Kebersamaan Masyarakat Pasuruan dalam Merayakan Malam Satu Suro

Perayaan satu syuro
LAMPUNG — Masyarakat Jawa asal Yogyakarta yang tinggal di Provinsi Lampung tepatnya yang berada di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan masih melestarikan tradisi malam satu suro dengan makan bersama di pusat atau jantung desa yang dilangsungkan oleh ratusan warga. 
Tokoh masyarakat yang ada di Dusun Sumbersari Desa Pasuruan, Nasrullah mengakui, tradisi ini sudah berlangsung bertahun tahun lalu. Sejak sore hari di malam yang sudah dipastikan sebagai malam satu Suro seluruh warga berkumpul di pertigaan jalan sambil membawa makanan yang dibawa dalam nampan dan diletakkan dalam daun pisang.
“Kami biasanya sudah umumkan sebelumnya agar setiap keluarga membawa makanan sesuai dengan kemampuan keluarga masing masing untuk dibawa ke pertigaan jalan kemudian didoakan berama sama,”ungkap Nasrullah kepada Cendana News, Selasa malam (13/10/2015).
Uniknya bagi anak anak kecil justru menjadi acara yang ditunggu karena momen saat merebut atau mengambil makanan yang dibawa masing masing keluarga merupakan saat istimewa. Sebagian besar anak anak akan duduk mengelilingi makanan beragam tersebut sementara orangtua berdiri di belakangnya.
Berdasarkan pantauan, para ibu ibu pada sore hari mulai memasak dengan hidangan berbagai jenis. Semuanya dijamin sangat enak untuk lidah warga di pedesaan apalagi anak anak yang pasti akan sangat antusias menyambut datangnya kegiatan ini. Nampan yang terbuat dari rangkaian pelepah pisang menjadi ciri khas dengan wadah wadah daun pisang yang dibuat menyerupai mangkok untuk meletakkan makanan yang biasanya memiliki menu: nasi, lauk pauk lengkap.
Pada malam hari di pertigaan jalan yang menghubungkan Dusun dari arah Timur ke Barat dan Selatan ke Utara sudah berkumpul ratusan warga. Tua muda, anak anak berdatangan dengan membawa nampan dari pelepah pisang, plastik atau berbagai wadah lain lengkap dengan makanan yang tersaji.
Oleh banyak warga dari generasi ke generasi acara ini dinamakan “Baritan”. Namun apapun istilahnya terlihat kebahagiaan terpancar dari wajah wajah anak anak yang ada di Dusun Sumbersari. Sebelum acara dimulai anak anak akan bermain di bawah temaram lampu jalan yang menerangi tempat akan dilangsungkannya acara.
Setiap keluarga yang datang biasanya membawa porsi makan sesuai jumlah keluarga yang ada di masing masing Rumah Tangga kadang juga memberi lebih. Tradisi ini menurut Nasruloh meski kental dengan nuansa Islami dan memang demikian namun kentalnya tradisi Jawa menjadikan tradisi ini tetap lestari. Bahkan dalam pengalaman dari tahun ke tahun simbol simbol tersebut menjadi lebur karena kebersamaan, silaturahmi.
Kebersamaan, melestarikan tradisi dari generasi untuk menjalin silaturahmi membuat acara ini tak lekang oleh waktu dan tak tergerus oleh modernisasi. Bahkan generasi yang ada di perantauan selalu merindukan saat saat seperti ini.
Setelah ratusan warga berkumpul maka hidangan yang diletakkan di jalan dengan arah Barat-Timur, Selatan-Utara tersebut dikelilingi oleh warga. Tetua kampung akan memberikan kesempatan untuk memimpin doa yang dilantunkan menurut agama yang dianut oleh warga. 
“Acara ini memang sederhana namun memberi nilai kebersamaan bagi warga di sini yang beragam suku dan agama. Intinya ikut merayakan tahun baru yang akan diperingati,”ungkap Nasrulloh.
Setelah makan bersama kegiatan pada malam hari juga akan diisi dengan acara “melekan” atau begadang semalam suntuk. Para pemuda, kaum tua terkadang memenuhi gardu atau rumah penduduk untuk melakukan aktifitas bersama menghabiskan malam satu Suro. Berdasarkan rencana pada esok hari pun akan diadakan pertunjukan kesenian untuk semakin memeriahkan perayaan tahun baru Hijriyah atau malam satu suro yang masih dilestarikan di desa ini.

RABU, 14 Oktober 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...