Harga Bensin di Yahukimo Mencapai Rp 150 ribu perliter

Pengisian BBM Premium dan Solar di TBBM Pertamina Jayapura
JAYAPURA — Anda pasti sudah biasa mendengar naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis permium atau bensin, dengan selisih harga seribu hingga tiga ribu rupiah. Bagaimana dengan harga bensin yang ini, perliternya dihargai Rp 150 ribu dan hanya ada di Kabupaten Yahukimo. Bukan hanya bensin, harga minyak tanah juga naik hingga Rp 50 ribu perliter.
Dari kedua jenis BBM ini, jenis bensin sangat dirasakan masyarakat yang berada di kabupaten tersebut. Pasalnya, pengoperasian kendaraan roda dua dan roda empat menjadi transportasi darat paling utama.
Sementara, BBM jenis minyak tanah sendiri, tidak terlalu dirasakan masyarkat, lantaran penduduk di Dekai, ibukota Kabupaten Yahukimo tersebut hampir keseluruhan menggunakan sarana kayu bakar untuk memasak.
Salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Yahukimo, Esau Miram mengaku lonjakan harga yang terjadi akibat dari musim kemarau yang telah berlangsung sejak bulan Juni lalu.
“Ini akibat musim kemarau, akibatkan sungai Braka di Dekai, Yahukimo alami air surut, jadi kapal perintis pengangkut BBM tidak dapat masuk,” kata Esau kepada Cendana News, Senin (19/10/2015).
Kapal perintis Yahukimo I, lanjutnya, sudah tidak memasok BBM bensin dan minyak tanah, ditambah dengan adanya penimbunan dari oknum pengusaha-pengusaha nakal yang notabene mencari keuntungan dalam situasi tersebut.
“Sebelum naik, harga normal bensin Rp 15-20 ribu perliter. Sekarang naik berapa kali lipat menjadi Rp 150 ribu. Bukan hanya itu, stok beras, gula di sini  habis. Musim kemarau ini tidak berdampak ke tanaman yang ada di Yahukimo, hanya berdampak di transportasi pengantar sembako dan bahan bahar,” ungkapnya.
Selain bensin, menurutnya, minyak tanah juga alami kenaikan harga, harga normalnya Rp 10 ribu, kini naik menjadi Rp 50 ribu perliter. Menurutnya, BBM jenis minyak tanah di Yahukimo yang menggunakan masyarakat menengah keatas, sementara menengah kebawah sebagian besar gunakan kayu bakar.
“Jadi tidak terlalu terlihat dampak naiknya harga minyak tanah. Yang paling dirasakan, naiknya harga bensin, karena rata-rata masyarakat disana gunakan kendaraan motor, walaupun sebagian besar masyarakat berjalan kaki,” kata Esau yang juga Sekretaris Partai Nasdem Kabupaten Yahukimo.
Ia mengkritik pemerintah daerah setempat akibat naiknya BBM di Yahukimo. Lantaran, dua musim yang ada di kabupaten tersebut yakni musim kemarau dan hujan. Untuk musim kemarau, lanjutnya, biasanya berlangsung pada bulan Juni hingga Desember. Sedangkan untuk musim hujan, pada bulan Desember hingga Mei.
“Sudah seharusnya pemerintah antisipasi hal ini, sebelum kelangkaan sembako dan BBM terjadi. Ditambah lagi, ada BBM bersubsidi dari pemerintah, tapi ada indikasi terjadi penimbunan BBM tersebut. Sehingga penyaluran kemasyarakat tidak terlihat, ini adalah satu kelalaian pemerintah,” katanya.
Tak hanya Esau, anggota perwakilan rakyat kabupaten yang sama, Arman K.Keromam juga mengaku bensin merupakan BBM yang paling dibutuhkan di Yahukimo, bila dibanding solar.
“Kendaraan di Yahukimo baik itu motor maupun mobil menggunakan bensin, yang menggunakan solar hanya para pengusaha saja yang memiliki alat berat. Kalau solar, harga sebelumnya Rp 10 ribu, kini naik menjadi Rp 15 ribu perliter,” kata Arman.
Harga sembako, lanjutnya, seperti beras bulog, sebelumnya Rp 10 ribu perkilo, kini naik menjadi Rp 25 ribu perkilo. “Kalau gula pasir naik dari Rp 25 ribu menjadi Rp 40 ribu,” ujarnya.
Kondisi ini, menurutnya telah berlangsung dalam dua bulan terakhir, dan belum ada realisasi dari pemerintah daerah setempat, untuk mencari solusi atasi naiknya harga BBM dan sembako di kabupaten Yahukimo.
SENIN, 19 Oktober 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Foto            : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...