Fasilitas Irigasi Rusak dan Hilang, Petani Gunakan Penutup Alternatif

Saluran air
LAMPUNG — Kebutuhan air bagi lahan pertanian di wilayah Lampung masih tergantung pada pengairan tersier saluran irigasi dari Sungai Way Asahan yang mengalir di Kecamatan Penengahan Lampung Selatan. Kondisi tersebut sudah berlangsung berpuluh puluh tahun lalu meskipun kondisi sarana irigasi yang ada sekarang sudah tak lagi memiliki beberapa penutup aliran air yang sebelumnya dimanfaatkan petani untuk membagi bagi air ke areal persawahan.
Salah satu petani, Komar (34) yang menggarap lahan sawah seluas setengah hektar mengaku saat perbaikan saluran irigasi tahap kedua pada tahun 1990-an beberapa saluran irigasi diperbaii termasuk “tetek” atau alat penutup pintu air terbuat dari besi yang digerakkan dengan besi ulir dan dikunci. Pintu pintu air tersebut digerakkan dengan alat menyerupai kemudi kapal dan dibuka saat tertentu oleh petugas khusus pembagian air. Namun lama kelamaan beberapa alat tersebut hilang akibat dicuri oknum tak bertanggungjawab.
“Besi yang digunakan sebagai penutup saluran irigasi awalnya lengkap tapi perlahan lahan akibat ulah tangan tak bertanggungjawab akhirnya hilang, besar kemungkinan dijual karena besi tersebut cukup berat,”ungkap Komar kepada media Cendana News, Sabtu (17/10/2015).
Komar mengaku dari intansi terkait yang menangani bagian pengairan serta sarana irigasi sudah ditunjuk petugas namun karena alat yang hilang malam hari dan pengawasan kurang mengakibatkan petani menggunakan kayu, bambu serta batang pisang pada saat akan mengairi sawahnya dan harus membendung aliran air. 
Petani lain, Solihin (45) yang bergantung pada air irigasi Sungai Way Asahan menuturkan selain saluran penutup irigasi yang sudah hilang dan rusak, di beberapa bagian saluran irigasi terlihat kerusakan. Kondisi semen serta saluran pembagian air pun dipenuhi sampah rumah tangga yang terkumpul dari sampah sampah rumah tangga saat musim hujan tiba.
“Kalau musim hujan datang sawah kami terpaksa dipenuhi sampah plastik serta sampah rumah tangga yang diakibatkan warga membuang sampah sembarangan di saluran irigasi,”ungkap Solihin.
Selain faktor usia, beberapa saluran irigasi pecah pada bagian pondasi akibat musim kemarau berkepanjangan yang masih melanda sebagian wilayah Lampung. Saluran irigasi yang dibangun dengan dana cukup besar tersebut bahkan terbengkalai dan tak berfungsi dengan baik.
Ratusan warga petani yang menggunakan bendungan Way Asahan dan dialirkan dalam saluran irigasi sekitar 5 kilometer masih bisa menggarap lahan sawahnya dengan pasokan air yang cukup. Namun sebagian besar petani lainnya justru sama sekali tidak bisa menggarap sawah, ladang untuk ditanami palawija bahkan padi sawah akibat kekeringan dan tidak bisa dialiri air akibat lokasi yang lebih tinggi dari aliran Sungai Way Asahan.
Selain tak adanya saluran irigasi yang baik, beberapa lahan pertanian milik warga yang berada di saluran irigasi pun terkena patok patok Jalan Tol Trans Sumatera yang dipastikan terkena dampak lahan tol. Warga sebagian menjual lahan tanah mereka untuk dipergunakan sebagai tanah kavlingan dan tak lagi dipergunakan sebagai lahan pertanian.
Penutup air

Areal persawahan
MINGGU, 18 Oktober 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...