FKUB Papua: Tidak Ada Efek dari Aceh Singkil ke Papua

Pertemuan tokoh-tokoh di Mapolda Papua
JAYAPURA — Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Papua mengklaim wilayah Indonesia paling timur tidak ada sama sekali dampak sosial ataupun rasa cemas, pasca pembakaran gedung gereja di Aceh Singkil, provinsi Aceh beberapa waktu lalu.
“Saya pikir keliru, kalau masyarakat Papua akan bereaksi membalas hal yang sama.?Tidak ada satupun warga yang akan membakar tempat ibadah. Tidak ada efek dari Aceh menyebar ke Papua dan itu keliru. Dan saya sudah koordinasi dengan Menkopolhukam dan di Papua tidak akan pernah terjadi seperti itu,” kata Biniluk, Jumat (16/10/2015).
Penegakkan keadilan, lanjutnya masalah dibakar atau membakar tidak ada di Papua, justru keadilan untuk bangsa ini yang perlu dibicarakan dari Papua. “Bangsa ini terdiri dari berbagai agama, suku dan ras. Jadi, para pemimpin bangsa harus sadar akan kemajemukan warganya,” ujarnya.
Menurutnya, adanya rasa nasionalisme yang mantap, jadi kalau ada yang salah, harus dikatakan salah dan kalau benar, makanya benar dan itu harapan yang harus dipenuhi pemerintah.
“Saya berharap masalah Aceh harus diselesaikan secepatnya seperti kebakaran mushola di Tolikara yang direspon begitu cepat,” jelasnya. ?
Sementara itu, Ketua Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII), Maniani katakan harus ada kedamaian dinegeri ini, dan jangan lagi ada kasus seperti di Aceh dan Papua. Sehingga, menurutnya, dengan adanya kedamaian maka seluruh masyarakat dapat bekerja dan melihat kehidupan sesungguhnya.?
“Di Papua tetap tenang dan dukung program pemerintah. Tidak akan ada balas membalas dengan pembakaran masjid atau hal lainnya dan Papua tetap tenang,” kata Maniani.
Ditempat yang sama, Kapolda Papua, Irjen Pol Paulus Waterpauw saat menggelar tatap muka dengan tokoh-tokoh adat, agama dan masyakrat di Mapolda Papua, Kamis (15/10/2015) kemarin, mengatakan di Papua sudah sejak lama menunjukkan toleransi umat beragama yang sangat tinggi.
“Menurut saya sebagai tokoh masyarakat, kita semua harus dapat mengontrol dan menciptakan toleransi antar umat beragama demi terciptanya rasa aman dilingkungan kita masing-masing, tanpa ada perbedaan ras, suku dan budaya. Dan kita tahu semua di Indonesia, Bhineka Tunggal Ika lah yang menyatukan kita semua,” kata Waterpauw.
JUMAT, 16 Oktober 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Foto            : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...