat di Youtube atau dikanal Watchdoc Image,” terang Dandi saat memberikan paparan di hadapan mahasiswa STIMIK.
Perjalanan yang sudah ditempuhnya hingga Balikpapan mencapai 12 ribu kilometer diberi nama ekspedisi Indonesia biru. Setelah ke Balikpapan, rencananya ekspedisi ini akan berlanjut ke Banjarmasin dan Pontianak.
“Yang muncul yang baik-baik saja. Seolah Indonesia baik-baik saja  tidak ada masalah padahal berapa besar kerusakan sumber daya yang harus ditanggung generasi mendatang,”kritik anggota Majelis Pertimbangan Organisasi AJI Indonesia ini.
Dandi Laksono dan Ucok yang juga mampir ke Samarinda pada akhir pekan kemarin juga menyoroti betapa dasyatnya eksploitasi kekayaan alam Kaltim untuk kepentingan batu bara.
Dalam perkembangan media, eks wartawan televisi swasta inipun menilai perkembangan media baik Koran maupun televiso termasuk online tidak lepas dari penguasaan kapitalis oleh 12 orang atau kelompok besar ini.
“440 koran yang ada di Indonesia dengan merk berbeda tapi dikuasai 12 kelompok. Sekarang ini kita jejali oleh industry media yang hidup dari iklan dan APBD,” tandasnya.
Dandy menambahkan fenomena ini terjadi hampir di semua media lokal di daerah. Kita sebagai pembaca termasuk penonton televisi jadi sekumpulan konsumen yang tidak ada orientasinya.
KAMIS, 15 Oktober 2015
Jurnalis       : Ferry cahyanti
Foto            : Ferry cahyanti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...