Jamasan Kereta Kuda Kencana Keraton Yogyakarta

Jamasan Kereta Kyai Jongwiyat

YOGYAKARTA — Keraton Yogyakarta menggelar upacara jamasan pusaka kereta kuda kencana keraton di halaman Museum Kereta Kestalan, Jalan Rotowijayan. Upacara tradisi yang sudah berlangsung sejak Kesultanan Yogyakarta berdiri pada 1755 silam, selalu dipadati ratusan pengunjung dari berbagai daerah. Warga masih meyakini, jika sisa air jamasan kereta bisa menjadi sarana doa yang mabrur.
Warga menggunakan air sisa jamasan untuk mandi yang diyakini bisa membuang sial dan awet muda. Ada pula yang meyakininya bisa menyembuhkan penyakit. Tak hanya menggunakannya di tempat, warga juga membawa sebagian air jamasan dalam botol-botol bekas minuman dan jirigen. Setelah dibawa pulang, air sisa jamasan biasanya akan dimasukkan ke dalam sumur, disiramkan di pekarangan rumah atau di sawah.
Dalam setiap pelaksanaan tradisi jamasan kereta kuda kencana, keraton selalu menjamas dua kereta kuda di depan umum. Tahun ini, Keraton menjamas Kereta Kuda Kencana Kanjeng Nyai Jongwiyat dan Kereta Kuda Kencana Kyai Wimono Putro.
Kereta Kyai Jongwiyat merupakan peninggalan Sultan HB VII. Buatan Den Haag, Belanda tahun 1880, yang pada zamannya digunakan oleh seorang manggala yudha atau panglima perang. Sementara itu, Kereta Kuda Kanjeng Kyai Womono Putro merupakan warisan zaman Sultan HB VI, yang juga buatan Belanda tahun 1860. Kereta tersebut pernah digunakan dalam upacara penobatan Sultan HB VII. Karena itu, pada kedua pintu kereta terdapat tulisan HB VII. Sebagai kereta kencana putra mahkota yang hendak dilantik, kereta tersebut tampak gagah yang pada zamannya ditarik oleh enam ekor kuda. 
Tradisi jamasa kereta Keraton Yogyakarta, diselenggarakan setiap bulan Suro pada hari Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Dalam kepercayaannya, hari pasran Kliwon dalam perhitungan kalender Jawa, merupakan hari dengan nilai paling tinggi dan dianggap istimewa. 

Bagian depan kereta Kyai Jongwiyat dijamas

JUMAT, 23 Oktober 2015
Jurnalis       : Ferry cahyanti
Foto            : Ferry cahyanti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...