Kemarau, Talas Pilihan Pengganti Makanan Non Beras

LAMPUNG — Kebutuhan akan makanan berbahan beras masih bisa diperoleh bagi warga di Provinsi Lampung. Namun musim kemarau berkepanjangan mengakibatkan sebagian petani padi mengalami gagal panen dan tak memiliki stok gabah cukup banyak sepanjang musim kemarau ini. Kondisi tersebut tak dikuatirkan warga di Desa Gandri Kecamatan Penengahan yang memiliki lahan perkebunan pisang yang mulai mengering. Sebab di sela sela pohon pisang warga masih menanam tanaman jenis umbi umbian berupa talas, uwi dan mbili. Bahkan beberapa masih menanam ganyong, ubi jalar, ubi kayu meski pertumbuhannya agak terhambat.
Salah satu warga di Desa Gandri, Suwarno (35) mengaku sudah menanam berbagai jenis umbi umbian sejak beberapa tahun lalu. Ia menanam berbagai jenis tanaman umbi tersebut selain sebagai bahan makanan juga untuk persiapan saat musim kemarau melanda terutama saat ia tak bisa menggarap lahan pertanian sawah miliknya.
“Saya tetap menanam talas atau orang di sini mengenal Mbothe, ubi kayu serta uwi yang merambat di pohon pohon, selain tak perlu perawatan khusus ini bisa digunakan sebagai bahan makanan,”ungkapnya kepada Cendana News, Jumat (30/10/2015).
Suwarno mengaku tak bisa dipungkiri kebutuhan akan bahan makanan di musim kemarau ini tak bisa berfokus pada satu jenis bahan makanan karena sebagian besar tanaman susah tumbuh. Ia mencontohkan tanaman pisang miliknya masih bisa tumbuh meski pertumbuhan buahnya tak maksimal, sementara untuk tanaman padi ia mengaku sudah tak memiliki harapan karena gagal panen. Harapan satu satunya ia mengaku mendapatkan beras dengan cara membeli dari hasil jerih payahnya sebagai buruh lepas harian.
“Kalau beras masih bisa kami peroleh dengan membeli saat saya dapat uang dari bekerja sebagai buruh bangunan, tapi ya kebetulan istri saya masih mau makan ubi serta talas hasil kebun saya,”ungkapnya.
Talas yang ditanam di pekarangan dan kebun tersebut diolahnya sebagai makanan dengan direbus dan terkadang dibuat sayur asem denagn dipotong kecil kecil.  Makanan non beras yang murah meriah tersebut ungkap Suwarno mungkin saat ini hanya dikonsumsi oleh kalangan bawah dan karena di kebun bisa diperoleh dengan mudah, Suwarno memilih makanan non beras tersebut untuk dimasak. 
Tanaman talas tersebut disaat musim kemarau ini sebagian besar tidak memiliki daun dan kering, namun jika digali kondisi umbi talas tersebut masih cukup baik dan layak dikonsumsi. Saat musim hujan dipastikan tanaman talas miliknya akan tumbuh kembali dan daun daunnya akan tumbuh sehingga akan terlihat di kebunnya banyak tanaman talas.
Hal yang sama juga diakui oleh Mujiono (45), warga yang masih memanfaatkan singkong untuk dibuat thiwul atau hasil olahan dari singkong yang sudah dikeringkan. Ia mengaku saat ini masyarakat masih memandang beras sebagai kebutuhan yang wajib ada setiap hari.
“Padahal selain beras seperyi thiwul dari singkong masih merupakan makanan yang bagus asal ditambahi dengan menu lauk pauk yang bergizi dan ini merupakan bentuk ketahanan pangan masyarakat secara tradisional yang sudah ada sejak dahulu,”ungkap Mujiono.
Ia mengakui konsep priyayi dan non priyayi juga mendukung peniadaan makanan non beras agar sirna dari meja makan masyarakat Indonesia. Dahulu golongan priyayi makan nasi, sementara non priyayi makan thiwul. Lebih ironis lagi manakala yang makan thiwul dipahami dan divonis sebagai kaum terbelakang. Ia justru memandang positif bagi yang masih menanam tanaman non beras sebagai bahan makanan. Sebab menurutnya makanan tradisional adalah solusi atau jalan keluar untuk menyelamatkan generasi dari kekurangan makan.
Program One Day No Rice Tak Berjalan
Sebelumnya pemerintah pernah mencanangkan gerakan One Day No Rice atau gerakan satu hari tanpa nasi sebagai bagian dari ketahanan pangan. Gerakan yang dicanangkan secara khusus di Lampung Selatan sejak tahun 2013 tersebut dari pantauan Cendananews.com bahkan tak berjalan dengan baik dan bahkan sama sekali tak berjalan.
Berdasarkan tujuannya, gerakan one day No rice tersebut untuk mengurangi tingkat ketergantungan beras dan men-substitusikannya dengan umbi atau biji-bijian tanpa mengurangi nilai gizi yang diperlukah oleh tubuh, mengubah pola pikir masyarakat  tentang kesetaraan gizi dari jenis makanan selain nasi dengan menggunakan bahan baku produk lokal.
“Awalnya gerakan tersebut akan diikuti masyarakat tapi nyatanya ya sebatas gerakan dan kita lihat saja di masyarakat kebutuhan atau konsumsi akan beras masih tetap banyak,”ungkap Mujiono.
Bahkan gerakan nasional One Day Rice melalui Penetapan Gerakan Sehari Tanpa Nasi di Pemda Kabupaten Lampung Selatan yang dilakukan pada setiap hari Jumat pun menurut Mujiono tidak sampai ke level bawah di masyarakat.
Beras merupakan makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia dan sudah menjadi ketergantungan bagi orang yang meng-konsumsinya sehingga ada istilah kalau belum makan nasi maka belum dikatakan makan. Istilah dan konsep ini perlu diluruskan agar dapat dipahami secara proporsional. 
“Kalau saya meskipun tak ada gerakan semacam itu sejak dahulu pola makana sehari tanpa nasi sudah biasa tapi jika dijadikan gerakan sepertinya belum jadi kenyataan di masyarakat,”ungkapnya.
Ia berharap instansi terkait bisa lebih menggalakkan agar masyarakat yang memiliki lahan bisa menanam tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan non beras, bukan sekedar untuk program pemerintah semata tapi untuk kebutuhan masyarakat terutama saat musim kemarau apalagi penanaman tanaman pangan non beras merupakan bentuk ketahanan pangan mandiri masyarakat.
JUMAT, 30 Oktober 2015
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Jurnalis       : Henk Widi
Bergabung dengan Cendana News pada bulan November 2014. Dengan latar belakang sebagai Jurnalis lepas di beberapa media dan backpacker, diawal bergabung dengan Cendana News, Henk Widi fokus pada pemberitaan wisata dan kearifan lokal di wilayah Lampung dan sekitarnya.
Lihat juga...