Kebakaran Menjadi Perhatian RS Jogja Wirosaban Yogyakarta

Evakuasi pasien hamil dalam simulasi kebakaran
YOGYAKARTA — Bahaya kekeringan yang bisa berimbas terjadinya kebakaran, menjadi perhatian jajaran pimpinan Rumah Sakit (RS) Jogja di Jalan Wirosaban No. 1, Yogyakarta. Terlebih bagi rumah sakit yang memiliki banyak instalasi listrik yang jika kurang mendapat perhatian bisa menyebabkan konsleting listrik yang berujung kebakaran. Karenanya, pihak rumah sakit secara berkala mengadakan simulasi bencana kebakaran di rumah sakit.
Direktur RS Jogja, Tuti Setyowati mengatakan, simulasi kebakaran saat ini menjadi penting di tengah keringnya musim kemarau saat ini. Kebarakan sebagai sebuah musibah atau bencana bisa menimpa apa pun, siapa pun dan di mana pun, sehingga bagi rumah sakit simulasi penanggulangan kebakaran sangat penting dilakukan secara berkala.
Tutut, demikian panggilan akrab orang nomor satu di RS Jogja tersebut, mengatakan  jika simulasi kebakaran di lingkungan kerjanya diadakan berkala setiap tiga bulan sekali. Kali ini, Sabtu (31/10/2015), simulasi diadakan di ruang Edelweis, lantai dua rumah sakit setempat. Adegan kebakaran diperankan oleh sejumlah karyawan, sekuriti, perawat dan dokter rumah sakit  yang dengan sigap segera melakukan evakuasi pasien ke tempat yang aman.
Diperankan dalam adegan itu, seorang ibu hamil tua yang langsung mendapat prioritas pertolongan, juga pasien yang mengalami serangan jantung akibat kejadian kebakaran. Kendati hanya simulasi, adegan tersebut tampak mencekam dengan kepulan asap tebal dari ruang atas.
Tutut mengatakan, rumah sakit harus selalu bisa menjamin keselamatan pasien. Maka berbagai kemungkinan bahaya yang mungkin bisa dan mungkin terjadi di lingkungan rumah sakit harus diantisipasi. Di RS Jogja, kata Tutut, berbagai ancaman besar dipetakan menjadi empat. Pertama kebakaran dengan kode merah, kedua pasien shock dengan kode blue atau biru, ketiga pasien terkunci di dalam kamar mandi dengan kode green, dan keempat penculikan bayi dengan kode pink. 
“Setiap karyawan wajib mengenakan kartu identitas yang dibaliknya ada catatan kode-kode bahaya itu. Tidak kecuali, para pimpinan dan jajaran direksi”, jelasnya.
Dengan simulasi yang diadakan secara berkala, lanjut Tutut, setiap karyawan dan jajaran direksi harus mampu melakukan berbagai upaya penanggulangan bahaya. Dalam hal simulasi kebakaran, katanya, kesigapan dinilai dari respon time atau cepatnya respon dan reaksi menanggapi menyalanya kode bahaya.
Selain sebagai agenda berkala untuk mengasah kesigapan karyawan, kata Tutut, simulasi kebakaran kali ini juha digelar dalam rangka HUT Ke-28 RA Jogja dan dalam rangka memperoleh Akreditasi Rumah Sakit dari Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) 2012. 
“Dalam penilaiannya, rumah sakit harus sesuai standar mutu dan mampu menjamin keselamatan pasien”, pungkasnya. 
SABTU, 31 Oktober 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...