ISTAP Ke-6 di UGM Yogyakarta Diharap Lahirkan Rekomendasi Baru

Seminar ISTAP Ke-6 di UGM
YOGYAKARTA — Setelah pertanian, bidang peternakan  kini sedang digencarkan untuk bisa dijadikan sumber kekuatan perekonomian bangsa. Menteri  Pembangunan Desa Tertinggal, Marwan Ja’far mengatakan, saat ini pemerintah sedang melakukan proyek percontohan peternakan berbasis teknologi di 15 kabupaten di Indonesia.
Marwan Ja’far mengatakan hal itu usai membuka seminar internasional ke-6 tentang produski peternakan hewan tropis atau International Seminar On Tropical Animal Production (ISTAP) Ke-6 di Auditorium Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta, Selasa (20/10/2015).
Didampingi Ambar Pertiwiingrum, Direktur Pusat Studi Pengembangan Persediaan dan Ilmu Peternakan UGM, Marwan mengatajan jika pihaknya pun telah melakukan proyek pengembangan peternakan berbasis teknologi yang salah-satunya ada di Sumba dan 15 kabupaten lainnya di Indonesia. 
Dengan adanya seminar internasional yang membahas tentang peternakan itu, Marwan berharap akan muncul rekomendasi-rekomendasi penting yang sekiranya diperlukan dan bermanfaat dalam pengambilan kebijakan.
“Apalagi jika rekomendasi itu bersifat internasional, sehingga semakin bisa menguatkan kerjasama inyernasional di bisang peternakan”, harap Marwan.
Diakui Marwan, produksi peternakan di Indonesia masih tradisional, sehingga perlu pembinaan sumber daya manusia agar mampu menggunakan teknologi. Namun demikian, bukan berarti yang tradisional itu jelek. Malahan, yang tradisional itu menjadi fundamen dan karakter bidang peternakan Indonesia.
 “Tentu jika yang tradisional itu dikolaborasikan dengna  yang modern berbasis teknologi, maka diharapkan hasilnya akan semakin bagus,” ujarnya.
Seminar ITAP Ke – 6, diikuti oleh 200 peserta termasuk dari15 negara. I Gede Suparta Budisatria, ketua panitia seminar mengatakan, seminar digelar dua hari sejak hari ini. 
“Ada 160 bahasan akan dipresentasikan salam seminar ini,” pungkasnya. 
SELASA, 20 Oktober 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...