Heri Santoso: Hingga Kini, Ideologi Komunis Masih Mengancam Pancasila

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila
YOGYAKARTA — Meski dendam terhadap kekejaman PKI masih ada, namun sayangnya, generasi muda saat ini justru lebih banyak melupakan sejarah, terutama sejarah pahit pemberontakan G.30.S/PKI.
Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada Yogyakarta , Dr. Heri Santoso saat memberikan sambutan dalam upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di halaman luas Monumen Pahlawan Pancasila, Yogyakarta, Kamis (01/10/2015).
Disebutkan juga, generasi muda sekarang, bahkan banyak yang lupa soal simbol Pancasila. 
“Saya pernah melihat ada mahasiswa menggambar burung garuda menengok ke kiri. Seharusnya menengok ke kanan. Lalu, bintang di tengah seharusnya ada 5, tapi digambar cuma 4”, ujar Heri.
Dengan fakta getir itu, Heri menandaskan jika diperlukan kerja keras, gotong dan keiklasan untuk mengembangkan nilai-nilai Pancasila. Sejak 50 tahun pasca G.30.S/PKI, Pancasila menjadi diskusi serius. Pancasila harus dikaji dan dikembangkan sesuai zaman.
Heri mengingatkan, sejak upaya menggulingkan dasar negara Pancasila oleh PKI, mulai dari pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, ideologi komunis masih bisa mengancam sampai saat ini jika kemiskinan dan ketidakadilan masih dialami oleh bangsa ini.
Dikatakan Heri, ideologi komunis tidak bisa diterima karena anti Tuhan dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.  Kendati semua itu sudah berlalu, katanya, namun jika generasi muda kehilangan orientasi masa lalu, bangsa ini bisa kembali mengalami kejadian serupa. 
“Bung Karno mempopulerkan semboyan Jas Merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Peristiwa G.30.S/PKI adalah peristiwa tragis, dan dendam kepada komunis itu masih ada di keluarga korban kebiadaban PKI”, ujar Heri.
Mereka para korban PKI, sambung Heri, adalah TNI, kaum nahdliyin, dan bahkan yang tidak bersalah pun ikut menjadi korban. Dan dalam kajian sejarah, peristiwa itu disinyalir ada keterlibatan asing. 
Sementara itu, faktanya saat ini banyak aset-aset nasional telah dikuasai asing. Bahkan sekarang ini, sambungnya lagi, berdasarkan penelitiannya mengungkap jika ada sekelompok orang yang menganggap menghormat kepada bendera merah putih itu adalah musyrik.
“Karena itu, kita harus kerja keras dan cerdas. Jangan sampai kita menjadi kuli lagi di negeri sendiri. Kerja iklas  dengan bimbingan Alloh”, pungkas Heri. (koko)
Gelar peringatan dimulai malam hari sebelumnya, dengan gelar tahlil dan doa bersama. Lalu pada pagi harinya, Kamis (1/9/2015), digelar upacara bendera. Dalam gelar tahlil yang dihadiri Asisten Pemda DIY, Kepala Dinas Perindagkop Provinsi DIY, Kejaksaan Tinggi Negeri, Danrem 072/Pamungkas dan sejumlah pejabat kedinasan di Yogyakarta.
KAMIS, 01 Oktober 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...