IPPMASSI: Dunia Pendidikan di Ambon Sangat Memprihatinkan

Sekolah di Negeri Lima, Kabupaten Maluku Tengah
AMBON — Dunia pendidikan di Maluku sangat memprihatinkan. Utamanya di Desa Negeri Lima Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Sejak 2013 dimana bencana jebolnya DAM Alami Wae Ela meluluhlantakan pemukiman Desa tersebut termasuk fasilitas empat unit gedung sekolah hilang. Sampai detik ini para siswa di empat sekolah itu tetap melaksanakan kegiatan belajar-mengajar di tenda buatan BNPB.
Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah dan Pemerintah Provinsi Maluku terkesan tutup mata dengan masalah pendidikan anak-anak di Desa Negeri Lima.
Halid Sanaky
Menyikapi masalah ini Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Negeri Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Siri Sori Islam (Kabid PPN IPPMASSI) Ambon, Halid Sanaky kepada Cendana News di Ambon, Minggu (18/10/2015), mengkritik pemerintah yang tidak punya niat baik membangun pendidikan di Maluku.
” Bencana Dam Wae Ela sudah berlangsung sejak Juli 2013, tapi sampai sekarang empat sekolah yang hancur belum juga dibangun. Ini menandakan pemerintah tidak memiliki niat baik membangun dunia pendidikan di Maluku,” kritiknya.
Disesalinya, jumlah siswa sebanyak 533 orang asal tiga sekolah tersebut, sampai sekarang dibiarkan untuk aktivitas belajar-mengajar di tenda pengungsi yang dibangun BNPB. Disebutkan, untuk SD Inpres Desa Negeri Lima sebanyak 163 orang. SD Negeri 1 Desa Negeri Lima 185 orang, dan SDN 2 Desa Negeri Lima 185 orang.
“Sampai kapan pemerintah membiarkan nasib anak-anak Negeri Lima. Di sana, ratusan siswa Desa Negeri Lima masih pakai tenda pengungsi untuk belajar-mengajar,” ungkap Halid kesal.
Padahal, lanjut Halid, baik Pemprov Maluku maupun Pemkab Maluku Tengah sudah berjanji akan membangun gedung sekolah yang hilang saat bencana naas melanda Desa Negeri Lima dua tahun lalu.
“Bupati Maluku Tengah Abua Tuasikal berjanji untuk bangun tiga sekolah itu pada Agustus 2015. Pemprov Maluku juga berjanji secepatnya akan membangun sekolah-sekolah yang hancur tersebut. Buktinya, di lapangan pemerintah membohongi anak-anak Negeri Lima,” tegasnya.
Untuk itu, Halid meminta kepada Pemerintah Pusat dalam hal ini Kemendikbud RI segera melihat kondisi 533 anak-anak asal Desa Negeri Lima yang sampai detik ini tetap menggunakan tenda pengungsi BNPB untuk aktivitas belajar-mengajar.
“Harapan kami, pemerintah pusat bisa turun tangan untuk membangun sekolah-sekolah di Desa Negeri Lima guna menyelamatkan anak-anak bangsa yang kini sengsara mengenyam pendidikan di tenda pengungsi sudah dua tahun lebih,” cetusnya.
MINGGU, 18 Oktober 2015
Jurnalis       : Samad Vanath Sallatalohy
Foto            : Samad Vanath Sallatalohy
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...