Ganti Rugi Tol Kecil Dinilai Sengsarakan Masyarakat Lampung

Rumah warga yang terkena patokan jalan tol
LAMPUNG — Setelah 1 kilometer mulai dari titik nol lahan telah dibebaskan, persoalan besaran ganti rugi lahan tol Trans Sumatera justru muncul di wilayah Kabupaten Lampung Tengah. Berdasarkan nilai yang dihitung oleh tim penentu harga lahan tanah tim penyedia lahan tol Trans Sumatera, tanah yang dilalui lahan tol akhirnya diketahui masyarakat seharga Rp 35ribu per meter. Besaran yang oleh sebagian masyarakat terutama masyarakat petani sangat mengecewakan dan menyengsarakan.
Kekecewaaan keputusan besaran harga ganti rugi lahan tol tersebut dikemukakan oleh salah seorang warga Bandar Jaya Kabupaten Lampung Tengah bernama Sunindar, ia mengaku sangat kecewa dengan hasil penilaian terkait harga tanah di daerah itu. Apalagi ia mengaku besaran itu tentunya jangan disamakan dengan pembebasan lahan tol yang ada di Bakauheni karena secara de jure (hukum) tanah di Bakauheni sebagian besar milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (PT ASDP) Bakauheni dan milik mantan gubernur Lampung Sjachroedin ZP.
“Kalau mereka menerima adalah wajar karena mereka tidak memiliki alas hak atas tanahnya dan sebagian besar mendapat ganti rugi tanam tumbuh serta bangunan yang ditinggali”ungkap Sunindar yang mengaku memantau perkembangan ganti rugi lahan tol di wilayah lain terdampak tol Trans Sumatera, Jumat (16/10/2015).
Ia menilai wajar pada wilayah satu kilometer terdampak tol banyak warga menerima karena secara de facto, faktanya berbeda dengan wilayah lain dimana kepemilikan tanah diakui dengan cara membeli dari pihak lain bukan menumpang atau menyewa. Menurut Sunindar konsekuensinya ia dan beberapa petani lain akan menolak besaran ganti rugi lahan tol yang dinilai sangat murah tersebut.
Ia mengaku dengan besaran harga Rp.35ribu jika dikalkulasikan di lahan sawah miliknya tak sebanding dengan harga saat dirinya membeli sawah tersebut sekitar 3 tahun lalu. Bahkan jika dihitung hitung untuk membeli kembali sawah seukuran yang dimiliki sekarang maka dipastikan dirinya tak akan mampu membeli. Ia mengaku sepakat dengan masyarakat lainnya sesama warga serta petani yang terdampak jalan tol untuk menolak besaran harga dan memilih untuk tidak menyetujui jalan tol di wilayah mereka.
“Saat ini harga pasaran lahan di daerah ini berkisar antara Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per meternya. Kalau mendapat ganti rugi lahan tol sebesar Rp35ribu berarti tidak sesuai,”ungkapnya.
Ia mengaku harga yang diberikan oleh tim aprasial sangat jauh dari kewajaran. Ketidakwajaran tersebut membuat warga mulai gerah akibat tidak bisa membeli lahan untuk lahan pertanian atau untuk tempat tinggal.
Sosialisasi dan rapat terkait penetapan harga pembebasan lahan untuk proyek jalan tol di Lampung Tengah itu, dihadiri masyarakat dari Kelurahan Bandar Jaya Timur dan Karang Endah yang terkena gusur, dalam proyek pembangunan jalan tol Sumatera di Lampung.
Ini merupakan pertemuan yang kedua kalinya atas keberatan warga Bandar Jaya Timur, dengan penetapan harga ganti rugi lahan masyarakat yang terkena proyek tersebut.
Proyek tol Sumatera di Lampung membutuhkan lahan sekitar 140-an kilometer dan lebar sekitar 150 meter, yang dimulai dari Bakauheni di Kabupaten Lampung Selatan sampai Terbanggi Besar di Kabupaten Lampung Tengah. Proses pembebasan lahan dan ganti rugi telah berlangsung. Rencananya pembangunan proyek itu berlangsung tahun 2016 mendatang.
Pantauan Cendana News, beberapa lahan warga berupa lahan pertanian termasuk rumah sudah dipatok menggunakan patok merah. Beberapa warga bahkan sudah menjual pohon yang ada di sekitar rumah dan kebun yang terkena lahan tol.
“Saya menebang beberapa pohon jati dan pohon kelapa untuk berjaga jaga dan untuk tabungan agar nanti sewaktu waktu tergusur sudah memiliki uang, sebab menunggu uang ganti rugi lahan tol masih lama dan belum pasti,”ungkap Suminah salah satu warga.
Warga beralasan proses ganti rugi lahan yang ada di wilayahnya berbeda dengan ganti rugi lahan di Bakauheni karena kepemilikan lahan berbeda. Jika warga di sepanjang 1 kilometer lahan tol Bakauheni Terbanggi-Besar menerima besaran ganti rugi lahan karena sebagian besar bukan pemilik atas lahan tersebut melainkan milik Sjachroedin ZP.
Sementara bagi warga lain yang berprofesi sebagai petani ia mengaku kebutuhan akan lahan sangat penting untuk sumber penghasilan. Namun jika ganti rugi lahan tidak sesuai dipastikan para petani akan kesulitan memperoleh lahan pertanian yang sesuai untuk mencari nafkah dari lahan pertanian tersebut.

JUMAT, 16 Oktober 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...