Indahnya Taman Pemandian Raja Keraton Yogyakarta Abad 18 Masehi

Segaran Tamansari
YOGYAKARTA — Obyek Wisata yang satu ini, sarat dengan kisah kemegahan Raja-raja Mataram abad 18 Masehi. Namanya, Kolam Pemandian Taman Sari. Berada di kampung Taman Sari, Patehan, Keraton, Yogyakarta, masih dalam kawasan dan pada zamannya merupakan bagian dari Keraton.
Kolam Pemandian Taman Sari, menjadi satu-satunya bekas pemandian raja dan kerabat Keraton Yogyakarta zaman dahulu yang masih bisa dilihat kemegahannya. Nuansa kuno bangunannya masih sangat terasa. Kendati berada di tengah perkampungan padat, keberadaan Kolam Pemandian masih sangat terjaga kenyamanannya.
Taman Sari atau yang pada awalnya disebut Segaran Taman Sari, dan yang oleh orang Belanda pada waktu itu disebut Water Castle, mulai dibangun pertama kali oleh Sultan HB I pada tahun 1756 Masehi. Tak hanya dibangun sebagai tempat rekreasi, Taman Sari juga diperuntukkan sebagai tempat tetirah atau bersemadi sang raja. 
Sebagai tempat rekreasi yang dibangun pada masa peperangan, Taman Sari juga dilengkapi dengan bangunan-bangunan pengintai musuh dan lorong pertahanan untuk melindungi raja dari kemungkinan serangan mendadak. Demikian diungkapkan Slamet, salah seorang pemandu wisata kawasan Keraton Yogyakarta.
Taman Sari dengan keelokannya yang tampak sekarang, kata Slamet, merupakan hasil pemugaran yang dilakukan pada tahun 2000. Sebelumnya selama bertahun-tahun, Taman Sari sempat terlantar. Ada beberapa bagian di komplek Kolam Pemandian itu. Pertama sebuah gapura megah, yang merupakan pintu masuk yang mengantarkan pengunjung ke sebuah halaman luas dengan empat bangunan berukuran sedang. Dua di antaranya di sisi kiri dan dua lainnya di sisi kanan. Bangunan tersebut pada zamannya berfungsi sebagai tempat gamelan yang mengiringi penari-penari yang biasa menghibur raja bersama selir-selirnya ketika sedang beristirahat.
Sesudah melewati halaman luas itu, ada lagi satu gapura yang berhiaskan relief kalamakara atau kepala raksasa, yang menurut Slamet merupakan simbol penolak bala. Gapura itulah pintu masuk menuju Kolam Pemandian.
Slamet menjelaskan, kolam pemandian di Taman Sari terbagi menjadi tiga bagian. Yaitu kolam bagian utara yang disebut Umbul Muncar dan diperuntukkan bagi putra-putri raja, dan kolam bagian tengah yang disebut Umbul Binangun yang diperuntukkan bagi para selir raja. Sedangkan satunya lagi adalah Umbul Pamungkas yang berada di bagian paling selatan. 
“Ini merupakan kolam khusus bagi permaisuri raja”, kata Slamet.
Sementara itu, lanjutnya, tepat di antara Umbul Pamungkas dan Umbul Binangun itu terdapat bangunan tiga tingkat dengan satu buah ruangan di sisi kiri kanannya. Tingkat paling atas merupakan tempat penyimpanan pusaka kerajaan. Tetapi sejak masa pemerintahan Sultan HB III, katanya, pusaka tersebut dipindahkan ke Gedong Pusaka di dalam Keraton.
Mengingat Kolam Pemandian Taman Sari juga dibangun sebagai tempat tetirah dan bertapa sang raja, maka Taman Sari pun tak lepas dari kisah berbau mistis. Bahkan, menurut Slamet, ada satu tempat di bagian dalam Taman Sari itu yang masih dikeramatkan. Namanya, Pasarean Ledoksari, yang menurut Slamet merupakan bangunan pertama yang didirikan Sultan HB I ketika hendak membangun Taman Sari. Letaknya tidak jauh dari Pasiraman Umbul Binangun yang sering dilintasi wisatawan.
“Pasarean Ledoksari itu dulu digunakan sebagai tempat peristirahatan Sultan kalau sedang berada di Taman Sari. Pesarean berarti tempat peristirahatan raja. Bangunan ini dianggap keramat, karena merupakan bekas tempat khusus raja”, ujarnya.
Masih menurut Slamet, Pesarean Ledoksari sebenarnya merupakan bangunan induk. Di dalamnya terdapat dua buah tempat kamar tidur, sementara di sebelah baratnya terdapat kamar kecil yang dilengkapi dengan toilet dan kamar ganti yang berada di kanan dan kirinya. Lalu di sebelah baratnya lagi, jelas Slamet, merupakan ruang dapur yang disebut Gedung Madaran. “Di dalamnya terdapat tungku-tungku besar yang dibuat dari batu beserta tempat penyimpanan perkakas dapur”, pungkasnya. 
Gapura Masuk Tamansari
MINGGU, 11 Oktober 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...