Jemaah Ahmadiyah, Sembilan Tahun di Pengungsian Tanpa Kepastian

Dua anak Jemaah Ahmadiyah nampak sedang bermain di asrama Transito Kota Mataram
MATARAM — Hidup di pengungsian dan menjalani hidup dalam keterbatasan mungkin tidak akan pernah diinginkan oleh setiap orang terjadi dan menimpa kehidupannya, setiap orang atau kelompok masyarakat tertentu sudah pasti mendambakan kehidupan yang aman, nyaman dan damai, terbebas dari rasa takut termasuk kemiskinan.
Demikianlah yang dialami warga Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) Lombok, semenjak terusir dari kampung halamannya di Dusun Mesanggok, Desa Ketapang Kabupaten Lombok Barat, nasib warga JAI Ketapang terkatung – katung tanpa ada kepastian dan sampai kapan akan tetap berada di lokasi pengungsian di asrama Transito Kota Mataram.
“Tahun ini genap sembilan tahun sudahwarga JAI Desa Ketapang, Kabupaten Lombok Barat berada di lokasi pengungsian sejak terusir tahun 2008 dulu dan entah sampai kapan itu akan terus berlansung tanpa ada kepastian,” kata Ketua JAI asrama Transito Kota Mataran, Sahidin, Senin(18/10/2015).
Sahidin mengatakan, dulu pernah warga JAI sempat pulang dari lokasi pengungsian ke kampung halaman, tapi oleh warga diusir kembali, padahal itu kampung halaman kami, tapi hanya karena perbedaan harus terusir oleh kelompok warga arogan dan tidak menghargai perbedaan.
Terakhir Sahidin mengunjungi kampung halaman, areal persawahan dan bangunan perumahan yang dulu ditinggalkan sekarang sudah dipenuhi semak belukar yang tumbuh secara liar di bagian laur maupun dalam perumahan yang ditinggalkan.
Kayu bangunan perumahan berupa kusen maupun bagian jendela dan atap rumah juga sudah banyak yang hilang dicuri orang, yang nampak dan masih tersisa hanya tembok bangunan berantakan tidak beraturan, setelah dihancurkan warga saat melakukan penyerangan dan pengerusakan rumah milik warga JAI beberapa tahun lalu.
“Sekarang ini yang kami butuhkan adalah kepastian dari pemerintah, apakah akan dikembalikan ke kampung halaman atau tetap di lokasi pengungsian, kami butuh kepastian supaya bisa menjalani kehidupan layak sebagaimana warga lain,” ungkapnya.
Anwar, pemuda Jemaah Ahmadiah NTB mengatakan, perlakuan diskriminatif pemerintah dengan tidak adanya kepastian mengenai keberadaan puluhan kepala keluarga JAI yang sampai sekarang berada di lokasi pengungsian asrama Transito Kota Mataram, membuktikan kalau pemerintah tidak mau peduli dengan keberadaan warganya dan itu merupakan pelanggaran.
Padahal Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, sudah sangat jelas merekomendasikan kepada Pemda NTB maupun Pemkab Lombok Barat supaya menyelesaikan kasus kekerasan dan pengusiran yang dialami JAI.
“Kami ini juga warga negara yang memiliki hak yang sama mendapatkan keadilan, kehidupan layak serta terbebas dari ketakutan dan ancaman sebagaimana warga negara lain,”katanya.
SENIN, 19 Oktober 2015
Jurnalis       : Turmuzi
Foto            : Turmuzi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...