GKM Mangkubumi: Pertahankan Motif Asli Batik dalam Berinovasi

GKR Mangkubumi (tengah)
YOGYAKARTA — Memperingati 6 tahun penobatan batik sebagai representatif budaya tak benda warisan manusia oleh UNESCO sekaligus Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2009, Kota Jogja menggelar pameran yang bertajuk “Jogja Kota Batik Dunia” di Pageralan Keraton Yogyakarta.
Selain itu, juga memperingati ditetapkannya Ibukota Provinsi Yogyakarta tersebut sebagai kota batik dunia oleh World Craft Council (WCC) pada tahun 2014.
Selain memamerkan produk batik dari kain, dalam Festival ini juga menghadirkan produk-produk inovasi batik dari berbagai media. Seperti payung bermotif batik, gitar, buku bermotif batik, dan banyak lagi. 
Festival yang akan berlangsung sampai 6 Oktober 2015, dibuka resmi oleh GKR Mangkubumi, putri sulung Sultan HB X, yang juga merupakan Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DIY ini, dan didampingi sejumlah pejabat kedinasan terkait.
Dalam festival itu, GKR Mangkubumi menyampaikan pesan kepada para muda generasi penerus untuk tetap mempertahankan motif asli dan motif dasar batik dalam membuat karya-karyanya. 
“Motif dasar itu adalah motif klasik dan tradisional yang harus digunakan sebagai pijakan dan tidak boleh ditinggalkan”, tegasnya.
Dengan lebih menggali dan tetap mengakomodasi motif klasik, Mangkubumi mengatakan, karya batik jutsru akan semakin menjadi khas dan perpaduan motif dasar dengan motif inovasi itu juga akan semakin memperkaya produk batik. 
“Pengembangan batik dengan beragam kreasi dan inovasi, seyogyanya tidak meninggallkan motif dasar atau pola yang dimiliki sendiri. Apa pun medianya, harus tidak lepas dari motif tradisional”, ujarnya lagi.
Setelah dinobatkan sebagai kota batik dunia, sambung Mangkubumi, masyarakat wajib turut mengembangkan dan menjaga keletariannya. Utamanya, batik tradisional. 
Lebih jauh, Mangkubumi menjelaskan, ditetapkannya Jogja sebagai kota batik dunia oleh Badan Kerajinan Dunia atau World Craft Council (WCC) pada bulan Oktober 2014, itu antara lain karena nilai sejarahnya dan orisinalitas atau keaslian batik, termasuk di dalamnya penggunaan bahan non kimia dan ramah lingkungan.
Selain mengadakan festival dan berbagai pameran batik, dalam perayaan hari batik nasional ini seluruh pejabat di semua instansi di Yogyakarta diimbau untuk mengenakan baju batik. 
Sementara itu, Hari Batik Nasional yang diperingati mengacu pada ditetapkannya batik sebagai hasil budaya tak benda warisan manusia asli Indonesia oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009. 
Batik sebagai kerajinan khas dimaksud adalah jenis batik tulis dan bukan batik cap. Di Yogyakarta, sebagaimana diakui dunia, merupakan sentra batik asli tulis canting yang masih pula memiliki nilai sejarah. Peringatan hari batik nasional juga ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009.
beragam batik yang dipamerkan
JUMAT, 02 Oktober 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...