Gencarnya Intimidasi Bagi Warga yang Kukuh Menolak Penggusuran Kota Lama Kendari

KENDARIAdalah J.N Vosmaer seorang berkebangsaan Belanda tertarik dengan sebuah teluk yang indah lalu kemudian memberinya nama ‘Vosmaer Baai’ yang kemudian kita kenal sebagai Teluk Kendari. J.N Vosmaer kemudian membangun pelabuhan, rumah peristirahatan, Istana Raja Tebau pada tahun 1832. 

Seiring waktu kota itupun semakin berkembang, lalu lintas perdagangan menjadi ramai, banyak pedagang Bugis dan Tionghoa datang lantas menetap di kawasan itu. Kawasan inilah yang kemudian dikenal dengan Kota Lama Kendari.

Kawasan kota lama Kendari mayoritas dihuni penduduk etnis Tionghoa yang sudah turun temurun, rata-rata mereka adalah pengrajin emas dan perak berkualitas tinggi berasal dari pertambangan Sulawesi Tenggara dan terkenal hingga ke negeri Belanda. Kota lama ini juga menjadi model persatuan dan persaudaraan antara penduduk bersuku asli Tolaki mayoritas Muslim dengan warga etnis Tionghoa yang berbeda keyakinan agama. Dari logat maupun cara bersikap penduduk etnis tionghoa sangat ramah dan sukar dibedakan dengan penduduk asli suku Tolaki.

Kini, kota lama sedang menunggu detik-detik terakhir eksistensinya demi pembangunan megaproyek Jembatan Bahteramas yang diprakarsai oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara. Proyek sarat ambisi ini yang disuarakan sejak tahun 2010 ini akan segera berdiri megah di atas pondasi yang dibangun dengan cara menghapus jejak sejarah.

Kritikan memang sempat sangat keras atas proyek ambisius ini, tetapi selayaknya “anjing menggonggong kafilah berlalu” ambisi ini pun harus tetap diwujudkan. Mungkin, bagi sebuah ambisi, kota lama hanyalah sederetan bangunan tua yang tak lagi indah sehingga harus diruntuhkan secara baik-baik maupun paksa atas nama pembangunan. Ganti rugi, seolah sudah pencapaian terbaik pemerintah dalam mewujudkan ambisinya. Jika sudah ambisi yang bicara, tentulah nilai historis kota lama Kendari bukan sesuatu yang layak diperhitungkan, apalagi diperjuangkan.

Sejak peruntuhan Gedung Teater/Bioskop kota lama Kendari bulan Februari 2015 lalu, sudah bisa dipastikan bahwa proyek ambisi Sang Gubernur bukan lagi sebuah wacana tetapi sebuah rencana yang harus segera terwujud sebelum akhir masa jabatannya.

Menurut Basrin Melamba, MA dalam bukunya “TOLAKI Sejarah, Identitas dan Kebudayaan”, bahwa gedung bioskop kota Lama Kendari ( bangunan eks Zeending School peninggalan bangsa kolonial) memiliki nilai sejarah tinggi bagi masyarakat Kendari. Pada tahun 1955 disaat konflik politik dan keamanan tokoh-tokoh masyarakat Kendari dan sekitarnya melakukan pertemuan untuk membentuk pasukan swakarsa demi menjaga serta melindungi masyarakat dari situasi saat itu. (Baca selengkapnya : Kota Lama Kendari, Warisan yang Terampas Ambisi Pembangunan Jembatan)

Seolah arus protes dari masyarakat yang menolak penggusuran kota lama Kendari didengar oleh penguasa Sulawesi Tenggara, sejak diruntuhkannya gedung teater tersebut, kota lama Kendari tak lagi terusik oleh buldozer. Tetapi berubah diusik oleh intimidasi.

“Bagi warga kota lama yang hingga sekarang bersikukuh mempertahankan bangunannya dari penggusuran, Intimidasi pun dilancarkan. Warga diintimidasi dengan pemutusan aliran listrik, air dan uang ganti rugi dititipkan di kejaksaan,” ujar Jefry Tanjung, Ketua Komunitas Masyarakat Kota Lama Kendari yang sangat getol memperjuangkan eksistensi kota lama (Baca berita sebelumnya : Pernyataan Sikap Komunitas Masyarakat Kota Lama)

Sebagai bentuk protes atas intimidasi yang mereka terima, Komunitas Masyarakat Kota Lama Kendari melakukan demo, dengan harapan suara mereka didengar oleh penguasa. “Demo ini sebagai bentuk pendorong kesadaran publik Kendari bahwa kota lama adalah bagian sejarah kota ini, dan agar pemerintah tahu bahwa kami tidak setuju penggusuran kota lama Kendari,” jelas Koh Toy, salah satu pendemo.

Menurut pantauan Cendana News, demo yang dilakukan pada hari Senin (19/10/2015) diikuti oleh beberapa orang saja. Perihal jumlah demonstran yang sangat kecil, Jefry Tanjung menjelaskan bahwa hal ini dipengaruhi semakin sedikitnya jumlah masyarakat kota lama yang menolak penggusuran.

“Sekarang ini hanya sisa 25 KK saja yang menolak penggusuran,” jelasnya.

Menurut Jefry, banyak yang akhirnya menyetujui menerima ganti rugi karena terpaksa. Sebagian besar dari mereka terpaksa menerima karena rumah sebelahnya sudah terima ganti rugi, jadi mereka pun harus ikut menerima karena tidak mungkin bangunannya berdiri sendiri jika sebelah kanan kiri sudah terima ganti rugi yang artinya sudah siap dijadwalkan untuk diruntuhkan.

“Wacana tentang pembangunan mega proyek Jembatan Bahteramas kan sudah sejak lama, tapi eksekusinya baru-baru sekarang ini karena memang selama ini kami melawan, tetapi sebagai bentuk antisipasi, sebagian dari pengusaha emas dan perak, mereka sudah menyiapkan toko di depan Pasar Sentral, tapi mereka juga masih bertahan untuk tinggal di kota lama,” lanjut Jefri.

Dihubungi di tempat yang sama, Anselmus A.R Masiku SH pengacara Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kendari yang memberikan advokasi kepada Komunitas Masyarakat Kota Lama Kendari mengatakan bahwa sesuai janji kampanye Nur Alam ketika mencalonkan diri sebagai Gubernur Sulawesi Tenggara, ia berjanji tidak akan menggusur kota lama.

“Lepas dari masalah diingkarinya janji kampanye, banyak ahli sejarah Sultra yang menolak penggusuran kota lama, petisi agar kota lama didaftarkan sebagai cagar budaya pun sudah dilakukan, kami akan konsisten perjuangkan itu,” lanjutnya. (Baca berita sebelumnya : Pemerintah Tidak Paham Undang-Undang dengan Menggusur Kota Lama Kendari)

Walaupun secara gamblang, para sejarawan dan ahli hukum di Kendari menyuarakan bahwa pemerintah bisa dipidanakan. (Baca selengkapnya : Dalam Hal Pembongkaran Kota Tua Kendari Pemprov Sulawesi Tenggara Berpotensi Pidana). Tetapi ambisi yang dikemas dalam dalih “pembangunan yang dilaksanakan diharapkan berimbas pada peningkatan kesejahteraan rakyat” tetap saja dilakukan, walaupun rakyat yang merasakan langsung imbas dari penggusuran kota lama telah memprotesnya. Pemprov Sulawesi Tenggara butuh menjelaskan, rakyat mana yang mereka maksudkan.

RABU, 21 OKTOBER 2015
Jurnalis : Gani Khair
Foto : Gani Khair
Editor : Sari Puspita Ayu

Lihat juga...